Asupriatna’s Weblog

25 18000000Selasa22 2008

Kesulitan Belajar pada siswa ABK dan Solusinya

Filed under: Uncategorized — asupriatna @ 00.00

1. Kesulitan Belajar

Anak yang mengalami kesulitan belajar sering disebut dengan istilah learning problems atau learning difficulties adalah kelompok learning disabilities (LD) atau

Masalah kesulitan belajar dalam pendidikan kebutuhan khusus (special needs education), anak yang mempunyai kebutuhan khusus baik yang bersifat temporer maupun permanen akan berdampak langsung kepada proses belajar, dalam bentuk hambatan untuk melakukan kegiatan belajar (barrier to learning and development). Misalnya, kesulitan atau gangguan belajar ABK yang disebabkan akibat  gangguan penglihatan (tunanetra),  gangguan pendengaran dan bicara (tunarungu/wicara), kelainan kecerdasan (tunagrahita giffted dan genius),  gangguan anggota gerak (tunadaksa), gangguan perilaku dan emosi (tunalaras),  lamban belajar (slow learner),  autis, atau  ADHD akan berdampak terhadap proses pembelajaran sesuai dengan tingkat kesulitannya. Dalam diklat ini terfokus kepada pembahasan kesulitan belajar bagi ABK di sekolah dasar inklusi yang mengalami gangguan belajar spesifik yaitu disleksia.

Anak yang mengalami learning disabilities (LD) atau Specific Learning Diificulties (SLD) secara umum dapat diartikan suatu kesulitan  belajar pada anak yang ditandai oleh ketidakmampuan dalam mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya dan berdampak pada hasil akademiknya.  Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Anna Surti Ariani, Psi, LD dalam http://www2.kompas.com/ Jumat, 22 Juni 2007 yang mendefinisikan kesulitan belajar merupakan hambatan atau gangguan belajar pada anak atau remaja yang ditandai adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai oleh anak seusianya.

Anak LD atau SLD adalah masalah belajar primer yang disebabkan karena adanya defisit atau kekurangan fungsi dalam satu atau lebih area inteligensi. Penyebabnya gangguan neurologis dan genetik. Istilah LD atau  SLD hanya dikenakan pada anak-anak yang mempunyai inteligensia normal hingga tinggi. Gangguan ini merupakan gangguan yang kasat mata, berupa kesalahan dalam hal membaca (disleksia), menulis (disgrafia), dan berhitung (diskalkulia). Kesalahan yang terjadi akan selalu dalam kesalahan sama secara terus menerus, dan dibawa seumur hidup (long live disabilities).

Kelompok anak LD dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Menurut Cruickshank (1980) gangguan-gangguan tersebut adalah gangguan latar-figure, visual-motor, visual-perceptual, pendengaran, intersensory, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio-emosional, body image, dan konsep diri. Lain halnya pandangan Hammil dan Myers (1975) meliputi gangguan aktivitas motorik, persepsi, perhatian, emosionalitas, simbolisasi, dan ingatan. Ditinjau dari aspek akademik, kebanyakan anak LD juga mengalami kegagalan yang nyata dalam penguasaan keterampilan dasar belajar, seperti dalam membaca, menulis, dan atau berhitung.

Informasi mengenai gangguan/kelainan anak sangat penting, sebab dari beberapa penelitian terbukti bahwa anak-anak yang prestasi belajarnya rendah cenderung memiliki gangguan/kelainan penyerta. Survei terhadap 696 siswa SD dari empat provinsi di Indonesia yang rata-rata nilai rapornya kurang dari 6,0 (enam, nol), ditemukan bahwa 71,8% mengalami disgrafia, 66,8% disleksia, 62,2% diskalkulia, juga 33% mengalami gangguan emosi dan perilaku, 31% gangguan komunikasi, 7,9% cacat / kelainan anggota tubuh, 6,6% gangguan gizi dan kesehatan, 6% gangguan penglihatan, dan 2% gangguan pendengaran (Balitbang, 1996).

  1. 2. Karakteristik  Siswa Mengalami Kesulitan Belajar

Secara umum menurut Torey Hayden (2000) karakteristik  siswa berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan belajar dapat dilihat dari hal-hal berikut.

a. Banyak murid berkebutuhan khusus mengalami masalah di ruang kelas karena:

  • Mereka tak bisa membaca dengan baik
  • Mereka tidak memahami kuliah dan diskusi
  • Mereka tidak mudah mengonseptualisasi simbol, konsep, atau teori abstrak
  • Mereka kesulitan mengaitkan pengetahuan baru dengan apa yang sudah mereka ketahui
  • Mereka mungkin tidak cakap dalam keterampilan dasar yang diperlukan untuk pembelajaran, misalnya mempertahankan perhatian, menafsirkan makna suatu informasi baru, mengikuti petunjuk, dan mengelola perilaku

b. Murid berkebutuhan khusus sulit mengikuti instruksi karena:

  • Mereka mungkin tak mampu memusatkan perhatian dalam waktu yang cukup lama.
  • Mereka mungkin tak mampu melihat atau mendengar instruksinya.
  • Mereka mungkin tak mampu memahami arti perintah itu atau tak bisa membaca dengn baik.
  • Mereka mungkin tak mampu mengenali perilaku penting saat melihat contoh.

c. Beberapa murid memiliki kesulitan untuk berusaha menyelesaikan tugas secara konsisten. Hal ini bisa disebabkan oleh:

  • Mereka bekerja terlalu lambat dan memakan banyak waktu
  • Mereka tidak mampu mengantisipasi sumber-sumber dan materi-materi yang diperlukan.
  • Mereka mendapatkan masalah ditengah pengerjaan tugas dan enggan untuk meminta pertolongan. Atau, merka juga dapat kehilangan ketertarikan terhadap tugas tersebut dan menolak untuk melanjutkan pekerjaan tugas.

d. Tugas yang rumit memunculkan masalah beberapa murid berkebutuhan khusus, karena:

  • Mereka memiliki kesulitan untuk memecah perhatian pada lebih dari satu hal dalam waktu yng bersamaan.
  • Mereka lebih mudah terganggu.
  • Mereka melupakan petunjuk dan kebingungan menyelesaikan tugas.
  • Mereka menemukan banyak sekali detail-detail yang membingungkan mereka.
  • Beberapa materi petunjuk tidak diformat secara jelas di halaman atau buku petunjuk.

e. Murid-murid berkebutuhan khusus kesulitan menyimpan materi-materi pelajaran di kelas karena:

  • Mereka kekurangan kendali internal.
  • Mereka tidak mengerti apa yang diharapkan.
  • Mereka tidak dapat mengingat apa yang harus dilakukan.
  • Mereka tidak tahu bagaimana menyimpan materi-materi tugas agar mudah ditemukan.

f. Banyak murid berkebutuhan khusus yang tak bisa membaca sebaik teman-temannya:

  • Mereka mungkin masih mempelajari keterampilan pengenalan lambang dasar dan pengenalan kata atau strategi pemahaman, untuk membatu mereka memahami kata, frase, dan kalimat yang dibaca.
  • Ada materi tertulis yang memberikan tantangan lebih karena tidak tersusun dengan baik.
  • Mereka mungkin kesulitan menentukan gagasan utama atau apa yang penting diingat dalam informasi yang dibaca.
  • Mereka mungkin tersesat dalam detail dan bingung dengan cara gagasan dihadirkan dalam teks atau buku referensi.

g. Seorang murid berkebutuhan khusus mungkin memahami informasi saat ia mendengarkannya tetapi tidak mampu membaca materi yang diperlukan untuk tugas sekolah.

h. Murid berkebutuhan khusus mungkin kesulitan mempelajari konsep dan proses matematis karena:

  • Keterampilan prosedural mereka buruk dan mereka bergantung pada strategi yang kekanakan, misalnya menghitung dengan jari.
  • Kemampuan ingatan mereka buruk, sehinga mereka kesulitan mengingat fakta mendasar.
  • Banyak murid yang memiliki ketidakmampuan-matematika juga memiliki ketidakmampuan-membaca, dan ketidakmapuan-membaca inilah yang menyulitkan mereka memahami soal.

Secara khusus menurut Direktorat PLB (2000) karakteristik  siswa yang mengalami disleksia dapat dilihat dari hal-hal berikut:

1)    Perkembangan kemampuan membaca terlambat,

2)    Kemampuan memahami isi bacaan rendah,

3)    Kalau membaca sering banyak kesalahan

Secara harfiah Peer (2002:45) mendefinisikan bahwa siswa yang mengalami kesulitan belajar disleksia adalah kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Kelainan ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tertulis, atau kesulitan mengenal hubungan antara suara dan kata secara tertulis. Lebih lanjut, Paat menjelaskan bahwa anak dengan gangguan belajar disleksia memiliki masalah pada kemampuan meta kognisi. Dengan kata lain, anak tersebut sulit mengatur pemahaman ketika menerima informasi atau salah memberikan respon.

Apabila dibandingkan anak disleksia dengan anak normal dalam hal perkembangan kemampuan membaca, maka anak normal kemampuan membaca sudah muncul sejak usia enam atau tujuh tahun. Berbeda halnya dengan anak disleksia, ia sampai usia dua belas tahun kadang mereka masih belum lancar membaca. Dengan demikian, disleksia merupakan gangguan akan kemampuan membaca anak berada di bawah kemampuan seharusnya. Gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik, seperti masalah penglihatan, tetapi mengarah pada bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut. Kesulitan ini biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu.

  1. 3. Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar

Hambatan belajar yang dialami oleh setiap anak bisa disebabkan oleh faktor internal pada diri anak itu sendiri, faktor ekternal di luar diri anak, dan faktor internal dan eksternal.

a. Faktor Internal

Hambatan belajar bisa terjadi akibat adanya kerusakan secara fisik pada diri anak (impairment), misalnya kehilangan fungsi penglihatan, pendengaran, dan gangguan pada pada gerak motorik, serta anak yang mengalami hambatan perkembangan intelektual. Keadaan impairment seperti itu menimbulkan kesulitan atau ketidakmampuan tertentu (disability), sehingga merintangi anak untuk belajar.
b. Faktor Eksternal

Hambatan belajar pada seorang anak bisa disebabkan oleh faktor-faktor di luar diri anak itu sendiri. Anak mengalami kesulitan-kesulitan tertentu untuk belajar karena eksternal. Misalnya, anak sering mendapat perlakuan kasar, sering diolok-olok, tidak pernak dihargai, sering melihat kedua orang tuanya bertengkar dsb. Keadaan seperti ini dapat menimbulakan kehilangan kepercayaan diri, sulit untuk memusatkan perhatian,cemas, gelisah, takut yang tidak beralasan dsb.

Bentuk-bentuk hambatan belajar yang dapat teridentifikasi akibat dari keadaan seperti itu misalnya, anak tidak memiliki keberaian untuk bertanya mesikipun ada yang ingin ia tanyakan kepada gurunya, tidak bisa menyatakan bahwa dia tidak mengerti sesuatu karena takut, tidak dapat mengikuti intruksi, tidak dapat mengemukakan pendapat atau keinginan secara lisan karena tidak berani. Anak-anak seperti ini tidak mungkin dapat belajar dengan benar.

Faktor eksternal lainnya yang dapat menjadi hambatan belajar bagi seorang anak seperti, pengalaman belajar di kelas yang sangat keras dan sangant kompetitif, pengalaman belajar di kelas yang terlalu mudah, sehingga tidak ada tantangan untuk belajar lebih lanjut, pembelajaran yang tidak sesuai dengan gaya belajar anak, kurikulum yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak secara personal , dan ketidaktersediaan sumber belajar dan media pembelajaran.
c. Faktor Internal dan Eksternal

Hambatan belajar bisa terjaidi karena komibinasi antara faktor intenal dan faktor eksternal. Misalnya seorang anak yang mengalami gangguan perkemabngan intelektual (internal) belajar pada lingkungan kelas yang keras dan kompetip (eksternal). Sudah dapat dipastikan bahwa hambatan belajar yang dialami oleh anak ini akan berakibat lebih buruk pada perkembangan hasil belajar anak. Anak menghadapi dua hambatan belajar secara bersamaan.

4. Bagaimana Mengatasi Anak Disleksik?

Untuk mengatasi kesulitan belajar anak disleksik adalah latihan mengeja dan membaca, seperti program Hickey Multisensory Language Course (HMLC) yang dikembangkan oleh Augur dan Briggs tahun 1992. Mereka mengakui bahwa pentingnya kebutuhan belajar alfabet secara sekuensial (berurutan). Anak disleksik biasanya akan mengalami kesulitan mempelajari dan mengingat nama dan urutan huruf alfabetik, selain memahami bahwa huruf tersebut mewakili bunyi ucapan yang membentuk kata-kata (Reid: 2007, 48). Lebih lanjut Reid menjelaskan bahwa program ini berbasis prinsip multisensori. Di samping itu, alfabet diperkenalkan menggunakan huruf-huruf dari kayu atau plastik, sehingga anak dapat melihat huruf, mengambilnya, merasakannya dengan mata terbuka atau tertutup dan mengucapkan bunyinya. Alasan dari teknik ini karena saluran pembelajaran visual, auditori dan taktil-kinestetik semua digunakan untuk tujuan yang lazim.

Adapun praktik program (HMLC) menyediakan sejumlah aktivitas untuk membantu anak familiar dengan alfabet. Di antaranya; (1) mempelajari huruf secara sekuensial; (2) mempelajari posisi setiap huruf dari alphabet; dan (3) menyebutkan dan mengenal bentuk huruf. Dalam implementasinya, program ini pun melibatkan permainan dan penggunaan kamus untuk membantu anak familiar dengan urutan huruf dan arah yang dituju. Contohnya, anak perlu tahu bahwa huruf ‘i’ muncul sebelum ‘k’, serta huruf di paruh pertama alfabet dan huruf-huruf di paruh kedua. Alfabet dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok, yang membuat mudah anak mengingat di kelompok mana huruf tersebut berada, contoh:

A B C D

E F G H I J K L M

N O P Q R

S T U V W X Y Z

Di samping itu, Reid (2007:49) menekankan bahwa program HMLC memiliki aktivitas yang berhubungan dengan menyortir dan mencocokkan huruf kapital, huruf kecil, bentuk cetak, dan tulisan tangan dari huruf; melatih keterampilan sequencing dengan huruf dan bentuk-bentuk terpotong; dan melatih menempatkan tiap huruf dalam alfabet dalam hubungannya dengan huruf lain (hal ini melibatkan kegiatan menemukan huruf yang hilang dan membalik urutan alfabet). Selain itu, program ini juga menunjukkan pentingnya mengenali dimana aksen (tekanan bunyi) jatuh dalam suatu kata, karena hal ini mempengaruhi ejaan dan rima. Permainan irama ditujukan untuk mendorong penggunaan aksen dengan menempatkan aksen pada huruf-huruf yang berbeda. Ini melatih pendengaran anak untuk mengenali saat suatu huruf memiliki aksen atau ditekankan pada suatu kata.

Paket membaca dan mengeja dalam program HMLC fokus pada mempertahankan relasi antara bunyi dan simbol. Proses ini dimulai dengan huruf tunggal, dan berlanjut pada gabungan konsonan, kontinuasi vokal, dan kemudian pengelompokan huruf yang kompleks. Paket membaca ini berisi satu set kartu; pada satu sisi, huruf kecil ditampilkan tebal, dan huruf kapitalnya diperlihatkan di sudut kanan bawah, dengan tujuan membangun hubungan (link) di antara kedua huruf tersebut. Di bagian belakang kartu terdapat kata kunci yang berisi bunyi huruf, dengan kombinasi bunyi yang sesungguhnya dalam tanda kurung. Suatu ruang dibiarkan kosong untuk anak menggambar imajinasi visual dari kata kunci. Ini membuat imajinasi menjadi lebih berarti bagi anak, serta memperkuat keterampilan visual dan kinestetik.

Dalam paket mengeja, program  HMLC sama strukturnya dengan paket membaca. Di bagian depan kartu, bunyi yang dihasilkan oleh huruf ditampilkan dalam tanda kurung, sementara bagian belakang berisi bunyi dan huruf sesungguhnya. Bunyi yang memiliki pilihan ejaan pada saatnya akan menunjukkan semua cara yang mungkin tentang bagaimana membunyikannya. Kata-kata isyarat (cue words) juga ditampilkan di belakang  sebagai petunjuk, bilamana anak lupa. Mengeja dipandang sangat penting bagi pembuat program ini, karena mereka melihatnya sebagai ‘pengalaman perseptual serba bisa’. Metode multisensori juga melibatkan proses anak dalam hal (1) mengulang suara yang didengar; (2) merasakan bentuk yang dibuat bunyi di mulut; (3) membuat bunyi dan mendengarkan; dan (4) menulis huruf.

Daftar Rujukan

Davis, Ronald D. (1997). The Gift of Dyslexia: Why Some of the Smartest People Can’t Read and How They Can Learn. London: Perigee.

Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Pendidikan Inklusif. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa.

Hayden, Torey .2000. Mengakomodasi Murid Berkebutuhan Khusus. www.torey-hayden.com

Peer, Lindsay. 2002. Glue Ear An Essential guide for teachers, parents

and health professionals. London: David Fulton Publishers.

Reid, Gavin. 2007. Dyslexia. 2nd edition. London: Continuum Publishing Group.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: