Asupriatna’s Weblog

25 24000000Kamis25 2008

Diklat Kepemimpinan Pengawas dan Kepala Sekolah di Kab. Samosir

Filed under: Uncategorized — asupriatna @ 00.00

PPPPTK TK dan PLB membuka jejaring dengan Dinas Pendidikan Kab. Samosir Prov. Sumut dalam upaya meningkatkan kompetensi pengawas dan kepala sekolah di lingkungan Dikdas. Diklat ini dilaksanakan di Hotel Carolina Samosir selama 5 hari setara dengan 50 jam. Adapun bahan diklat, khsusunya bahan mata tataran Kompetensi Pengawas dan Kepala Sekolah diadaftasi dari draf bahan Diklat Pengawas dan Kepala Sekolah di lingkungan Dikdas dan Dikmen yang disusun oleh tim pengembang Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah yang diselenggrakan di Hotel Melinium Jakarta.

LEMBAR KERJA

SKENARIO PEMBELAJARAN

Mata Tataran                : Kompetensi Kepala Sekolah

Waktu                          : 8 jam pelajaran x 45 menit

Jumlah Peserta  : 30 orang

Penyusun                      : Drs. Agus Supriatna, M.Pd.

 

A.     Tujuan Pembelajaran

Setelah diklat berakhir, peserta mampu

1.      Menjelaskan ruang lingkup kompetensi manejerial khususnya dimensi kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan SDM, manajemen SD, dan manajemen Taman Kanak-kanak.

2.      Menjelaskan ruang lingkup kompetensi kewirausahaan khususnya dimensi budaya mutu sekolah.

3.      Menjelaskan ruang lingkup kompetensi kepribadian khususnya dimensi kecerdasan emosional dan intelektual dalam kepemimpinan kepala sekolah.

4.      Menjelaskan ruang lingkup kompetensi sosial khususnya dimensi perubahan dan pengembangan sekolah sebagai organisasi

B.     Ruang Lingkup Materi

Ruang lingkup materi yang dibahas dalam sesi ini meliputi (1) kompetensi manejerial khususnya dimensi kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan SDM, manajemen SD, dan manajemen Taman Kanak-kanak; (2)  kompetensi kewirausahaan khususnya dimensi budaya mutu sekolah; (3) kompetensi kepribadian khususnya dimensi kecerdasan emosional dan intelektual dalam kepemimpinan kepala sekolah; dan (4) kompetensi sosial khususnya dimensi perubahan dan pengembangan sekolah sebagai organisasi.

C.   

Pengkondisian awal

Input Tujuan 1

Pengerjaan LT-01

Pembahasan LT-01

Sesi 1

ICE BREAKER

Input Tujuan 02

Pengerjaan LT-02

Sesi 2

Input Tujuan 3

Pengerjaan LT-03

Refleksi Materi

Kesimpulan

Sesi 3

Pembahasan LT-02

Pembahasan LT-03

Prosedur Pembelajaran

 

10 menit

45 menit

45  menit

20  menit

15  menit

45  menit

45  menit

60 menit

70 menit

30  menit

15 menit

20  menit

20 menit

 

 

 

 

                 

 

ICE BREAKER

 awal

Input Tujuan 4  144

Pengerjaan LT-04

Pembahasan LT-04

Sesi 4

 

 

10 menit

45 menit

45  menit

20  menit

 

 

 

 

D.    Uraian Pembelajaran

Penataan ruangan :

1.      Sebelum peserta masuk, ruang kelas sudah diseting menjadi 5 (lima) kelompok dengan jumlah kursi persis sama dengan jumlah peserta dan relatif merata untuk setiap meja/kelompok.

2.      Untuk masing-masing meja, tersedia karton kosong bentuk segi tiga untuk menuliskan nama kelompok

 

.

Sesi 1 :

Pengkondisian

10 mnt

 Pengkondisian peserta dimulai dengan pengenalan dan menjelaskan tujuan dari materi pelajaran yang akan disampaikan. Pengkondisian kelas dibagi ke dalam 5 kelompok.

Input materi dan kegiatan Peserta

45 mnt

 Memberikan informasi dan stimulasi berkenaan dengan kerangka pikir kompetensi manejerial kepala sekolah SD dan TK.

25 mnt

LT-01

 Peserta berkelompok merumuskan kerangka pikir dan beberapa pertimbangan dalam merumuskan kompetensi manejerial kepala sekolah SD dan TK dengan menggunakan LT-01.

10 mnt

 Antarkelompok membahas hasil diskusi sesi 1

 

 

Sesi  2

15 mnt

Ice Breaker yang relevan dengan materi

45 mnt

 Memberikan informasi dan stimulasi berkenaan dengan kerangka pikir kompetensi kewirausahaan kepala sekolah SD dan TK.

25 mnt

LT-02

 Peserta berkelompok merumuskan kerangka pikir dan beberapa pertimbangan dalam merumuskan kompetensi kewirausahaan kepala sekolah SD dan TK dengan menggunakan LT-01.

10 mnt

 Antarkelompok membahas hasil diskusi sesi 2

Sesi  3


45 mnt

LT-03

 Memberikan informasi dan stimulasi berkenaan dengan kerangka pikir kompetensi kepribadian kepala sekolah SD dan TK.

20 mnt

 Peserta berkelompok merumuskan kerangka pikir dan beberapa pertimbangan dalam merumuskan kompetensi kepribadian kepala sekolah SD dan TK dengan menggunakan LT-01.

10 mnt

 Antarkelompok membahas hasil diskusi sesi 2

Sesi  4

10 mnt

Ice Breaker yang relevan dengan materi


35 mnt

LT-03

 Memberikan informasi dan stimulasi berkenaan dengan kerangka pikir kompetensi kepribadian kepala sekolah SD dan TK.

20 mnt

 Peserta berkelompok merumuskan kerangka pikir dan beberapa pertimbangan dalam merumuskan kompetensi kepribadian kepala sekolah SD dan TK dengan menggunakan LT-01.

10 mnt

 Antarkelompok membahas hasil diskusi sesi 2

15 mnt

Fasilitator bersama peserta melakukan refleksi tentang keseluruhan materi yang telah didiskusikan dalam mata tataran ini. Fokus refleksi diarahkan untuk menegaskan kembali prinsip-prinsip peningkatan kompetensi kepala sekolah SD dan TK.

 

 

 

 

E.     Evaluasi

1.      Evaluasi proses dilakukan melalui pengamatan terhadap aktifitas peserta dengan menggunakan format instrument 01.

 

2.      Evaluasi hasil dilakukan dengan membandingkan hasil pre dan post tes untuk masing-masing peserta.

 

 

F.     Alat Bantu

         1 unit Notebook dan LCD Projector

         5 unit Plipchart lengkap dengan kertas buram/Koran

         1 unit whiteboard

         1 set spidol board marker (3 warna)

         5 set spidol permanen (2 warna)

         5 lembar karton manila warna merah

         5 lembar karton manila warna kuning/biru

         5 gunting

         5 cutter

         5 isolatip

         5 tube lem

 

G.    Referensi

Depdiknas. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah untuk Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

 

Depdiknas. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Depdiknas, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

 

Feldmon, C.D, & Arnold, H.J. 1983. Managing Individual and Group Behavioral in Organization. Auckland: Mc Graw Hill Book Company.

 

Glatthorn, A.A. 1990. SupervisoryLeadership: Introduction to Instructional Supervision. New York: Harper Collins Publishers.


 

LEMBAR INFORMASI

Pengantar

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah telah ditetapkan bahwa ada 5 (lima) dimensi kompetensi yaitu: Kepribadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi dan Sosial. Dalam rangka pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah untuk menguasai lima dimensi kompetensi tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan telah berupaya menyusun naskah materi diklat pembinaan kompetensi untuk calon kepala sekolah/kepala sekolah. Mengingat keterbatasan waktu, dari lima kompetensi di atas dalam diklat ini memfokuskan hanya kepada dimensi kompetensi manejerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial yang di dalamnya pun tidak seluruh sub dimensi dibahas secara menyeluruh.

 

1.      Kompetensi Manejerial

a.Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan SDM

Banyak ahli yang mengemukakan pengertian kemimpinan. Feldmon (1983) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah usaha sadar yang dilakukan pimpinan untuk mempengaruhi anggotanya melaksanakan tugas sesuai dengan harapannya.

Sekolah dasar merupakan salah satu organisasi pendidikan yang utama dalam jenjang pendidikan dasar. Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 28 tahun 1990 telah disebutkan bahwa pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

Sekolah dasar sebagai lembaga pendidikan dasar diharapkan bisa berfungsi sebagai: (1) peletak dasar perkembangan pribadi anak untuk menjadi warga negara yang baik, (2) peletak dasar kemampuan dasar anak, dan (3) penyelenggara pendidikan awal untuk persiapan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu pendidikan menengah. Kemampuan dasar utama yang diberikan kepada anak sekolah dasar adalah kemampuan dasar yang membuat bisa berpikir kritis dan imajinatif yang tercermin dalam modus kemampuan menulis, berhitung dan membaca.

Ditinjau dari komponennya, ada beberapa unsur atau elemen utama dalam organisasi sekolah dasar. Unsur-unsur tersebut meliputi: (1) sumber daya manusia, yang mencakup kepala sekolah, guru, pegawai administrasi, dan siswa, (2) sumber daya material, yang mencakup peralatan, bahan, dana, dan sarana prasarana lainnya, (3) atribut organisasi, yang mencakup tujuan, ukuran, struktur tugas, jenjang jabatan, formalisasi, dan peraturan organisasi, (4) iklim internal organisasi, yakni situasi organisasi yang dirasakan personel dalam proses interaksi, dan (5) lingkungan organisasi sekolah.

Dewasa ini terjadi perubahan dalam sistem pengelolaan sekolah, termasuk sekolah dasar. Sejak diberlakukannya otonomi daerah, terjadi desentralisasi pendidikan. Sebagian kewenangan pemerintah pusat dilimpahkan ke daerah, termasuk kewenangan dalam pengelolaan pendidikan. Salah satu pendekatan pengelolaan pendidikan yang diterapkan adalah pendekatan pengelolaan pendidikan berdasarkan sekolah, yang dikenal dengan istilah school based management atau manajemen berbasis sekolah.

Ada beberapa prinsip yang perlu dipegang dalam melaksanakan manajemen berbasis sekolah. Prinsip-prinsip tersebut adalah: (1) Keterbukaan, artinya manajemen berbasis sekolah dilakukan secara terbuka dengan semua sumber daya yang ada, baik kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, maupun masyarakat, (2) Kebersamaan, a rtinya manajemen berbasis sekolah dilakukan bersama oleh sekolah dan masyarakat, (3) Berkelanjutan, artinya manajemen berbasis sekolah dilakukan secara berkelanjutan tanpa dipengaruhi pergantian pimpinan sekolah, (4) Menyeluruh, artinya manajemen berbasis sekolah yang disusun hendaknya mencakup semua komponen yang mempengaruhi keberhasilan pen-capaian tujuan, (5) Pertanggungjawaban, artinya pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dapat dipertanggungjawabkan ke masyarakat dan pihak-pihak yang berkepentingan, (6) Demokratis, artinya keputusan yang diambil dalam manajemen berbasis sekolah hendaknya dilaksanakan atas dasar musyawarah antara komponen sekolah dan masyarakat, (7) Kemandirian sekolah, artinya sekolah memiliki prakarsa, inisiatif, dan inovatif dalam kerangka pencapaian tujuan pendidikan, (8) Berorientasi pada mutu, artinya berbagai upaya yang dilakukan selalu didasarkan pada peningkatan mutu, (9) Pencapaian standar pelayanan minimal, artinya layanan pendidikan minimal harus bisa dilaksanakan sesuai dengan standar minimal secara total, bertahap dan berkelanjutan, dan (10) Pendidikan untuk semua, artinya semua anak memperoleh pendidikan yang sama. Dalam mengelola sekolah, kepala sekolah dasar harus melaksanakan prinsip-prinsip tersebut dengan baik.

 

 

 

b.Manajemen SD

Manajemen sekolah dasar pada dasarnya merupakan penerapan manajemen sekolah di sekolah dasar. Berdasarkan kedua definisi tersebut di atas manajemen sekolah dasar merupakan proses di mana kepala sekolah dasar selaku administrator bersama atau melalui  orang lain berupaya mencapai tujuan institusional sekolah sekolah dasar secara efisien.

Postman dan Weingartner mendeskripsikan ciri-ciri sekolah yang baik sebagai berikut:

1.    Ditinjau dari penstrukturan waktunya sekolah dapat dikatakan baik apabila:

a.         sekuensi waktu sehari di sekolah itu tidak sewenang-wenang (45 menit untuk ini, 45 menit untuk itu, dan seterusnya), melainkan didasarkan pada apa yang perlu dilakukan siswa;

b.        antara satu orang siswa dan siswa lainnya di sekolah tidak diharuskan mengerjakan hal yang sama dalam jangka  waktu yang sama;

c.         siswa tidak dituntut semata-mata untuk mematuhi waktu dalam pelajaran, melainkan menguasai ketrampilan;

d.        siswa diarahkan untuk mengorganisasi waktunya sendiri.

2.    Ditinjau dari penstrukturan aktivitasnya sekolah dapat dikatakan baik apabila:

a.         aktivitas-aktivitasnya disesuaikan dengan kebutuhan siswa secara perorangan;

b.        antara satu orang siswa dan siswa lainnya tidak dituntut untuk mengikuti aktivitas yang sama;

c.         sekolah mengakui bahwa proses belajar mengajar hampir tidak bernilai bagi siswa apabila dirinya kurang dilibatkan di dalamnya;

d.        aktivitasnya merupakan aktivitas siswa;

e.         aktivitasnya tidak terbatas pada sebuah gedung, melainkan juga mencakup semua sumber pada masyarakat;

f.          aktivitas-aktivitasnya memenuhi semua perbedaan latar belakang dan kemampuan siswa.

3.    Ditinjau dari pendefinisian kecerdasan, pengetahuan, atau perilaku sekolah dapat dikatakan baik apabila:

a.         proses belajar mengajar yang dikelolanya lebih menekankan pada proses inkuiri, pemecahan masalah, dan penelitian daripada memorisasi;

b.        siswanya dijauhkan dari kebiasaan menerima pelajaran secara pasif;

c.         berbagai ketrampilan berkomunikasi dilatihkan kepada siswa;

d.        kepada siswanya selalu ditekankan untuk menggunakan ilmu dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar memperoleh ilmu demi ilmu;

e.         personelnya mengakui adanya perkembangan pengetahuan di berbagai bidang dan mencoba mempertimbangkannya dalam mendefinisikan pengetahuan;

f.          pengetahuan diri sendiri merupakan bagian dari definisi pengetahuannya.

4.       Ditinjau dari evaluasi, sekolah dapat dikatakan baik apabila dalam proses evaluasinya:

a.         lebih menekankan pada upaya memberikan balikan yang mendorong;

b.        digunakan pendekatan yang humanistik dan perorangan;

c.         mencakup aspek yang komprehensif;

d.        terlebih dahulu dibuatkan seeskplisit mungkin jenis perilaku yang diinginkan sekolah;

e.         kurang digunakan tes terstandar;

f.          khusus dalam mengevaluasi guru dan administrator digunakan prosedur-prosedur yang konstruktif.

5.    Ditinjau dari supervisi dan pengawasan siswa sekolah dapat dikatakan baik apabila:

a.         guru dan siswanya melakukan upaya-upaya yang kolaboratif;

b.        siswanya diberi kesempatan untuk mensupervisi dirinya sendiri;

c.         jumlah siswa yang ditangani seorang supervisor tidak banyak, sehingga masalah personalnya bisa ditangani.

6.    Ditinjau dari perbedaan peran sekolah dapat dikatakan baik apabila:

a.         semua gurunya selalu mengembangkan ide mengenai masyarakat belajar dimana fungsi guru lebih sebagai seorang koordinator dan fasilitator;

b.        berbagai peran mengajar didalamnya tidak dimainkan hanya oleh guru;

c.         berbagai peran mengajar diorganisasikan dan kemudian ditugaskan sesuai dengan kemampuan guru;

d.        siswanya dianggap bukan sebagai obyek pada setiap aktivitas, melainkan didorong untuk aktif membentuk pengalamannya sendiri;

e.         siswa tidak secara konstan ditempatkan dalam peran-peran konpetitif, melainkan juga kolaboratif.

7.    Di tinjau dari pertanggungjawaban terhadap masyarakat, sekolah dapat dikatakan baik apabila personelnya:

a.         lebih menekankan pada partisipasi masyarakat daripada pater-nalistik birokratik;

b.        tidak takut mempertanggungjawabkan performansinya.

8.    Ditinjau dari pertanggungjawaban terhadap masa depan sekolah dapat dikatakan baik apabila personelnya:

a.         memiliki konsep tentang pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang diorientasikan pada masa depan;

b.        menginterpretasikan tanggung jawabnya pada masa depan sebagai tanggung jawab kepada siswa, baru kemudian kepada institusi sosial.

Para pakar administrasi pendidikan telah mencoba mengklasifikasi komponen-komponen manajemen sekolah. Mereka mengelompokkanya menjadi enam gugusan substansi, yaitu gugusan-gugusan substansi (1) kurikulum atau pembelajaran; (2) kesiswaan; (3) kepegawaian; (4) sarana dan prasarana; (5) keuangan; dan (6) lingkungan masyarakat.

 

c.Manajemen Taman Kanak-kanak.

Eksistensi dan esensi lembaga pendidikan taman kanak-kanak ini dalam kerangka pembangunan pendidikan nasional secara resmi diakui di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 27 Tahun 1990. Menurut PP No. 27 Tahun 1990, “Penyelenggaraan pendidikan taman kanak-kanak dimaksudkan untuk membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, perilaku, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, serta untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.”

Menurut Reid, Bullock, dan Howarth (1988) ada lima peranan administrasi (manajemen) dalam penyelenggaraan taman kanak-kanak, yaitu:

1.        mempermudah taman kanak-kanak dalam mengembangkan dan melaksanakan program belajar (permainan) yang sangat edukatif bagi anak didik;

2.        mempermudah pengelola taman kanak-kanak untuk menilai perkembangan lembaganya dalam mengemban misi sebagai lembaga pendidikan prasekolah;

3.        membuat semua fasilitas taman kanak-kanak dalam kondisi siap pakai;

4.        menciptakan suasana taman kanak-kanak selalu tertib, teratur, dan bersih sehingga dapat membuat anak-anak selalu merasa senang apabila bermain-main di dalamnya;

5.        meningkatkan efisiensi dalam penggunaan semua fasilitas sekolah.

Tujuan manajemen taman kanak-kanak adalah agar sistem pendidikan taman kanak-kanak berlangsung secara efektif dan efisien. Sistem pendidikan taman kanak-kanak dapat dikatakan efektif bila program kegiatan belajar yang berlangsung di dalamnya berfungsi dengan sebaik-baiknya dan mencapai tujuan institusionalnya, yaitu membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar. Dengan kata lain, taman kanak-kanak merupakan satuan pendidikan yang diselenggarakan dalam rangka menjembatani pendidikan dalam keluarga menuju pendidikan sekolah. Secara lengkap, sebagaimana diatur di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah, tujuan institusional taman kanak-kanak adalah membantu anak meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

Manajemen program pembelajaran itu pada dasarnya merupakan pengaturan semua kegiatan pembelajaran, baik yang dikategorikan sebagai program inti maupun program penunjang berdasarkan kurikulum yang telah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu, manajemen program pembelajaran seringkali disebut dengan manajemen kurikulum dan pembelajaran. Manajemen program pembelajaran dapat diartikan dalam rangka terciptanya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Di lembaga pendidikan taman kanak-kanak, pengaturan proses belajar mengajar itu didasarkan pada Garis-garis Besar Program Kegiatan Belajar (GBPKB) yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Manajemen program pembelajaran taman kanak-kanak bertujuan menciptakan proses belajar mengajar yang mudah direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan, dan dikendalikan dengan baik. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengelola program pembelajaran di taman kanak-kanak, yaitu:

1.        kegiatan belajar mengajar merupakan inti proses pendidikan yang berlangsung di taman kanak-kanak;

2.        manajemen program pembelajaran diarahkan pada upaya menciptakan situasi dan pengorganisasian situasi belajar;

3.        kegiatan bermain merupakan salah satu upaya belajar bagi murid-murid taman kanak-kanak;

4.        dalam mengelola program pembelajaran di taman kanak-kanak hendaknya selalu mempertimbangkan kondisi fisik dan mental subjek belajar yang masih berusia 5 atau 6 tahun, suka bermain, dan suka berkumpul dengan orang tuanya.

       Ada beberapa kegiatan manajemen program pembelajaran taman kanak-kanak, yaitu:

1.        penyusunan program,

2.        penyusunan kalender pendidikan,

3.        penyusunan jadwal kegiatan belajar,

4.        perencanaan kegiatan belajar mengajar,

5.        pengaturan pembukaan tahun ajaran baru,

6.        pengaturan pelaksanaan program kegiatan belajar mengajar,

7.        pengaturan kegiatan bermain atau permainan,

8.        pengaturan kegiatan evaluasi pelaksanaan program kegiatan belajar,

9.        pengaturan pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan, dan

10.    pengaturan penutupan tahun ajaran.

Manajemen kesiswaan merupakan salah satu bidang garapan manajemen taman kanak-kanak yang secara khusus menangani tugas-tugas yang berkenaan dengan siswa selaku subjek didik. Tujuan manajemen kesiswaan itu adalah untuk mengatur semua penyelesaian tugas-tugas yang berkenaan dengan siswa tersebut. Dengan pengaturan itu diharapkan semua tugas yang berkenaan dengan siswa berlangsung secara efektif dan efisien sehingga memperlancar pencapaian tujuan lembaga pendidikan. beberapa kegiatan manajemen kesiswaan di taman kanak-kanak, yaitu:

1.        perencanaan kesiswaan,

2.        pengaturan penerimaan siswa baru,

3.        pengelompokan siswa,

4.        pencatatan kehadiran siswa,

5.        pembinaan disiplin siswa,

6.        pengaturan perpindahan siswa,

7.        pengaturan kelulusan siswa, dan

8.        pengaturan pelaksanaan program layanan khusus bagi siswa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LT-01: Kerangka Pikir Penilaian bagi ABK

LEMBAR TUGAS  1

 

 

Petunjuk Kerja Kelompok:

1.      Diskusikan dalam kelompok, selama 20 menit kerangka pikir kompetensi manejerial dimensi kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan SDM, manajemen SD, dan manajemen Taman Kanak-kanak.

2.      Laporkan hasil diskusi tersebut oleh perwakilan kelompok, selama maksimal 5 menit untuk masing-masing kelompok.

3.      Setelah dilaporkan oleh perwakilan kelompok, kumpulkan kertas kerja kelompok tersebut ke fasilitator.

 

Nama Mata Tataran                 : …………………………………………………………………

Nama Fasilitator                       : …………………………………………………………………

Nama Kelompok:                     : …………………………………………………………………

Ketua                                       : …………………………………………………………………

Anggota                                   : …………………………………………………………………

                                                  …………………………………………………………………

        …………………………………………………………………

       …………………………………………………………………

       

Materi

Hasil Diskusi

Rekomendasi

Kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan SDM

 

 

 

 

 

Manajemen SD

 

 

 

 

 

Manajemen Taman

Kanak-kanak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.      Kompetensi Kewirausahaan

A. Budaya Mutu Sekolah dasar

(1)     Pengertian budaya mutu Sekolah

Menurut Robbin (1991:572), budaya organisasi adalah suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu; suatu system dari makna bersama. Budaya organisasi memiliki kepribadian yang menunjukkan ciri suasana psikologis organisasi, yang memiliki arti penting bagi kehidupan organisasi, kenyamanan, kelancaran, dan keefektifan organisasi. Suasana psikologis terbangun pola-pola kepercayaan,  ritual, mitos, serta praktek-praktek yang telah berkembang sejak lama, yang pada gilirannya menciptakan pemahaman yang sama diantara para anggota organisasi mengenai bagaimana sebenarnya organisasi itu dan bagaimana para anggota harus berperilaku.

 

(2)     Pengembangan budaya mutu sekolah

Dengan demikian, budaya sekolah dapat dikatakan bermutu bilamana memungkinkan bertumbuhkembangnya sekolah dalam mencapai suatu keberhasilan pendidikan. Budaya mutu sekolah adalah keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah secara produktif mampu memeberikan pengalaman dan bertum-buhkembangnya sekolah untuk mencapai keberhasilan pendidikan berdasarkan spirit dan nilai-nilai yang dianut oleh sekolah. Dalam hal ini, Depdiknas (2000) telah merumuskan beberapa elemen budaya mutu sekolah sebagai berikut: (1) informasi kualitas untuk perbaikan, bukan untuk mengontrol, (2) kewenangan harus sebatas tanggungjawab, (3) hasil diikuti rewards atau punishment, (4) kolaborasi, sinergi, bukan persaingan sebagai dasar kerjasama, (5) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya, (6) atmorfir keadilan, (7) imbal jasa sepadan dengan nilai pekerjaan, dan (8) warga sekolah merasa memiliki sekolah.

        Proses pengembangan budaya mutu sekolah dapat dilakukan melalui tiga tataran, yaitu (1) pengembangan pada tataran spirit dan nilai-nilai; (2) pengembangan pada tataran teknis; dan (3) pengembangan pada tataran sosial. Pada tataran pertama, proses pengembangan budaya mutu sekolah dapat dimulai dengan pengembangan pada tataran spirit dan nilai-nilai, yaitu dengan cara mengidentifikasi berbagai spirit dan nilai-nilai kualitas kehidupan sekolah yang dianut sekolah, misalnya spirit dan nilai-nilai disiplin, spirit dan nilai-nilai tanggung jawab, spirit dan nilai-nilai kebersamaan, spirit dan nilai-nilai  keterbukaan, spirit dan nilai-nilai kejujuran, spirit dan nilai-nilai semangat hidup, Spirit dan nilai-nilai sosial dan menghargai orang lain, serta persatuan dan kesatuan (Torrington & Weightman, dalam Preedy, 1993).

 

 

(3)     Sekolah unggul

Untuk memberikan gambaran tentang sekolah yang efektif atau sekolah unggul, perlu disajikan beberapa kajian atau hasil penelitian dari pakar manajemen pendidikan tentang sekolah efektif atau sekolah unggul. Sekolah efektif atau sekolah unggul memiliki kriteria, ciri-ciri atau karakteristik tertentu. Ukuran dasar yang dapat dijadikan pedoman untuk melihat apakah sekolah efektif itu atau tidak, sekolah itu unggul atau tidak, Danim (2006) memberikan kriteria tentang sekolah tersebut sebagai berikut: (1) mempunyai standar kerja yang tinggi dan jelas bagi siswa, (2) mendorong aktifitas, pemahaman multibudaya, kesetaran gender, dan mengembangkan secara tepat pembelajaran menurut standar potensi yang dimiliki oleh para pelajar, (3) mengharapkan para siswa untuk mengambil peran tanggung jawab dalam belajar dan perilaku dirinya, (4) mempunyai instrumen evaluasi dan penilaian prestasi belajar, (5) menggunakan metode pembelajaran yang berakar pada penelitian pendidikan dan suara praktik profesional, (6) mengorganisasikan sekolah dan kelas untuk mengkreasi lingkungan yang bersifat memberi dukungan bagi kegiatan pembelajaan, (7) pembuatan keputusan secara demokratis dan akuntabilitas, (8) menciptakan rasa aman, sifat saling menghargai, dan mengakomodasikan lingkungan secara efektif, (9) mempunyai harapan yang tinggi kepada semua staf, (10) secara aktif melibatkan keluarga di dalam membantu siswa untuk mencapai sukses, dan (11) bekerja sama atau berpartner dengan masyarakat  dan pihak-pihak lain.

 

(4)     Pengembangan budaya mutu sekolah unggul

Pengembangan budaya mutu yang dilakukan oleh sekolah unggul dalam rangka mencapai keefektifan pendidikan di sekolah tentunya dijiwai oleh spirit dan nilai-nilai hasil identifikasi. Pengembangan budaya mutu tersebut melalui tim khusus dan melibatkan semua warga sekolah, kemudian ditetapkan dengan kebijakan sekolah.

 Pengembangan budaya mutu yang telah dilakukan sekolah unggul dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Tahap-tahap pengembangan 

Kegiatan dalam pengembangan budaya mutu sekolah

Merumuskan tujuan pengembangan yang dijiwai

spirit dan nilai-nilai & Penetapan kebijakan

·     mencapai keefektifan pendidikan di sekolah

·     melalui tim khusus

·     melibatkan semua warga sekolah

·     kebijakan yang bersifat mikro/operasional

·     penetapan kebijakan-kebijakan pengembangan budaya mutu berdasarkan kesepakatan bersama

Sosialisasi & implementasi

·     kepada semua warga sekolah

·     oramg tua siswa

·     melalui ditempel pada papan pengumuman

·     surat

·     edaran

·     dilakukan komunikasi secara terbuka

    (untuk dan agar dimengerti, dipahami, disetujui, diikuti dan dapat diterima sebagai kebijakan atau aturan sekolah)

·     Dilaksanakan bersama-sama dengan baik

Evaluasi & follow up

·     dilakukan evaluasi bersama

·     melalui rapat rutin sekolah

·     pertemuan-pertemuan dengan wali siswa,

·     perbaikan sebagai tindak lanjut

 

Spirit dan nilai-nilai yang dijadikan sebagai sumber budaya mutu pada sekolah unggul antara lain: (1) spirit dan nilai-nilai perjuangan, (2) spirit dan nilai-nilai ibadah, (3) spirit dan nilai-nilai amanah, (4) spirit dan nilai-nilai kebersamaan, (5) spirit dan nilai-nilai disiplin, (6) spirit dan nilai-nilai profesionalisme, dan (7) spirit dan nilai-nilai menjaga eksistensi sekolah.

     Spirit dan nilai-nilai budaya mutu mewarnai dan nampak dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah 

 

 

Sebenarnya budaya organisasi tersebut muncul dalam dua dimensi, yaitu dimensi yang tidak tampak (intangiable) dan dimensi yang tampak (tangiable), sebagaimana yang dikemukakan Calldwell dan Spinks (1993) bahwa dimensi yang tidak tampak yaitu meliputi: spirit/nilai-nilai, keyakinan, dan idiologi dan dimensi yang tampak, meliputi: kalimat, baik tertulis maupun lisan yang digunakan, perilaku yang ditampilkan, bangunan, fasilitas, serta benda yang digunakan di sekolah.

 

 

 

 

a.      Visi dan misi sekolah

 

 

 

b.      Struktur Organisasi dan Deskripsi Tugas

 

 

 

 

 

c.      Sistem dan Prosedur Kerja

Sistem dan prosedur kerja bersifat makro

Sistem dan prosedur kerja bersifat mikro (operasional)

1.        sistem dan prosedur rekrutmen tenaga baru

2.         sistem pembinaan kepangkatan

3.        ketentuan cuti

4.        peraturan disiplin kepegawaian

5.        sistem sleksi penerimaan siswa baru

6.        penetapan kurikulum

7.        dan lain sebagainya yang bersifat makro

 

1.        sistem reward bagi siswa dan guru

2.         upaya meningkatkan profesional dengan sistem pengumpulan media yang dibuat sendiri oleh guru

3.        penyiapan rancangan pembelajaran dengan baik

4.        melakukan pembinaan

5.        pengiriman dan mengikutkan guru/pegawai dalam kegiatan pelatihan/diklat/lokakarya baik yang diselenggarakan oleh yayasan/diknas atau pihak luar

 

d.     Kebijakan dan Aturan Sekolah

Sifat/tipe

Proses

Hasil

Kebijakan untuk memtegas, memperjelas kebijakan makro yayasan/lembaga

kebijakan ditetapkan oleh kepala sekolah dan pata terlebih dahulu meminta pendapat dari warga sekolah

Hal-hal yang secara jelas dan tegas menjadi kewenangan kepala sekolah

Kebijakan khusus

dibentuk tim khusus dan disosialisasikan sebelum disahkan oleh kepala sekolah

·      masalah kedisplinan

·      PBM

·      pelayanan kepada siswa

·      dan lain-lain

kebijakan teknis

dapat muncul dari waga sekolah, sekolah mengkaji, menyetujui dan selanjutnya menetapkannya

·      teknis PHBI/N

·      teknis layanan makan siang

·      kunjungan wisata

·      dan lain-lain

kebijakan mengenai kultur/kebiasaan-kebiasaan

berdasarkan kesepakatan

·      kegiatan istighotsah

·      bersalaman

·      menyapa

·      mengucapkan salam

·      dan lain-lain

 

 

 

Wujud budaya mutu sekolah

 

 

 

e.     Tata Tertib Sekolah

Budaya mutu nampak pada tata tertib sekolah unggul dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tata tertib siswa

Budaya mutu yang nampak

·      kewajiban yang harus dilaksanakan oleh siswa

·      larangan yang harus dihindari oleh siswa

·      sanksi yang akan diberikan kepada siswa bagi yang melanggar kewajiban dan melakukan larangan sekolah.

·      kewajiban yang harus dilaksanakan oleh guru/pegawai

·      larangan yang harus dihindari oleh guru/pegawai

·      sanksi yang akan diberikan kepada guru/pegawai bagi yang melanggar kewajiban dan melakukan larangan sekolah.

 

·      disusun oleh tim tatib (tim work yang solid)

·      melibatkan warga sekolah, tidak hanya pimpinan saja

·      diterapkan tidak kaku

·      dirasakan tidak memberatkan

·      mengedepankan reward dari pada hukuman

·      dapat diterima dan dirasakan dengan baik

·      disusun oleh tim khusus (tim work yang solid)

·      melibatkan warga sekolah, tidak hanya pimpinan saja

·      diterapkan tidak kaku

·      dirasakan tidak memberatkan

·      sudah baik dan mapan

·      dapat diterima dan dirasakan dengan baik

 

f.        Fasilitas Sekolah

Fasilitas yang dimiliki

Kondisi riil

Budaya mutu yang nampak

·     gedung berlantai 3

·      ruang kelas yang luas dan representatif

·     laboratorium IPA

·     laboratorium bahasa

·     laboratorium komputer

·     pusat sumber belajar

·     perpustakaan sekolah

·     tempat ibadah sebagai pusat pengembangan dan pusat kegiatan ibadah siswa

·     halaman dan lapangan olah raga dan lain sebagainya.

cukup lengkap dan memadahi untuk menunjang proses pembelajaran yang baik termasuk pemberian pengalaman belajar bagi siswa

·     Usaha-usaha optimalisasi

·     Usaha perawatan dan pemanfaatan fasilitas sekolah seefektif dan efisien mungkin

·     adanya mekanisme pemakaian yang diatur oleh masing-masing koordinator laboratorium atau koordinator unit

·     pemantauan dan  evaluasi keefektifan oleh  sekolah.

 

g.     Suasana dan Hubungan Formal maupun Informal

Budaya mutu sekolah unggul nampak pada suasana dan hubungan formal maupun informal

Suasana yang dibangun

Budaya mutu yang nampak pada suasana dan hubungan formal dan informal

Suasana dan hubungan formal dan hubungan informal dibangun dalam rangka memperlancar dan memperkokoh komitmen dari semua warga sekolah termasuk orang tua siswa

 

 

·     komunikasi melalui koordinasi yang kontinyu

·     pengakuan bagi yang berprestasi

·     tidak diatur hubungan yang kaku

·     saling menghormati

·     akrab

·     tidak takut

·     anjang sana

·     suasana maju, kreatif, inovatif

·     berbuat yang terbaik

·     tuntutan kerja keras

·      koordinasi yang baik

·     mempunyai struktur kepegawaian yang jelas

·      hubungan antar individu dan antara bawahan pimpinan baik

·     perhatian secara individu siswa oleh guru

·     tetap diterapkan mekanisme yang jelas bagi warga sekolah yang melakukan pelanggaran sekolah.

 

h.      Sikap dan Perilaku Kepala Sekolah, Guru dan Tenaga Kependidikan Lainnya

Budaya mutu sekolah unggul nampak pada sikap dan perilaku

Acuan sikap dan perilaku

Budaya mutu nampak pada sikap dan perilaku

 

Sikap dan perilaku mengacu pada tuntunan agama dan norma-norma umum

·     bersikap adil

·     bertegur sapa

·     penyambutan siswa dipintu gerbang sekolah oleh guru

·     bersalaman

·     memberi salam

·     berdo’a sebelum dan selesai beraktifitas di sekolah

·     saling menghormati

Sikap dan perilaku yang dibangun memberikan motivasi dan berprestasi

·     selalu belajar dari pengalaman

·     selalu melakukan evaluasi

·     dan selalu memperbaiki untuk mencapai yang terbaik

Sikap dan perilaku dalam memberikan keteladanan dan jiwa sosial bagi siswa

·     sopan santun

·     ramah

·     senyum

·     memberikan layanan yang terbaik

·     sabar

·     bersodaqoh, dan lain-lain

 

Berdasarkan pengembangan budaya mutu dalam rangka mengembangkan sekolah unggul tersebut diatas, dapat digambarkan dalam diagram konteks pada gambar berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LT-02: Prinsip-prinsip Penilaian bagi ABK

LEMBAR TUGAS  2

 

 

Petunjuk Kerja Kelompok:

1.      Diskusikan dalam kelompok, selama 25 menit tentang maksud dari prinsip-prinsip budaya mutu sekolah, serta berikan contohnya sesuai dengan yang sedang dikembangkan di sekolah masing-masing.

2.      Laporkan hasil diskusi tersebut oleh perwakilan kelompok, selama maksimal 5 menit untuk masing-masing kelompok.

3.      Setelah dilaporkan oleh perwakilan kelompok, kumpulkan kertas kerja kelompok tersebut ke fasilitator.

 

Nama Mata Tataran                 : …………………………………………………………………

Nama Fasilitator                       : …………………………………………………………………

Nama Kelompok:                     : …………………………………………………………………

Ketua                                       : …………………………………………………………………

Anggota                                   : …………………………………………………………………

                                                  …………………………………………………………………

        …………………………………………………………………

       …………………………………………………………………

       …………………………………………………………………

Prinsip-prinsip Budaya Mutu Sekolah

Rekomendasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

i.        Kompetensi Kepribadian

(1) Pengertian Kecerdasan Emosinal (EQ)

Kecerdasan emosional (EQ) didefinisikan oleh Goleman (dalam Mu’tadin Z., 2002) sebagai “kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain”. Lebih lanjut dikatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik.

Pendapat Salovey dalam tulisan Goleman menjelaskan kecerdasan emosional ke dalam lima komponan, yakni: “(1) mengenali emosi diri, (2) mengelola emosi, (3) memotivasi diri sendiri, (4) mengenali emosi orang lain, (5) membina hubungan” (dalam Mu’tadin Z., 2002). Sedangkan Saphiro (1997) membagi enam komponen kecerdasan emosional, yakni: “(1) ketrampilan yang berhubungan dengan perilaku moral, (2) cara berfikir, (3) pemecahan masalah, (4) interaksi sosial, (5) keberhasilan akademik dan pekerjaan, dan (6) emosi”.

(2) Ketrampilan EQ

Shapiro (1997) membagi ketrampilan EQ antara lain meliputi; motivasi diri, membina persahabatan, empati, dan berfikir realistis. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Goug Lenick dalam kajian Goleman bahwa faktor penentu kesuksesan seseorang adalah ketrampilan intelektual, tetapi kesuksesan seseorang juga ditentukan oleh kecakapan emosi untuk memanfaatkan potensi bakat mereka secara optimal (dalam Mu’tadin.Z., 2002). Dengan kata lain, seseorang tidak akan dapat berprestasi maksimal dalam bekerja apabila tidak didukung oleh pemanfaatan ketrampilan emosionalnya.

(3) Kecakapan EQ

Goleman berpendapat kecakapan emosi adalah “kecakapan hasil belajar yang didasarkan pada kecerdasan emosi dan karena itu menghasilkan kinerja menonjol dalam pekerjaan”. Bahwa orang yang memiliki kecakapan kesadaran emosi ditandai oleh : (1) tahu emosi mana yang sedang mereka rasakan dan mengapa, (2) menyadari keterkaitan antara perasaan mereka dan yang mereka pikirkan, perbuat, dan katakan, (3) kinerja, dan (4) mempunyai kesadaran yang menjadi pedoman untuk nilai-nilai dan sasaran mereka.

 

(4) Nilai-nilai EQ dan Keyakinan

Leavitt (1992) berpendapat bahwa nilai adalah keyakinan yang internalisasi di dalam prakarsa individual. Dijelaskan pula bahwa sikap dan nilai-nilai mempunyai komponen yang kuat dan biasanya didukung secara luas oleh pikiran yang seksama. Tetapi ada juga faktor-faktor emosional kuat yang mendukungnya. Pendapat tersebut mengisyaratkan bahwa nilai dan keyakinan merupakan satu kesatuan yang utuh, mempunyai komponen serta berkaitan dengan faktor-faktor emosi.

KONTRIBUSI KECERDASAN EMOSIONAL (EQ) DAN KECERDASAN INTELEKTUAL (IQ) TERHADAP KEEFEKTIFAN GAYA KEPEMIMPINAN.

Hubungan antara kecerdasan emosional (EQ) dengan kecerdasan intelektual (IQ) seorang pemimpin di tempat kerja dapat meningkatkan keuntungan dan hasilnya memuaskan bawahan. Hal tersebut dapat menjembatani apa yang diketahui dengan apa yang dilakukan, dengan menggunakan gabungan pikiran dan hati saat berhadapan dengan semua masalah. Ini berarti menggunakan bagian emosi dari otak kita yang menjadi bagian pemikir dalam suatu hubungan untuk memastikan yang paling baik dari keduanya dalam pikiran kita.

Persekutuan ini adalah sangat luar biasa dan akan meningkatkan jajaran bawah kita dengan meningkatkan produktivitas, kelompok yang penuh sinergi, pelanggan yang puas, manajer yang efektif, dan organisasi yang selaras dan mengutamakan pelayanan (Patton, 1997)

Menurut hasil temuan penelitian Murphy (1998) bahwa pemimpin cerdas dengan intelegensi dan komitmen jenius mematuhi tujuh prinsip petunjuk dalam semua hal yang mereka lakukan dan katakana, yaitu: (1) jadilah seorang peraih prestasi, (2) jadilah orang yang pragmatis, (3) praktekkan kerendahan hati strategis, (4) jadilah orang yang mempunyai focus pada konsumen, (5) jadilah orang yang memiliki komitmen, (6) belajarlah untuk menjadi orang yang optimis, dan (7) jadilah orang yang mau menerima tanggung jawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LT-03: Langkah-langkah Mengembangkan Perangkat Penilaian ABK

LEMBAR TUGAS  3

 

 

Petunjuk Kerja Kelompok:

1.      Diskusikan dalam kelompok, selama 25 menit untuk merumuskan kontribusi kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan intelektual (IQ) terhadap  gaya kepemimpinan di sekolah Saudara.

2.      Laporkan hasil diskusi tersebut oleh perwakilan kelompok, selama maksimal 5 menit untuk masing-masing kelompok.

3.      Setelah dilaporkan oleh perwakilan kelompok, kumpulkan kertas kerja kelompok tersebut ke fasilitator.

 

Nama Mata Tataran                 : …………………………………………………………………

Nama Fasilitator                       : …………………………………………………………………

Nama Kelompok:                     : …………………………………………………………………

Ketua                                       : …………………………………………………………………

Anggota                                   : …………………………………………………………………

                                                  …………………………………………………………………

        …………………………………………………………………

       …………………………………………………………………

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

j.         Kompetensi Sosial

Dinas pendidikan telah menetapkan bahwa kepala sekolah harus mampu melaksanakan pekerjaannya sebagai edukator, manajer, administrator dan suvervisor (EMAS). Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Pasal 12 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1990 menyatakan “Kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana.

Menyadari hal tersebut, setiap kepala sekolah dihadapkan pada tantangan untuk melakukan perubahan dan pengembangan pendidikan secara terarah, berencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya merealisasikan program tersebut dan mengorganisasikan sekolah secara tepat perlu dipahami struktur organisasi, hirarki, kewibawaan dan mekanisme koordinasi di lingkungan sekolah.

Untuk mencapai semua hal tersebut diperlukan beberapa terobosan seperti bagaimana kepala sekolah menganalisis tantangan dan peluang serta kelemahan dan tantangan yang dihadapi secara personal dan institusional (sekolah) biasa dikenal dengan analisis SWOT.

Hasil analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat) dan kajian dari berbagai sumber dapat dikemukakan faktor dominan (kekuatan dan peluang) serta faktor penghambat (kelemahan dan tantangan) kepala sekolah dalam paradigma baru manajemen pendidikan sebagai berikut.

1.        Faktor Dominan (Kekuatan dan Peluang)

Faktor dominan (kekuatan dan peluang) kepala sekolah dalam paradigma baru manajemen pendidikan mencakup gerakan peningkatan kualitas pendidikan, gotong royong dan kekeluargaan, potensi sumber daya manusia, organisasi formal dan informal, organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan industri.

2.      Faktor-faktor Penghambat (Kelemahan dan Tantangan)

Faktor penghambat (kelemahan dan tantangan) kepala sekolah profesional untuk meningkatkan kualitas pendidikan mencakup sistem politik yang kurang stabil, rendahnya sikap mental, wawasan kepala sekolah yang masih sempit, pengangkatan kepala sekolah yang belum transparan, kurangnya sarana dan prasarana, lulusan kurang mampu bersaing, rendahnya kepercayaan masyarakat, birokrasi dan rendahnya produktivitas kerja.

 

 

 

LT-04: Langkah-langkah Mengembangkan Perangkat Penilaian ABK

LEMBAR TUGAS  4

 

 

Petunjuk Kerja Kelompok:

4.      Diskusikan dalam kelompok, selama 25 menit untuk menganalis dengan SWOT di sekolah Saudara.

5.      Laporkan hasil diskusi tersebut oleh perwakilan kelompok, selama maksimal 5 menit untuk masing-masing kelompok.

6.      Setelah dilaporkan oleh perwakilan kelompok, kumpulkan kertas kerja kelompok tersebut ke fasilitator.

Nama Mata Tataran                 : …………………………………………………………………

Faktor Internal

 

 

`Faktor Eksternal

STREGHT (S)

1

2

3

WEAKNESS(W)

1

2

3

OPPORTUNITIES (O)

1

2

3

 

 

TREATHS (T)

1

2

3

 

 

Nama Fasilitator                       : …………………………………………………………………

Nama Kelompok:                     : …………………………………………………………………

Ketua                                       : …………………………………………………………………

Anggota                                   : …………………………………………………………………

                                                  …………………………………………………………………

        …………………………………………………………………

      

PENGAWAS SEKOLAH

PENDIDIKAN DASAR

PENGAWAS SEKOLAH

PENDIDIKAN MENENGAH

KOMPETENSI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

 

 

 

 

 

 

 

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

KEPEIMPINAN

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

PUSAT PENGEMBANGAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK DAN PENDIDIKAN LUAR BIASA

TAHUN 2008

 

LEMBAR INFORMASI

SKENARIO PEMBELAJARAN

 

Mata Tataran                   : Kompetensi Pengawas Sekolah

Waktu                             : 8 jam pelajaran x 45 menit

Jumlah Peserta                 : 30 orang

Penyusun             : Drs. Agus Supriatna, M.Pd.

 

 

A. LATAR BELAKANG

Hasil uji coba tes kompetensi pengawas satuan pendidikan menunjukkan bahwa secara nasional nilai rata-rata penguasaan kompetensi pengawas satuan pendidikan adalah 39,55 dari maksimum skor 70 atau baru mencapai 56.50 %. Penguasaan kompetensi tersebut dinilai masih rendah sebab belum mencapai 60 %. Khusus untuk pengawas SMA nilai rata-ratanya mencapai 39.74, artinya sedikit berada di atas rata-rata nasional (39,74>39,55).

Dari enam dimensi kompetensi pengawas satuan pendidikan, ada tiga dimensi kompetensi yang nilainya di bawah nilai rata-rata keseluruhan kompetensi. Ketiga kompetensi tersebut adalah kompetensi supervisi manajerial (37,18), kompetensi supervisi akademik (36,30) dan kompetensi penelitian dan pengembangan (38,15).

Temuan di atas menunjukkan bahwa pengawas satuan pendidikan mulai pengawas TK/SD sampai pengawas SMA dan SMK masih memerlukan peningkatan dalam hal wawasan dan keterampilan dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian khususnya penelitian pendidikan. Tidaklah mengherankan apabila kenaikan pangkat dan golongan pengawas satuan pendidikan terutama pengawas golongan IV/a ke atas mengalami kesulitan sebab dituntut untuk mengumpulkan 12 angka kredit dari unsur pengembangan profesi yang salah satunya adalah karya tulis ilmiah.

Terdapat lima macam kegiatan pengembangan profesi yang dapat dilakukan pengawas yaitu:

1.         Melaksanakan kegiatan karya tulis ilmiah dalam bidang pendidikan/kepengawasan;

2.         Menyusun pedoman pelaksanaan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial

3.         Menyusun petunjuk teknis pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pengawas;

4.         Menciptakan karya seni; dan

5.         Menemukan teknologi tepat guna di bidang pendidikan dan kepengawasan.

Semua unsur pengembangan profesi memerlukan kemampuan dalam bidang penelitian dan pengembangan. Terlebih lagi kegiatan pengembangan profesi yang pertama yakni melaksanakan kegiatan karya tulis ilmiah dalam bidang pendidikan/kepengawasan. Kegiatan ini sangat penting bagi pengawas mengingat karya tulis ilmiah bagi pengawas berfungsi ganda. Pertama berfungsi untuk kepentingan pengembangan profesi dan kedua berfungsi untuk kepentingan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) pengawas. Lemahnya kemampuan pengawas dalam menulis/menyusun karya tulis ilmiah menyebabkan mandegnya kenaikan pangkat mereka di golongan IV/a dan IV/b. Data menunjukkan jumlah pengawas golongan IV/a dan IV/b mendominasi jumlah pengawas golongan lainnya. Sampel uji coba tes kompetensi pengawas yang telah dilaksanakan di 33 provinsi dengan melibatkan 442 orang, jumlah pengawas golongan IV/a ada 79,61% dan golongan IV/b ada 14, 62%, sedangkan sisanya terbagi untuk pengawas golongan III/c-III/d dan pengawas golongan IV/c-IV/d.

Dari pengalaman tim penilai karya tulis ilmiah ditemukan beberapa kelemahan karya tulis ilmiah yang dibuat pengawas. Kelemahan pertama substansi yang diteliti atau dijadikan tema karya tulis ilmiah bukan tupoksi penawas tetapi kebanyakan bertema tupoksi guru seperti metode mengajar, hasil belajar siswa, penilaian, media pendidikan dll. Tentu saja hal ini tidak relevan dengan tugas pokok pengawas yakni melaksanakan supervisi akademik dan supervisi manajerial. Kelemahan kedua karya tulis ilmiah yang dibuat pengawas diduga tidak asli, sebab ada gejala jiplakan dari skripsi, tesis dan atau dibuat oleh orang lain yang pernah diajukan. Kelemahan ketiga karya tulis ilmiah yang dibuat pengawas tidak diperlukan artinya kurang bermanfaat bagi tugas pokok kepengawasan dalam pengertian membina guru, kepala sekolah dan staf sekolah dalam meningkatkan kinerjanya. Kelemahan keempat karya tulis ilmiah kurang menggunakan kaidah-kaidah berpikir ilmiah yakni menggunakan teori yang didukung dengan fakta empiris atau gabungan dari berpikir deduktif dan berpikir induktif. Kelemahan yang kelima isinya kurang konsisten artinya tidak nampak adanya kesinambungan atau benang merah mulai dari rumusan masalah sampai pada penarikan kesimpulan.

Kelemahan-kelemahan di atas menunjukkan bahwa kemampuan pengawas dalam hal penelitian masih perlu ditingkatkan. Salah satu aspek terpenting dari penelitian adalah perumusan masalah penelitian. Tidak ada penelitian tanpa adanya masalah sebab tujuan dari penelitian adalah memecahkan masalah. Masalah penelitian untuk karya tulis ilmiah pengawas satuan pendidikan adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan kepengawasan. Artinya rumusan masalah yang akan diteliti oleh pengawas adalah masalah yang terkait dengan kepengawasan.Tulisan ini akan memaparkan masalah-masalah yang layak diteliti oleh pengawas satuan pendidikan. Masalah tersebut terkait dengan tugas pokok dan tanggung jawab pengawas satuan pendidikan.

 

 

B.   KONSEP DASAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

1.    Pengertian Penelitian Tindakan

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas (pembelajaran). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penetitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan untuk mernperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. PTK berfokus pada kelas atau pada proses belajar-mengajar yang terjadi di kelas, serta bukan pada input kelas (silabus, materi, dll.) atau output (hasil belajar). PTK harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi dl dalam kelas.

Suharsimi (2002) menjelaskan PTK melalul paparan gabungan definisi dan ketiga kata “Penelitian” + “Tindakan“ + “Kelas” sebagai berikut:

·            Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.

·            Tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang dalam pene-litian berbentuk rangkaian siklus kegiatan.

·            Kelas adalah sekelornpok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru.

PTK adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran

Pengertian kelas dalam PTK adalah sekelompok siswa yang sedang belajar. Siswa yang belajar itu tidak hanya terbatas dalam sebuah ruangan tertutup saja, melainkan dapat juga ketika sedang melakukan karyawisata di objek wisata, laboratonum, rumah, atau tempat lain, ketika siswa sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Komponen dalam sebuah kelas yang dapat dikaji melalui PTK adalah pada:

(1)      Siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedang asyik mengikutii proses pem-belajaran di kelas/lapangan/laboratorium atau beng-kel, maupun ketika sedang asyik megerjakan peker-jaan rumah di malam hari atau ketika mereka sedang mengikuti kerja bakti di luar sekolah.

(2)      Guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan mengajar di kelas, membimbing siswa yang sedang berdamawisata, atau ketika sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa.

(3)      Materi pelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar atau sebagal bahan yang ditugaskan pada siswa.

(4)      Peralatan atau sarana pendidikan, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar, dengan tujuan untuk meningkatkan mutu hasil belajar, yang diamati dapat guru, siswa, atau keduanya.

(5)      Hasil pembelajaran, merupakan produk yang harus ditingkatkan pasti terkait dengan tindakan unsur lain, yaitu proses pembelajaran, peralatan atau sarana pendidikan, guru, atau siswa sendiri.

(6)      Lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang mengunjungi siswa di rumahnya, pada penelitian tindakan, bentuk perlakuan atau tindakan yang dilakukan adalah mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih kondusif.

(7)      Pengelolaan, merupakan kegiatan yang sedang dite-rapkan dan dapat diatur/direkayasa dengan bentuk tindakan. Unsur pengelolaan, yang jelas-jelas meru-pakan gerak kegiatan sehingga mudah diatur dan direkayasa dengan bentuk tindakan. Yang digolong-kan sebagai kegiatan pengelolaan misalnya cara mengelompokkan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan urutan jadwal, pengaturan, tem-pat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan untuk siswa dan sebagainya.

Karena makna ‘kelas” dalam PTK adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar, rnaka permasalahan PTK cukup luas di antaranya adalah sebagi berikut:

(1)      Masalah belajar siswa di sekolah, seperti misalnya permasalahan belajar di kelas, kesalahan-kesalahan dalam pembelajaran misconsepsi, misstrategi, dll.

(2)      Pengembangan profesionalisme guru dalam pening-katan mutu rancangan, pelaksanaan dan evaluasi program pengajaran.

(3)      Pengelolaan dan pengendalian, misalnya pengenalan teknik rnodifikasi perilaku, teknik memotivasi, dan teknik pengembangan potensi diri.

(4)      Desain dan strategi pembelajaran di kelas, rnisalnya masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode pembela-jaran (misalnya penggantian metode mengajar tradisional dengan metode mengajar baru), interaksi di dalam kelas (misalnya penggunaan stretegi penga-jaran yang didasarkan pada pendekatan terpadu).

(5)      Penanaman dan pengernbangan sikap serta niai-nilai, misalnya pengembangan pola berpikir ilmiah dalam diri siswa.

(6)      Alat bantu, media dan sumber belajar, misalnya masalah penggunaan media perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas.

(7)      Sistem asesmen atau evaluasi proses dan hasil pem-belajaran, seperti misalnya masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen asesmen berbasis kompetensi, atau penggunaan alat, metode evaluasi tertentu

(8)      MasaLah kurikulum, misalnya implementasi KBK, urutan penyajian meteri pokok, interaksi guru-siswa, siswa-materi ajar, dan siswa-lingkungan belajar.

Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas. Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan. PTKjuga bertujuan untuk meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesinya.

Pada intinya PTK bertujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pem-belajaran di kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar. Secara lebih rinci tujuan PTK antara lain:

(1)      Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.

(2)      Membantu guru dan tenaga kependidikan lainya dalam mengatasi masalah pembelajaran dan pendi-dikan di dalam dan luar kelas.

(3)      Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.

(4)      Menumbuh-kembangkan budaya akademik di ling-kungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikkan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (sustainable).

Luaran yang diharapkan dihasilkan dari PTK adalah peningkatan atau perbaikan mutu proses dan hasil pem-belajaran yang antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut.

(1)      Peningkatan atau perbaikan kinerja siswa di sekolah.

(2)      Peningkatan atau perbaikan mutu proses pembela-jaran di kelas.

(3)      Peningkatan atau perbaikan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainya.

(4)      Peningkatan atau perbaikan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.

(5)      Peningkatan atau perbaikan masalah-masalah pendi-dikan anak di sekolah.

(6)      Peningkatan dan perbaikan kualitas dalam penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa di sekolah.

Sebagaimana tetah dijelaskan, PTK merupakan bagian dan penelitian tindakan. Ciri khusus PTK adalah adanya tindakan (action) nyata. Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (bukan di laboratorium) dan ditujukan untuk meme-cahkan permasalahan-permasalahan praktis. Tindakan ter-sebut merupakan sesuatu kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Pada penelitian tindakan, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangkaian siklus kegiatan. Masih ada keunikan dari PTK diantaranya adalah:

(1)      PTK merupakan kegiatan penelitian yang tidak saja berupaya untuk memecahkan masalah, tetapi seka-ligus juga mencari dukungan ilmiahnya. PTK meru-pakan bagian penting dan upaya pengembangan profesional guru untuk berfikir kritis dan sistematis, mampu membiasakan membelajarkan guru untuk menulis dan membuat catatan.

(2)      Hal yang dipermasalahkan bukan dihasilkan dari kajian teoretik atau dan hasil penelitian terdahulu, tetapi berasal dari adanya permasalahan yang nyata dan aktual yanq terjadi dalam pembelajaran kelas. Dengan kata lain, PTK berfokus pada masalah praktis bukan problem teoritis atau bersifat bebas konteks.

(3)      PTK hendaknya dimulai dari permasatahan yang sederhana, nyata, jelas dan tajam mengenai hal-hal yang tenjadi di dalam kelas.

(4)      Adanya kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru, kepala sekolah, siswa, dll) dengan peneliti dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan (action)

(5)      Di samping itu, PTK dilakukan hanya apabila: (a) ada keputusan kelompok dan komitmen untuk pengem-bangan, (b) bertujuan rneningkatkan profesionalisme guru, (3) alasan pokok ingin tahu, ingin mernbantu, ingin meningkatkan, dan (d) bertujuan memperoleh pengetahuan dan atau sabagai pemecahan rnasalah.

Sesuai dengan prinsip bahwa ada tindakan yang diran-ang sebelumnya maka objek PTK harus merupakan suatu yang aktif dan dapat dikenai aktifitas. Di samping itu, karena menggunakan kegiatan nyata di kelas, PTK menuntut etika antara lain:

(1)      Tidak boleh mengganggu tugas proses pembelajaran dan tugas mengajar guru

(2)      Jangan terlalu menyita banyak waktu dalam pengam-bilan data, dll.

(3)      Masalah yang dikaji harus merupakan masalah yang benar-benar ada dan dihadapi oleh guru

(4)      Dilaksanakan dengan selatu memegang etika kerja (minta ijin, membuat laporan, dll.)

Salah satu ciri khas PTK adalah adanya suatu kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru, kepala sekolah, siswa, dll.) dan peneliti (dosen, wdyaiswara) dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengabilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan (action). Dalam pelaksaan tindakan di kelas, kerjasama (kola-borasi) antara guru dengan peneliti menjadi hal sangat penting. Melalui kerjasama inilah mereka bersama menggali den mengkaji permasalahan nyata yang dihadapi guru dan/ atau siswa dl sekolah. Sebagai penelitian yang bersifat kolaboratif, maka harus secara jelas diketahul peranan dan tugas yang harus dila-kukan di antara guru dengan peneliti. Dalam PTK, kedudukan peneliti (dosen/widyaiswara) setara dengan guru, dalam arti masing-masing mempunyai peran serta tanggungjawab yang saling membutuhkan dan saling melengkapi untuk mencapal tujuan.

Peran kolaborasi sangat menentukan keberhasilan PTK terutama pada kegiatan: mendiagnosis masalah, menyusun usulan, melaksanakan penelitian (tindakan, observasi, merekam data, evaluasi, dan refleksi), menganalisis data, menyeminarkan hasil, dan menyusun laporan hasil. Kerjasama (kolaborasi) antara guru dengan peneliti sangat penting dalam bersama menggali dan mengkaji permasalahan nyata yang dihadapi terutama pada kegiatan mengdiagnosis masalah, menyusun usulan, melaksanakan tindakan, menganalisis data, menyeminarkan hasil, dan menyusun laporan akhir.

Sering terjadi PTK dilaksanakan sendiri oleh guru. Guru melakukan PTK tanpa kerjasama dengan peneliti. Dalam hal ini guru berperan sebagai peneliti yang sekaigus juga sebagai praktisi pembelajaran. Menurut Suharsimi (2002), pada keadaan seperti ini, maka guru melakukan pengamatan terhadap diri sendiri ketika sedang melakukan tindakan. Untuk itu guru harus mampu melakukan pengamatan diri secara objektif agar kelemahan yang terjadi dapat terlihat dengan wajar, tidak ditutup-tutupi. Guru yang profesional, memang seharusnya mampu mengajar sekaligus meneliti. Di samping itu dengan melalui PTK seperti itu, guru dapat:

(1)      Mengkaji/meneliti sendiri praktik pembelajarannya

(2)      Melakukan PTK dengan tanpa menggaggu tugasnya

(3)      Mengkaji permasalahan yang dialami dan yang sa-ngat dipahami

(4)      Melakukan kegiatan guna mengembangkan profe-sionalismenya.

Jadi boleh saja guru melakukan PTK tanpa kolaborasi dengan peneliti, namun perhatikan kritik berikut ini, bahwa: Penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru tanpa kerjasama dengan peneliti mempunyai kelemahan karena para praktisi umumnya (dalam hal ini adalah guru ) kurang akrab dengan teknik-teknik dasar penelitian. Di samping itu, umumnya tidak memiliki waktu untuk melakukan penelitian sehubungan dengan padatnya kegiatan pengajaran yang dilakukan. Akibatnya, hasil PTK menjadl kurang memenuhi kriteria validitas metologi ilmiah.

Sebagai suatu penelitian terapan, PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan proses dan kualitas atau hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahapan-tahapan PTK, guru dapat menemukan penyelesaikan bagi masalah yang terjadi di kelasnya sendiri, dan bukan di kelas guru yang lain. Tentu saja dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Selain itu, sebagai peneliti praktis, PTK dilaksanakan bersamaan guru melaksanakan tugas utama yaitu mengajar di dalam kelas, tidak perlu harus meninggalkan siswa. Dengan demikian, PTK merupakan suatu penelitian yang melekat pada guru, yaitu mengangkat masalah-masalah aktual yang dialami oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, diharapkan guru memiliki peran ganda, yaitu sebagai praktisi dan sekaligus peneliti. Terkait dengan hal tersebut, terdapat beberapa prinsip dalam pelaksanaan PTK yaitu:

(1)      Tindakan dan pengamatan dalam proses penelitian yang dilakukan tidak boleh mengganggu atau menghambat kegiatan utama, misalnya bagi guru tidak boleh sampai mengorbankan kegiatan atau proses belajar mengajar. Pekerjaan utama guru adalah mengajar, dan apapun metode PTK yang kebetulan diterapkan, seyogyanya tidak berdampak mengganggu komitmen guru sebagai pengajar. Ada 3 hal yang dapat dikemukakan berkenaan dengan prinsip pertama ini. Pertama, dalam mencobakan sesuatu tindakan pembelajaran yang baru, selalu ada kemungkinan bahwa setidak-tidaknya pada awal-awalnya hasilnya kurang memuaskan dari yang dikehendaki. Bahkan mungkin kurang dari yang diperoleh dengan “cara lama” Karena bagaimanapun tindakan perbaika tersebut masih dalam taraf dicobakan. Guru harus menggunakan pertimbangan serta tanggung jawab profesionalnya dalam menimbang-nimbang : jalan keluar” yang akan mereka tempuh dalam rangka memberikan yang terbaik kepada siswa. Kedua, iterasi dari siklus tindakan juga dilakukan dengan mempertimbangkan keterlaksanaan kurikulum secara keseluruhan, khususnya dari segi pembentukan pemahaman yang mendalam yang ditandai oleh kemampuan menerapkan pengetahuan yang dipelajari melalui analisis, sintesis dan evaluasi informasi, bukan terbatas dari segi tersampaikannya GBPP kepada siswa dalam rukun waktu yang telah ditentukan. Ketiga, penetapan siklus tindakan dalam PTK mengacu kepada penguasaan yang ditargetkan pada tahap perancangan, dan sama sekali tidak mengacu kepada kejenuhan informasi sebagaimana lazim dipedomani dalam proses iteratif pengumpulan data penelitian kualitatif.

(2)      Masalah penelitian yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah yang cukup merisaukannya, dan berpijak dari tanggung jawab profesionalnya. Guru sendiri harus memiliki komitmen ini juga diperlukan sebagai motivator intrinsik bagi guru untuk “bertahan” dalam pelaksanaan kegiatan yang jelas-jelas menuntut lebih dari yang sebelumnya diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas mengajarnya secara rutin. Dengan kata lain, pendorong utama pelaksanaan PTK adalah komitmen profesional untuk memberikan layanan yang terbaik kepada siswa. Dilihat dari sudut pandang ini, desakan untuk sekedar menyampaikan pokok bahasan sesuai dengan GBPP dapat dan perlu ditolak karena alasan profesional yang dimaksud.

(3)      Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan bagi guru, sehingga berpeluang menggangu proses pembelajaran di kelas. Dengan kata lain, sejauh mungkin harus digunakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru, sementara guru tetap aktif berfungsi sebagai guru yang bertugas secara penuh. Sebagai gambaran, penggunaan tape recorder memang akan menghasilkan rekaman yang lengkap dibanding dengan perekaman manual, namun peningkatan waktu yang diperlukan untuk mencermati data melalui pemutaran ulang mungkin akan segera terasa berlebihan. Oleh karena itu, dikembangkan teknik-teknik perekaman yang cukup sederhana, namun dapat menghasilkan informasi yang cukup signifikan serta dapat dipercaya.

(4)      Metodologi yang digunakan harus terencana cermat, sehingga tindakan dapat dirumuskan dalam suatu hipotesis tindakan yang dapat diuji di lapangan. Guru dapat mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk “menjawab” hipotesis yang dikemukakan oleh karena itu, meskipun pada dasarnya “terpaksa” memperbolehkan “kelonggaran – kelonggaran” namun penerapan asas – asas dasar telaah taan kaidah tetap harus dipertahankan.

(5)      Permasalahan atau topik yang dipilih harus benar – benar nyata, menarik, mampu ditangani, dan berada dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan. Peneliti harus merasa terpanggil untuk meningkatkan diri.

(6)      Peneliti harus tetap memperhatikan etika dan tata krama penelitian serta rambu – rambu pelaksanaan yang berlaku umum. Dalam penyelenggaraan PTK, guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Hal ini penting ditekankan karena selain melibatkan para siswa, PTK juga hadir dalam suatu konteks organisasional, sehingga penyelenggaraannya pun harus mengindahkan tata krama kehidupan berorganisasi. Artinya, prakarsa PTK harus diketahui oleh pimpinan lembaga, disosialisasikan kepada rekan-rekan dalam lembaga terkait, dilakukan sesuai tata krama penyusunan karya tulis akademik, di samping tetap mengedepankan kemaslahatan subjek didik.

(7)      Kegiatan penelitian tindakan pada dasarnya harus merupakan gerakan yang berkelanjutan, karena skope peningkatan dan pengembangan memang menjadi tantangan sepanjang waktu.

(8)      Meskipun kelas, sekaligus mata pelajaran merupakan cakupan tanggung jawab bagi seorang guru, namun dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin harus digunakan classroom exceeding perspective dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan / atau mata pelajaran tertentu, melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan. Perspektif yang lebih luas ini akan terlebih – lebih lagi terasa urgensinya, apabila dalam suatu PTK, terlibat lebih dari seorang peneliti. Dapat juga dilakukan kolaborasi di antara dua atau lebih guru dalam satu sekolah dan / atau guru dari sekolah lain, termasuk dosen LPTK

 

C.   PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PTK merupakan kegiatan kolaborasi antara peneliti, praktisi (para guru atau pendidik yang lain) yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Bila guru melakukan PTK untuk kelasnva sendiri, maka ia bertindak selaku peneliti yang sekaligus praktisi. Guru yang profesional hendaknya mampu mengajar sekaligus meneliti. Terdapat tiga hal penting dalam pelaksanaan PTK yakni sebagai berikut:

(1)      PTK adalah penelitian yang mengikutsertaan secara aktif peran guru dan siswa dalam berbagai tindakan.

(2)      Kegiatan refleksi (perenungan, pemikiran, evaluasi) dilakukan berdasarkan pertimbangan rasional (meng-gunakan konsep teori) yang mantap dan valid guna melakukan perbaikkan tindakan dalam upaya meme-cahkan masalah yang teriadi.

(3)      Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pembelajaran dilakukan dengan segera dan dilaku-kan secara praktis (dapat dilakukan dalam praktik pembelajaran).

Dalam melaksanakan PTK hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:

(1)      PTK tidak boleh mengganggu tugas proses pembe-lajaran dan tugas mengajar guru.

(2)      PTK tidak boleh terlalu banyak menghabiskan waktu, karena itu PTK sudah harus dirancang dan diper-siapkan dengan rinci dan matang

(3)      Pelaksanaan tindakan hendaknya konsisten dengan rancangan yang telah dibuat.

(4)      Masalah yang dikaji harus merupakan masalah yang benar­-benar ada dan dihadapi oleh guru.

(5)      Pelaksanaan PTK harus selalu dengan mengikuti etika kerja yang berlaku (memperoleh ijin dan kepala sekolah, membuat laporan, dll.)

(6)      Harus selalu menjadi fokus bahwa PTK bertujuan untuk menjadikan adanya perubahan atau peningka-tan mutu proses dan hasil belajar, melalui serang-kaian bentuk tindakan-tindakan pembelajaran. Kare-na itu adanya kemauan dan kemampuan untuk berubah menjadi sangat penting.

(7)      PTK juga dimaksudkan untuk membelajarkan guru agar meningkat dalam kemauan dan kemampuan berpikir kritis dan sistematis.

(8)      PTK juga bertujuan untuk lebih membiasakan atau membelajarkan guru menulis, membuat catatan, dan berbagai kegiatan akademik-ilmiah yang lain.

(9)      PTK hendaknya dimulai dan permasalahan yang sederhana, nyata, jelas dan tajam.

PTK dilaksanakan dalam bentuk siklus yang berulang, di dalamnya terdapat empat tahapan utama kegiatan yaitu:

(1)      Perencanaan,

(2)      Tindakan,

(3)      Pengamatan, dan

(4)      Refleksi.

 

 

 

Pelaksanaan PTK dimulal dengan siklus pertama yang terdiri dan empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dan tindakan yang dilaksanakan pada sikius pertama tersebut, guru (bersama peneliti, bila PTK-nya tidak dilakukan sendiri oleh guru) menentukan rancangan untuk siklus kedua. Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi kesuksesan, untuk meyakinkan atau menguat-kan hasil. Tapi pada umumnya kegiatan yang dilakukan dalam siklus kedua mempunyal berbagai tambahan perba-ikan dari tindakan terdahulu yang ditunjukan untuk menga-tasi berbagai hambatan/kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama.

Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, maka guru dapat melanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan guru belum merasa puas, dapat melanjutkan dengan siklus ketiga, yang cara dan taha-pannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa kali siklus harus dilakukan. Banyaknya siklus tergantung dan kepuasan peneliti sendiri, namun ada saran, sebaiknya tidak kurang dari dua siklus. Rincian kegiatan pada setiap tahapan adalah sebagai berikut:

 

1.    Merencanakan

Tahapan ini berupa menyusun rancangan tindakan yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut akan dilakukan. Pada PTK di mana peneliti dan guru adalah orang yang berbeda, dalam tahap menyusun rancangan harus ada kesepakatan antara keduanya. Rancangan harus dilakukan bersama antara guru yang akan melakukan tindakan dengan peneliti yang akan mengamati jalannya tindakan. Hal tersebut untuk mengurangi unsur subyektivitas penga-mat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan.

Pada tahap perencanaan peneliti menentukan fokus peristiwa yang pertu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlang-sung. Secara rinci, pada tahapan perencanaan terdiri dan kegiatan sebagai berikut:

(a)      Mengidentifikasi dan menganalisis masalah secara jelas sehingga dapat dimengerti masalah apa yang akan diteliti. Masalah tersebut harus benar-benar faktual, terjadi di lapangan, masalah bersifat umum di kelasnya. Masalahnya juga harus penting dan bermanfaat pada peningkatkan mutu pembelajaran. Masalah itu harus dalam jangkauan kemampuan peneliti.

(b)      Menetapkan alasan mengapa penelitian tersebut dila-kukan, yang akan melatarbelakangi PTK ini.

(c)      Merumuskan masalah secara jelas, baik itu dengan kalimat tanya maupun kalimat pernyataan

(d)      Menetapkan cara yang akan dilakukan untuk mene-mukan jawaban, berupa rumusan hipotesis tindakan. Umumnya dimulal dengan menetapkan berbagai altematif tindakan pemecahan masalah, kemudian dipilih tindakan yang paling menjanjikan hasil terbaik dan yang dapat dilakukan guru.

(e)      Mentukan cara untuk menguji hipotesis tindakan, dengan menjabarkan indikator-indikator keberha-silannya, serta berbagai instrumen pengumpul data yang dapat dipakai untuk menganalisis indikator keberhasilan itu.

(f)       Membuat secara rinci rancangan tindakan.

Berikut disajikan contoh ringkasan permasalahan PTK yang mempunyai rumusan: “Apakah metode pembe-lajaran konstruktivistik mampu meningkatkan hasil bela]ar siswa, pada mata pelajaran X?” PTK ini dilakukan antara seorang peneliti melalui kola-borasi dengan guru mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan melakukan diskusi berdasar pada kedaan senya-tanya yang ada di kelas, peneliti dan guru merancang PTK dengan kegiatan utama sebagai berikut:

(a)      Merancang bagian isi mata pelajaran dan bahan bela-jarnya yang disesuaikan dengan konsep konstruk-tivistik, dalam hal ini isi mata pelajaran dapat disusun dengan berbasis kontekstual yang mengacu pada: belajar berbasis masalah, pengajaran autentik, belajar berbasis inkuiri, belajar berbasis kerja, bela-jar berbasis proyek atau penugasan, serta belajar kooperatif.

(b)      Merancang strategi dan skenario penerapan pembe-lajarannya yang menggunakan prinsip pembelajaran konstruktivistik, seperti mengaktifan proses berta-nya, penemuan, pemodelan, dan lain-lain, yang dibuat dengan rinci.

(c)      Menetapkan indikator ketercapaian dan menyusun instrumen pengumpul data.

 

2.    Melaksanakan Tindakan

Pada tahapan ini, rancangan strategi dan skenario penerapan pembelajaran akan diterapkan. Tentu saja rancangan tindakan tersebut telah “dilatihkan” kepada pelaksana tindakan (guru) untuk dapat diterapkan di dalam kelas sesuai skenarionya. Skenario dan tindakan harus dilaksanakan benar-­benar, namun tampak berlaku wajar. Pada PTK yang dilakukan guru, pelaksanaan tindakan ini umumnya dilakukan dalam waktu antara 2 sampal 3 bulan. Waktu tersebut dibutuhkan untuk dapat menyesaikan sajian beberapa pokok bahasan dan mata pelajaran tertentu. Berikut disajikan contoh ringkasan rencana (skenario) tindakan yang akan dilakukan pada satu PTK:

·            Dirancang penerapan metode tugas dan diskusi dalam pembelajaran X untuk pokok bahasan : A, B, C dan D

·            Format tugas: pembagian kelompok kecil sesuai jumlah pokok bahasan, pilih ketua, sekretaris, dll oleh dan dari anggota kelompok, bagi topik bahasan untuk kelompok dengan cara random, dengan cara yang menyenangkan

·            Kegiatan kelompok: mengumpulkan bacaan, melalui diskusi anggota kelompok bekerja/belajar memahami materi, menuliskan hasil diskusi dalam OHP untuk persiapan presentasi

·            Presentasi dan diskusi pleno: masing-masing kelompok menyajikan hasil kerjanya dalam pleno kelas, guru sebagai moderator, lakukan diskusi, ambil kesimpulan sebagai hasil pembelajaran

·            Jenis data yang dikumpulkan: Makalah kelompok, lembar OHP hasil kerja kelompok, siswa yang aktif dalam diskusi, dll.

 

3.    Melakukan Pengamatan atau Observasi

Tahapan ini sebenarnya berjalan bersamaan pada saat pelaksanaan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Pada tahapan ini, si peneliti (atau guru apabila ia bertindak sebagai peneliti) melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama pekasanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan dari waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, hasil kuis, presensi, nilal tugas, dan lain-lain) tetapi juga data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, atusias mereka, mutu diskusi yang dilakukan, dan lain-lain.

Instrumen yang umum dipakai adalah (a) soal tes, kuis, (b) rubrik, (c) lembar observasi, dan (d) cacatan lapangan yang dpakai untuk memperoleh data secara obyektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi, seperti misalnya aktivitas siswa selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau pentunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.

Sebagai contoh pada satu usulan PTK akan dikumpulkan data sebagai berikut: (a) skor tes esai tanpa rubrik, (b) skor tes esai dengan rubrik, (c) skor kualitas (kualitatif) dalam pelaksanaan diskusi dan jumlah pertanyaan dan jawaban yang terjadi selama proses pembelajaran, serta (d) hasil observasi dan catatan lapangan yang berkaitan dengan kegiatan siswa. Untuk itu akan dipakai instrumen (a) soal tes yang berbentuk esai, yang akan diskor tanpa rubrik maupun dengan rubrik, (b) rubrik yaitu pedoman dan kriteria penilaian/skoring baik dari tes esai maupun untuk pertanyaan dari jawaban lisan selama diskusi, (c) lembar observasi guna memperoleh data aktivitas diskusi yang diskor dengan rubrik, dan (d) catatan lapangan. Data yang dikumpulkan hendaknya dicek untuk menge-tahui keabsahannya. Berbagai teknik dapat dilakukan untuk tujuan ini, seperti misalnya teknik triangulasi dengan cara membandingkan data yang diperoleh dengan data lain, atau kritenia tertentu yang telah baku, dan lain sebagainya. Data yang telah terkumpul memerlukan analisis untuk dapat mempermudah penggunaan maupun dalam penarikan kesimpulan. Untuk itu berbagai teknik analisis statitika dapat digunakan.

 

4.    Melakukan Refleksi:

Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dan proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan yang dihadapi dapat teratasi.

 

D.   USULAN/PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Penyusunan proposal atau usulan penelitian merupakan langkah awal yang harus dilakukan peneliti sebelum memulai kegiatan PTK. Proposal PTK dapat membantu memberi arah pada peneliti agar mampu menekan kesalahan yang mungkin terjadi selama penelitian berlangsung. Proposal PTK harus dibuat sistematis dan logis sehingga dapat dijadikan pedoman yang mudah diikuti. Proposal PTK adalah gambaran terperinci tentang proses yang akan dilakukan peneliti (guru) untuk memecahkan masalah dalam pelaksanaan tugas (pembelajaran).

Proposal atau sering disebut juga sebagai usulan penelitian adalah suatu pernyataan tertulis mengenai rencana atau rancangan kegiatan penelitian secara keseluruhan. Proposal PTK penelitian berkaitan dengan pernyataan atas nilai penting dari suatu penelitian. Membuat proposal PTK bisa jadi merupakan langkah yang paling sulit namun menyenangkan di dalam tahapan proses penelitian. Sebagai panduan, berikut dijelaskan sistematika usulan PTK:

 

JUDUL PENELITIAN

Judul penelitian dinyatakan secara singkat dan spesifik tetapi cukup jelas menggambarkan masalah yang akan diteliti, tindakan untuk mengatasi masalah serta nilai manfaatnya. Formulasi judul dibuat agar menampilkan wujud PTK bukan penelitian pada umumnya. Umumnya di bawah judul utama dituliskan pula sub judul. Sub judul ditulis untuk menambahkan keterangan lebih rinci tentang subyek, tempat, dan waktu penelitian. Berikut adalah beberapa contoh judul PTK dalam pendidikan dasar:

(1)      Meningkatkan hasil belajar melalui pembelajanan kooperatif pada mata pelajaran IPS ( dapat dituliskan topik bahasan dan juga mata pelajarannya) di SD Negeri Banjarsari, Bandung.

(2)      Penerapan pembelajaran model Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada mata pelajaran Fisika Kelas VII di SD …………………..

(3)      Implementasi Pembelajaran Kontekstual pada Mata Pelajaran Geografi untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep tentang Perpindahan Penduduk.

 

BAB I PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan pembelajaran. Untuk itu, dalam uaraian tentang latar belakang masalah dipaparkan:

(1)      Masalah yang diteliti adalah benar-benar suatu masa-lah pembelajaran yang terjadi di sekolah. Umumnya didapat dari pengamatan dan kajian (diagnosis) yang dilakukan guru atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. Oleh karena itu, perlu dijelaskan pula proses atau kondisi yang terjadi.

(2)      Masalah yang akan diteliti merupakan suatu masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya dan daya dukung lainnya yang dapat memper-lancar penelitian tersebut.

(3)      Identifikasi masalah di atas, jelaskan hal-hal yang diduga menjadi akar penyebab dari masa!ah tersebut. Secara cermat dan sistematis berikan ala-san (argumentasi) bagaimana dapat menarik kesim-pulan tentang akar masalah itu.

 

B.   Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah

Pada bagian ini umumnya terdiri dari jabaran tentang rumusan masalah, cara pemecahan masalah, tujuan serta manfaat atau kontribusi hasil penelitian.

(1)      Perumusan Masalah: Berisi rumusan masalah penelitian. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan PTK. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan dilakukan dan hasil positif yang diantisipasi dengan cara mengajukan indikator keberhasilan tindakan, cara pengukuran serta cara mengevaluasinya.

(2)      Pemecahan Masalah: Uraian altematif tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah. Pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, yang disesuaikan dengan kaidah PTK. Cara pemecahan masalah ditentukan atas dasar akar penyebab permasalahan dalam bentuk tindakan yang jelas dan terarah. Alternatif pemecahan yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Disamping itu, juga harus terbayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah lainnya.Juga harus dicermati artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal.

 

C.   Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian

Tujuan PTK dirumuskan secara jelas, dipaparkan sasaran antara dan sasaran akhir tindakan perbaikan. Perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian-bagian sebelumnya. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi pembelajaran yang dianggap sesuai, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan lain sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi pembelajaran bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverfikasi secara obyektif. Disamping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh, khususnya bagi siswa, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan-rekan guru lainnya serta bagi dosen LPTK sebagai pendidik guru. Pengembangan ilmu, bukanlah prioritas dalam menetapkan tujuan PTK

 

BAB II KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Pada bagian ini diuraikan landasan konseptual dalam arti teoritik yang digunakan peneliti dalam menentukan alternatif pemecahan, masalah. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian baik pengalaman peneliti PTK sendiri nyang relevan maupun pelaku-pelaku PTK lain disamping terhadap teori-teori yang lajim hasil kajian kepustakaan. Pada bagian ini diuraikan kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan mendasar usulan rancangan penelitian tindakan. Kemukakan juga teori, temuan dan bahan penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dapat dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan/diantisipasi. Sebagai contoh, akan dilakukan PTK yang menerapkan model pembelajaran kontekstual. Pada kajian pustaka harus jelas dapat dikemukakan:

(1)      Bagaimana teori pembelajaran kontekstual, siapa saja tokoh-tokoh di belakangnya, bagaimana sejarahnya, apa yang spesifik dari teori tersebut, persyaratannya, dll.

(2)      Bagaimana bentuk tindakan yang dilakukan dalam penerapan teori tersebut pada pembelajaran, strategi pembelajarannya, skenario pelaksanaannya, dll.

(3)      Bagaimana keterkaitan atau pengaruh penerapan model tersebut dengan perubahan yang diharapkan, atau terhadap masalah yang akan dipecahkan, hal ini hendaknya dapat dijabarkan dari berbagai hasil penelitian yang sesuai.

(4)      Bagaimana perkiraan hasil (hipotesis tindakan) dengan dilakukannya penerapan model di atas pada pembelajaran terhadap hal yang akan dipecahkan.

 

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

Pada bagian ini uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan objek, waktu dan lamanya tindakan, serta lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Sistematika dalam ini meliputi:

a.         Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian, Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita. Latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan,tingkat kemampuan dan lain sebagainya.

b.         Variabel yang diselidiki, Pada bagian ini ditentukan variabel – variabel penelitian yang dijadikan fokus utama untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa (1) variabel input yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) varaibel output seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.

c.         Rencana Tindakan, Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti :

1)        Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan tindakan, pelaksanaan tes diagnostic untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan ala-alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang ditetapkan. Disamping itu juga diuraikan alternative-alternative solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah

2)        Implementasi Tindakan yaitu deskripsi tindakan yang akan di lakukan. Skenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.

3)        Observasi dan Interpretasi yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.

4)        Analisis dan Refleksi yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

d.         Data dan cara pengumpilannya, Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan baik proses maupun dampak tindakan perbaikan yang di gelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya.

e.         Indikator kinerja, Pada bagaian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindak perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan yang diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.

f.          Tim peneliti dan tugasnya, Pada bagian ini hendaknya dicantumakan nama-nama anggota tim peneliti dan uraian tugas peran setiap anggota tim peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian.

g.         Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir.

h.         Renacara anggaran, meliputi kebutuhan dukungan financial untuk tahap persiapan pelaksanan penelitian, dan pelaporan.

 

Daftar Pustaka

 

LAMPIRAN (Lain-lain yang dianggap perlu seperti rancangan materi dan pembelajaran yang akan dilaksanakan, serta alat pengumpulan data).

 

E.    LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN

Apabila guru sudah merasa puas dengan siklus-siklus yang dilakukan, langkah berikutnya tidak lain adalah menyusun laporan kegiatan. Proses penyusunan laporan ini tidak akan dirasakan sulit apabila sejak awal guru sudah disiplin mencatat apa saja yang sudah dilakukan. Untuk menyusun laporan penelitian diperlukan pedoman penulisan yang dapat dipakai sebagai acuan para peneliti pelaksana, sehingga tidak ditemukan adanya variasi bentuk. Disamping itu juga perlu disesuaikan dengan pedoman yang sudah ditetapkan Diknas dalam rangka memenuhi persya-ratan penulisan karya tulis ilmiah (KTI) dalam upya meningkatkan jabatan/golongan melalui pengembangan profesi.

Berikut ini disampaikan bentuk laporan PTK dalam rangka mempertanggungjawabkan kegiatan yang dilakukan dengan dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:

 

BAGIAN AWAL:

1.    Halaman Judul

2.    Halaman Pengesahan

3.    Abstrak

4.    Kata Pengantar

5.    Daftar Isi

6.    Daftar tabel/lampiran

 

BAGIAN ISI:

BAB I PENDAHULUAN

A.   Latar belakang masalah

Diskripsikan masalah penelitian secara jelas dengan dukungan data faktual yang menunjukkan adanya masalah pada setting tertentu, pentingnya masalah untuk dipecahakan. Uraikan bahwa masalah yang diteliti benar-benar nyata, berada dalam kewe-nangan guru dan akibat yang ditimbulkan kalau masalah itu tidak dipecahkan.

 

B.   Rumusan masalah

Rumuskan masalahnya dalam bentuk kalimat tanya, sehingga akan terjawab setelah tindakan selesai dilakukan. Diupayakan rumusan masalah ini dapat dirinci dalam proses, situasi, hasil yang diperoleh.

 

C.   Tujuan Penelitian

Kemukakan tujuan penelitian secara rinci sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan pada bagian sebelumnya.

 

D.   Manfaat Penelitian

Dalam menyampaikan manfaat penelitian tidak per-lu ambisius, rumuskan yang terkait dengan siswa, dan dapat juga diperluas ke guru.

 

BAB II KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA

Kemukakan teori dan hasil kajian/temuan/penelitian yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Serta memberi arah serta petunjuk pada pelaksanaan tin-dakan yang dilaksanakan dalam penelitian. Diperlukan untuk dapat membangun argumentasi teoritis yang menunjukan bahwa tindakan yang diberikan dimung-kinkan dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelas. Pada akhir bab ini dapat dikemukakan hipotesis tindakan.

 

BAB III Prosedur/Metode Penelitian

Deskripsikan setting penelitian secara jelas, tahapan di setiap siklus yang memuat: rencana, pelaksanaan/ tindakan, pemantuan dan evaluasi beserta jenis instru-men yang digunakan, refleksi (perlu dibedakan antara metode penelitian pada usulan penelitian dengan metode yang ada pada laporan penelitian). Tindakan yang dilakukan berisfat rasional, feasible, collaborative.

 

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada awalnya dideskripsikan setting penelitian secara lengkap kemudian uraian masing-masing siklus dengan disertai data lengkap berserta aspek-aspek yang direkam/diamati tiap siklus. Rekaman itu menunjukkan terjadinya perubahan akibat tindakan yang diberikan. Ditunjukkan adanya perbedaan dengan pelajaran yang biasa dilakukan. Pada refleksi diakhir setiap siklus berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang tenjadi dalam bentuk grafik. Kemukakan adanya perubahan/kemajuan/perbaikan yang terjadi pada diri siswa, lingkungan kelas, guru sendiri, minat, motivasi belajar, dan hasil belajar. Untuk bahan dasar analisis dan pembahasan kemukakan hasil keseluruhan siklus kedalam suatu ringkasan tabel/grafik. Dan tabel/grafik rangkuman itu akan dapat memperjelas adanya peru-bahan yang terjadi disertai pembahasan secara rinci dan jelas.

 

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Sajikan simpulan dan hasil penelitian sesuai dengan analisis dan tujuan penelitian yang disampaikan sebelumnya. Berikan saran sebagai tindak lanjut ver-dasarkan simpulan yang diperoleh baik yang menyang-kut segi positif maupun negatifnya.

 

BAGIAN PENUNJANG

 

Daftar Pustaka

Memuat semua sumber yang dirujuk dalam kajian teori yang digunakan dalam semua bagian laporan, dengan sistem penutisan yang konsisten menurut modell APA, MLA atau TRABIAN.

 

Lampiran-Lampiran

Berisi lampiran tentang instrumen yang digunakan dalam penelitian, lembar jawaban dari siswa, ijin penelitian dan bukti lain yang dipandang penting.

 

F.    RANGKUMAN

Penelitian tindakan adalah kegiatan penelitian yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan mutu praktek termasuk praktek pendidikan/ pembelajaran di sekolah. Penelitian tindakan kelas adalah bentuk penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran sejalan dengan tugas pokok dan fungsi guru melaksanakan kegiatan pembelajaran. Penelitian tindakan sekolah adalah penelitian tindakan yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap semua komponen sistem sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah sejalan dengan tugas kepala sekolah dalam hal pengelolaan sekolah. Penelitian tindakan kepengawasan adalah penelitian tindakan yang dilakukan pengawas sekolah terhadap guru, kepala sekolah serta kompoenen sistem pendidikan lainnya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah sejalan dengan tugas kepala pengawas sekolah dalam melaksanakan supervisi akademik dan manajerial.

Berdasarkan pendekatan/metode yang digunakannya, penelitian tindakan kelas, sekolah, dan kepengawasan memiliki prosedur yang sama hanya saja tujuan, sasaran dan lingkup kajiannya berbeda. Penelitian tindakan kelas diarahkan pada peningkatan mutu pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai sasasaran utamanya. Penelitian tindakan sekolah diarahkan pada peningkatan mutu pengelolaan sekolah yang menempatkan siswa, guru, dan tenaga administrasi sekolah sebagai sasaran utamanya. Penelitian tindakan dalam bidang kepengawasan diarahkan pada peningkatan mutu supervisi akademik dan manajerial yang menempatkan guru, tenaga administrsi sekolah, dan kepala sekolah sebagai sasaran utamanya.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Keputusan Menteri Negera Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya

 

Keputusan bersama Menteri Pendidikan dan kebudayaan dan Kepala BAKN Nomor 0433/P/1993, nomor 25 tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

 

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 025/0/1995.

 

Suhardjono, Azis Hoesein, dkk. (1996). Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Widya-iswara. Jakarta: Depdikbud, Dikdasmen.

 

Suhardjono. (2003). Penelitian Tindakan Kelas. Makalah pada “Diklat Pengembangan Profesi bagi Jabatan Fungsional Guru”, Direktorat Tenaga Kependidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas.

 

Suhardjono. (2005). Laporan Penelitian Eksperimen dan Penelitian Tindakan Kelas sebagai KTI, Makalah pada “Pelatihan Peningkatan Mutu Guru di Makasar”, Jakarta, 2005

 

Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. (2006). Peneilitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bina Aksara.

 

Supardi. (2005). Penyusunan Usulan, dan Laporan Penelitian Penelitian Tindakan Kelas, Makalah disampaikan pada “Diklat Pengembangan Profesi Widyaiswara”, Ditektorat Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: