Asupriatna’s Weblog

25 18000000Selasa36 2008

Mari Mengenal dan Berapresiasi Drama (bagian 1)

Filed under: Uncategorized — asupriatna @ 00.00



DRAMA DAN BERBAGAI ISTILAHNYA

  1. 1. Drama sebagai Naskah (repertoir)

Unsur drama sebagai naskah bisa berupa alur, penokohan (beserta sifat-sifatnya), dialog, keterangan laku (mine, gestur, move), gambaran suasa tempat pengadegan, dan

Konflik tokoh-tokohnya atau sebagian inti naskah drama, menurut Bruneriere, (1977) hukum drama itu adanya konflik.Bagaimana mungkin adanya alur tanpa konflik, ada dialog yang tanpa konflik, ada dialog yang tanpa gambaran konflik. Hal seperti itu bukan lagi disebut drama.

Menurut Dietrich, (1986) ada bahan-bahan materials naskah drama, meliputi gambar karakter, situasi, subjek atau tema naskah. Juga ada he tools of play wrigh, meliputi (1) dialog dan (2) eksyen (action). Kemudian struktur naskah (play structure) meliputi eksposisi, konflik, konflikasi (dimulainya eksyen), resolusi dan keputusan. Lima tingkat tersebut dapat disebut pula sebagai lima bagian naskah drama.

Dari unsur-unsur materials (bahan-bahan) maupun alat-alat (the tools) sampai pada struktur (play wrigh) tersebut dalam pembahasannya selalu dikaitkan dengan maksud membedakan naskah lakon (atau play). Dengan eksyen, artinya apabila dianalisis secara kesusastraan pembahasan suatu play harus terpisah dari pembahasan tentang pementasannya. Pembahasan tentang pementasannya, bisa berarti membuat resensi fenomena atas usaha pementasan teater atau drama dalam arti pentas teater (event pentas).

  1. 2. Drama sebagai Pementasan (theater)

Pengertian drama sebagai kegiatan pementasan naskah lakon, akan menyangkut berbagai bidang. Karena pementasan drama merupakan kegiatan dari hasil kerjasama (ensamble) dari berbagai komponen. Baik dari hasil karya seni dan karya nonseni.  Drama itu diperuntukan bagi para penonton (audiens). Hal tersebut, berarti ada penghayatan drama audiens yang berkumpul menikmati naskah lakon yang sedang digelar di pentas.

Unsur-unsur drama yang berarti teater meliputi naskah lakon (repertoir), pemeran peran (eksyen) dan rupa.

  1. Unsur reperotir, pada drama-drama yang bersifat improvisasi hampir tidak menumbuhkan play (naskah), namun bisa dimungkinkan repertoir tadi ditulis dalam bentuk snapshot saja.
  2. Unsur eksyen ini berujud perbuatan dramatik melalui proses kerjasama para aktor dan sutradara.
  3. Unsur rupa meliputi segala yang nampak dalam pergelaran dari papan pentas, perlampuan, dekor, atau setting sampai sound systemnya.

Pada unsur eksyen yang dihasilkan oleh kerja aktor (pemeran) yang berujud teknik vokal dan teknik gerak. Biasanya sebutan teknik akting (the techique of acting), berwujud segala perbuatan atau tindakan para aktor di atas pentas.

3. Pengertian Drama dan Berbagai Istilahnya

Secara etimologi drama berasal dari kata kerja dran dari bahasa Greek yang mengandung arti berbuat (Tarigan, 1984:69). Pengertian drama itu semakin luas. Berikut ini akan dikemukakan pengertian drama itu dari berbagai pendapat yang dikemukakan para ahli sebagai berikut.

John. E. Dietrich (1957) menjelaskan tentang pengertian drama ini dari Aristoteles bahwa drama itu adalah suatu imitasi (peniruan) dari suatu aksi (action) yang mendekat “a doing”, maka definisi yang disusun oleh Dietrich, drama adalah sebuah cerita dalam bentuk dialog dari konflik manusia, diproyeksikan lewat percakapan dan perbuatan/tindakan yang digelar di depan penonton. Inti pengertian drama menurut pandangan di atas yaitu sebagai berikut.

  1. Drama adalah cerita tentang konflik manusia.
  2. Drama adalah suatu cerita dalam bentuk dialog.
  3. Drama diproyeksikan kepada sekelompok audiens.
  4. Drama adalah ditafsirkan oleh sutradara untuk para penonton (jika digelar di pentas).

Di samping batasan di atas,  banyak para ahli yang memberikan batasan drama, antara lain adalah sebagai berikut.

“Suatu karangan dalam prosa atau puisi yang menyajikan dalam dialog atau pantonim suatu cerita yang mengandung konflik atau kontras seseorang tokoh, terutama sekali suatu cerita yang diperuntukan buat dipentaskan di atas panggung, suatu lakon (H.G. Tarigan, 1984:70).

“Drama artinya laku, lakuan atau lakon di atas panggung” (Yamin, 1977:87).

“Drama adalah seni yang mempertunjukan pekerti manusia dengan perkataan”.

Dari batasan-batasan itu, drama dapat diartikan sebagai cerita (story) dalam bentuk dialog yang menyuguhkan human konflik. Namun, drama merupakan sumber bahan pemantasan untuk menjadi tontonan (theatre atau theatron, teater). Di Amerika atau Inggris dikenal play, berasal dari kata play wright yang artinya kisah lakon. Maksudnya: kisah yang disajikan untuk keperluan pementasan atau untuk dipentaskah. Oleh sebab itu, drama bisa berarti: (1) naskah lakon (repertoir yang ditulis), dan (2) kisah yang dipentaskan atau pementasan naskah lakon drama.

Drama sebagai lakon atau naskah mempunyai ciri khas dan berbeda dengan jenis sastra lainnya. Dalam naskah drama ada yang disebut dengan percakapan atau disebut wawancang. Wawancang ini merupakan dialog-dialog tokoh yang satu dengan yang lain. Di samping wawancang tadi, ada bagian yang disebut dengan kramagung yang biasanya ditulis dalam tanda kurung (…). Kramagung ini ibarat perintah bagi tokoh (pelaku) untuk berbuat sesuatu hal yang lahir. Perhatikan cuplikan naskah drama berikut ini. anda dapat menemukan mana yang disebut wawancang dan mana yang disebut kramagung.

…………………………………………………………………………………

Raja     : Tunggu, bawa anggur! Hamlet, mutiara itu untukmu. Selamat bahagia!

(Bunyi nafiri mariam bergelegar di belakang panggung) beri dia minum.

Hamlet : Serangan ini dulu. Letakan saja. Mari!

(mereka main)

Kena lagi, kau akui?

Labrtes :   Kena, ya, menang

Raja : Putra kita akan datang

Ratu : Ia gemuk dan nafasnya pendek

Helmet, ini saputanganku, usaplah mukamu.

Ibumu minum untukmu. Slamet, Hemlet!

Hamlet : Terima kasih, bu!

Raja : Jangan minum, Gertruda!

Ratu : Tapi aku ingin, ijinkanlah!

(ke samping)

Raja : Itu piala beracun, oh … terlambat sudah!

…………………………………………………………………………………

Dikutip dari: Hamlet Pangeran Denmark.

Di samping contoh wawancang dan kramagung yang diuraikan di atas, dalam drama pun dikenal dengan istilah prolog, epilog, solilokui, dan aside. Istilah prolog merupakan bagian naskah yang ditulis pengarang di bagian awal. Tujuan penyajian prolog ini untuk mengutarakan cerita yang berisi keterangan tentang masalah, gagasan, pesan, jalan cerita, latar belakang cerita, tokoh-tokoh cerita, dan lain sebagainya. Dengan demikian, baik pembaca maupun penonton dapat memahami, menghayati, sehingga cerita yang disuguhkan dapat dinikmati dengan baik. Sebagai contoh, berikut ini disajikan contoh prolog dari naskah drama Panji Koming karya Saini K.M.

PROLOG

(Diucapkan oleh pemimpin acara)

Hadirin yang kami muliakan

Para pendukung lakon memesankan

Agar saya mengucapkan salam

Terima kasih dan selamat malam

Kepada saya pengarang pun membisikkan

Agar sebelum pentas dimulai

Saya memberikan sekadar penjelasan

Supaya kekeliruan tidak teralami.

Kisah Panji Koming terjadi

Di Majapahit, setelah Ratu Suhita

Di Perang Paregreg mengalahkan Wirabhumi

Alias Minakjinggo, saudara seayahnya.

Dan Pahlawan Damar Wulan

Baru saja dihukum mati

Karena kejinya pengkhianatan

Pihak yang dendam dan dengki.

Kata pengarang rakyat gelisah

Di alun-alun beringin kurung runtuh

Mereka berkeluh, mereka berkesah

Para ponggawa lalai tak acuh

Halilintar meledak di siang bolong

Panji Agung pinggirnya hangus

Pendopo besar berdiri doyong

Tiangnya keropos dimakan tikus.

Di tengah-tengah berjangkitnya wabah

Koming dan Pailul tenang hidup di kampung

Tak tahu ada kebakaran atau air bah

Siang menembang malam bersenandung.

Tapi mari kita saksikan apa yang terjadi

Pada kedua sahabat setia

Mari kita buka mata, telinga, dan hati

Para pemain kini sudah siap sedia.

Contoh yang diuraikan di atas disampaikan di awal sebelum dimulai pementasan, tapi ada pula yang sejenis yang disampaikan di akhir pementasan yaitu epilog. Epilog ini berisi kesimpulan cerita yang memuat tentang nasihat, pesan, atau amanat pengarang berdasarkan cerita yang disajikannya.

Kedua istilah di atas (prolog dan epilog) dewasan ini sudah jarang ditemukan dalam naskah-naskah drama modern. Hal ini, kemungkinan penulis naskah memberikan kebebasan sepenuhnya kepada pembaca atau penonton dalam menafsirkan, menikmati, atau menyimpulkan isi cerita berdasarkan apresiasinya sendiri.

Istilah solilokui adalah ungkapan, pikiran, dan perasaan tokoh cerita yang diucapkan pada dirinya sendiri. Pengucapan itu berlangsung, baik pada saat ada tokoh lain maupun ketika tokoh sedang sendiri di atas pentas.

Aside berarti ke samping ketika tokoh mengucapkan dialog dan langsung ditujukan kepada para penonton dengan pengertian tokoh lain yang ada di atas pentas tidak mendengarnya. Jadi, sang tokoh ketika mengucapkan kata-kata memalingkan muka dari tokoh lain.

Berikut ini disajikan contoh solilukui dan aside yang dikutif dari naskah Hamlet Pangeran Denmark karya William Shaskespeare.

…………………………………………………………………………………

POLONIUS   :     Pangeran, baginda putri hendak bicara dengan tuanku selekas mungkin.

HAMLET :   Tuan lihat awan itu yang hampir serupa dengan onta?

POLONIUS :     Sesungguhnya serupa dengan onta, ya

HAMLET :   Kukira, rupanya seperti luwak.

POLONIUS :     Punggungnya memang seperti luwak.

HAMLET :   Atau seperti ikan paus?
POLONIUS :     Ya, serupa benar dengan ikan paus.
HAMLET :   Kalau begitu, aku akan segera datang pada ibuku – (Ke samping) Mereka membikin aku gila, sebetah-betahku – Aku segera datang.
POLONIUS :     Hamba lapor itu.

Polonius keluar

HAMLET      : Gampang mengucapkan “segera!” Pergilah kawan-kawan!

Semua ke luar kecuali Hamlet.

Sekarang malam, ialah waktu hantu-hantu;

Waktu kuburan menganga dan neraka menyemburkan

Racunnya ke bumi. Serasa ‘ku dapat kini

Minum darah, berbuat sebengis-bengisnya, sehingga

Menggetarkan zaman! – Kini kukunjungi ibu!

O, hati, jangan kehilangan fitratmu; jangan sampai

Jiwa Nero  menyerap ke dada padat ini!

Aku mau kejam, tapi di lidah, tidak di tangan;

Lidah dan jiwaku hendaknya munafik!

Betapa kata-kataku menyalahkan ibu,

Namun perbuatan tak direlakan oleh jiwaku!

(ke luar)

…………………………………………………………………………………

Dikutip dari: Hamlet Pangeran Denmark

Demikian sekilas telah diuraikan latar belakang pentingnya pendidikan seni dan apresiasi drama diajarkan di sekolah-sekolah. Di samping itu, dikupas pula mengenai pengertian drama dan istilah-istilah penting lainnya yang secara konversi diterima dalam dunia drama atau teater.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: