Asupriatna’s Weblog

25 21000000Jumat38 2008

Fonologi Bahasa Indonesia (bagian 1)

Filed under: Uncategorized — asupriatna @ 00.00

LASIFIKASI BUNYI-BUNYI BAHASA

Perbedaan antara bunyi vokal dan bunyi konsonan yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Samsuri (1982:103) lebih lanjut menjelaskan bunyi menjadi dua golongan yang besar, yaitu vokoid dan kontoid. yang bagi pengucapannya jalan mulut tidak terhalang, sehingga arus udara dapat mengalir dari paru-paru ke bibir dan ke luar tanpa hambat, tanpa harus melalui lubang sempit, tanpa dipindahkan dari garis tengah pada alurnya, dan tanpa menyebabkan alat-alat supra glotal sebuah pun bergetar; biasanya bersuara, tetapi tidak perlu selalu demikian. KONTOID, sebaliknya, adalah bunyi yang bagi pengucapannya arus udara dihambat sama sekali oleh penutupan larinx atau jalan di mulut, atau dipaksa melalui lubang sempit, atau dipindahkan dari garis tengah daripada alurnya melalui lubang lateral, atau menyebabkan getarnya alat-alat supra glotal.

Garis yang membagi vokoid dan kontoid tidak selalu jelas. Beberapa vokoid, seperti yang telah kita lihat (umpamanya di dalam kata-kata ubi dan ibu), diucapkan dengan mengatakan bagian depan atau dorsum; jika artikulato itu diangkat lebih jauh lagi, akan mencapai langit-langit mulut, sedemikian dekatnya sehingga bentuk   menyempit.  Biarpun   demikian, batasan vokoid sebagai bunyi-bunyi yang tidak terhambat akan berguna sekali.

Sebelum kita dapat membicarakan bunyi-bunyi bahasa lebih berkecil-kecil (in detail), kita harus mempunyai suatu cara untuk menyatakan bunyi-bunyi itu pada kertas. Ejaan bahasa Indonesia atau bahasa-bahasa lain jelaslah tidak akan berguna. Kecuali huruf-huruf abjad bahasa Indonesia tidak cukup untuk menyatakan bunyi-bunyi bahasa yang sampai sekarang telah diuraikan, ada berbagai kesulitan yang akan timbul, yang disebabkan oleh tidak tetapnya pemakaian beberapa huruf di dalam bahasa Indonesia. Biarpun. demikian, huruf abjad latin kita pakai dengan memberikan NILAI-NILAI FONETIK yang biasa yang terdapat dalam ilmu bunyi umum, dan di mana perlu, ditambah dengan tanda-tanda baru yang mempunyai nilai fonetik tetap di dalam Ilmu bunyi.

Untuk membedakan tanda-tanda fonetik dari huruf-huruf abjad biasa menjadi suatu kebiasaan yang menuliskan tanda-tanda fonetik di dalam kurung besar. Jadi, [e] adalah tanda fonetik, yang mempunyai nilai hanya sebuah nilai fonetik, sedangkan e ialah huruf abjad Indonesia biasa, yang mempunyai nilai fonetik dua atau tiga buah (di dalam kata merdeka huruf e itu mewakili nilai fonetik yang berbeda sedangkan pembicara-pembicara dari Jawa pada umumnya memberikan nilai fonetik yang berbeda pada huruf e di dalam kata-kata nenek dan tempe).

Batasan tiap tanda fonetik itu penting, dan seharusnya selalu dinyatakan dengan hati-hati. Tetapi tanda itu sendiri, atau lebih tepat pemilihan tanda itu dari tanda yang lain tidaklah merupakan hal yang perlu dipusingkan. Di dalam bagian yang berikut kita akan memakai tanda [e] untuk menyatakan suatu kategori vokal yang tertentu, yang ditetapkan dengan setepat-tepatnya sebagaimana yang diiperlukan akan pemakaian tentang tanda itu; dan bila saja kita menuliskan [e] akan menyatakan dengan tanda itu suatu bunyi dari kategori yang te!ah kita tetapkan nanti. Dengan pendek dapatlah, bahwa pemilihan tanda itu arbitrer tetapi sekali suatu tanda itu pakai untuk menyatakan suatu nilai fonetik, seterusnya kita akan memakai tanda itu dengan nilai fonetik itu.

Tetapi hal ini tidak berarti bahwa kita boleh meninggalkan semua kebijaksanaan di dalam pemilihan tanda-tanda itu. Telah ada beberapa abjad fonetik yang luas dipakai, jika kita mencoba memperkenalkan seperangkat tanda-tanda yang baru sama sekali, orang-orang yang beratus-ratus yang telah kenal tanda-tanda yang luas terpakai itu tentulah gusar sekali akan percobaaan kita itu. Jadi pedoman yang paling aman ialah keenakan pemakaian dan konvensi. Karena itu selanjutnya kita akan menyimpang sedikit mungkin dari pemakaian yang telah berlaku di dalam dunia ilmu bunyi; tetapi di mana pemakaian itu terasa tidak tetap dan tidak enak kita pakai, kita tidak akan ragu-ragu untuk menyarankan tanda-tanda kita sendiri.

Bila pemakaian tanda-tanda yang kami sajikan di sini telah dikuasai, pelajar yang kemudian menemui tanda-tanda lain di buku-buku yang lain, akan sangat mudah menguasainya. Apa yang perlu diingat ialah, bahwa ciri yang penting daripada abjad fonetik itu ialah bukannya tanda-tanda yang merupakan dasar daripada abjad itu, melainkan tetapnya nilai fonetik masing-masing.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di muka, kita khususkan pembahasannya ke dalam bunyi-bunyi bahasa Indonesia, baik voka! dan variasi-variasinya, maupun konsonan dan variasi-variasinya. Baiklah, kita bahas satu persatu di bawah ini.

1.  Vokal

Vokal umumnya diklasifikasikan menurut tiga dimensi artikulatoris: tingkat terbukanya mulut (rapat lawan buka); posisi bagian lidah yang tertinggi (depan lawan belakang); dan posisi bibir (bundar lawan hampar atau tak bundar). Jadi, bunyi yang tertentu mungkin dideskripsikan sebagai vokal rapat, depan, bundar (misalnya, vokal dalam kata Prancis lune): bunyi lain sebagai rapat, depan. tak bundar (seperti dalam kata Prancis si dan kata Inggris sea (dan sama berbedanya dalam segi-segi tertentu yang lain). Dengan tujuan membuat klasifikasi, apa yang disebut vokal “kardinal” (dengan mengulangi kata-kata Daniel Jones, penemu sistem klasifikasi ini) “perangkat bunyi vokal tetap memiliki kualitas-kualitas akustik yang diketahui dan posisi-posisi lidah serta bibir yang diketahui”. Meskipun Jones berbicara tentang “kualitas-kualitas akustik yang diketahui” dari vokal kardinal, sistem ini pertama-tama, dan sampai sejauh sasarannya adalah sistem klasifikasi artikulatons. Asas yang diikuti adalah menentukan lebih dulu ujung-ujung artikulatoris (vokal depan yang paling tertutup/rapat”, vokal-vokal belakang yang paling terbuka”, dsb.), dan kemudian menyeleksi posisi-posisi antara sehingga “tingkat perbedaan akustiknya menjadi kira-kira sama”. Penentuan jarak antara “perbedaan akustik” itu subyektif (meskipun tentu saja itu adalah penemuan seorang ahli fonetik yang cemerlang dan sangat mahir). Karena nilai setiap vokal kardinal telah ditetapkan dan rekaman Daniel Jones sendiri mengenai vokal-vokal tersebut telah dianalisis dengan peralatan, maka sifat-sifat akustiknya, dalam batasan-batasan tertentu, dapat diketahui secara obyektif. Bahwasanya sistem vokal kardinal itu pada akhirnya bersifat arbtrer itu tidak membuatnya menjadi makin kurang berguna atau kurang ilmiah; nilai vokal-vokal kardinal ditetapkan dalam (Abjad Fonetik Internasional (IPA= Intenasional Phonetic Alphabet), dan dengan mengacu kepadanya sebagai ukuran baku, ahli-ahli fonetik yang terlatih dapat mendeskripsikan vokal-vokal setiap bahasa dengan memuaskan serta mendekati ketepatan sesuai dengan kebutuhan.

Selain ketiga variabel artikulatoris yang dipiiih sebagai dasar klasifikasi vokal-vokal, ada beberapa lainnya yang biasanya dipenakukan oleh ahli fonetik sebagai modifikasi-modifikasi sekunder dari apa yang dianggap sebagai ucapan “normal” tanpa lewatnya udara melalui hidung. Jika jalan ke hidung tetap terbuka selama vokal itu diucapkan sehingga udara lewat dan ke luar dari mulut dan hidung, vokal itu dikatakan “ternasal” (disengaukan atau dinasalisasikan); ini dipandang, dan dianggap oleh 1PA, sebagai modifikasi vokal tak ternasal yang sepadan (bandingkan [a]: [a]).

(Samsuri, 1982: 104)

INTERNASIONAL FONETIK ALPHABET

Lambang Fonetik IPA Contoh EYD Lambang Fonetik IPA Contoh EYD
[i] [itu]

[bila]

[kami]

Itu

bila

kami

/b/ /baru/

/labu/

baru

labu

[l] [lebih]

[adi i?]

lebih

adik

/t/ /tari/

/pati/

tari

pati

[e] [ela ?]

[sate]

elak

sate

/d/ /dada/

/pada/

dada

pada

// [bєbє?]

[nєnє?]

bebek

nenek

/k/ /kami/

/pakar/

Kami

pakar

[a] [apa]

[bila]

apa

bila

/kh/ /khin/

/kht/

kin (IN)

cat

() [bar]

[kur]

barang

kurang

/g/ /gigi/

/pagi/

gigi

pagi

[ə] [əmpt]

[səmpt]

empat

sempat

/?/ /ini/

/bib?/

/sa?at/

ini

bibi

saat

[o] [otot]

[soto]

otot

soto

/c] /cari/

/kaca/

cari

kaca

[æ] [paen]

[maet]

pen

mate

/t/ /tu:t/

/fitə/

church (IN)

feature (IN)

/u/ [ukur]

[suku]

ukur

suku

/dξ/ /dξdξ/

/dξdcli/

judge

jelly

/U/ [baru?]

sUkma]

baruk

sukma

/j/ /jari/

/baja/

jari

baja

/p/ /pilu/

/tipis/

pilu

tipis

/f/ /fakta/

/fositif/

fakta

fositif

/v/ /varial/

[Univertas]

varia

universitas

/s/ /sapa/

/leps/

/səs?/

sapa

lepas

sesak

/r/ /rasa/

/sara/

/sasar/

rasa

sara

sasar

/z/ /zakat/

/aziz/

zakat

aziz

/l/ /lama/

/bila/

/pukUl/

lama

bila

pukul

/ξ/ /meξə/

/eiξə/

measure (IN)

azure (IN)

/m/ /mana/

/sama/

mana

sama

/n/ /nama/

/ənm/

/pəsn/

nama

enam

pesan

// /h/

/maarakt/

Syah

masyarakat

/η/ /ηaηa/

/bisiη/

nganga

bising

/x/ /xabar/

/axlak/

khabar

akhlak

/ň/ /ňəňa?/

/buňi/

nyenyak

bunyi

// /marib/

/arib/

maghrib

gharib

/w/ /wajah/

/hawa/

/pulaw/

wajah

hawa

pulau

/j/ /ja/

/saja/

/sunaj/

ya

saya

sungai

Apa itu IPA (International Phonetic Alphabet)? Suatu lembaga yang menetapkan abjad fonetik secara international. Jadi, lambang-lambang fonetik dari seluruh bahasa di dunia secara konvensi dibakukan. Untuk lebih jelas coba perhatikan bagan berikut.

Internasional Phonetic Alphabet (IPA)

Consonanta Bila-bial Labio-dental Dental and Alveolar Retroflex Palato-alveolar Alveolo-nalatal Palatal Velar Uvular Pharyngal Glottal
Plosive p b t d t d Ç
Nasal m nj
Lateral

Fricatve

Lateral non

Fricatve

Rolled
Flapped
Fricative
Frictionleas

Continuanta and semi vowela

Vowela

Close

Half-close

Half-open

open

(Alwasilah. 1993: 104)

1.2 Diftong

Selain penggolongan di atas, Anda juga mengenal voka! yang digolongkan sebagai vokal rangkap atau diftong. ialah dua vokal berurutan dan tidak sejenis. Jadi vokal yang pertarna bebeda dengan vokal berikutnya. Dalam pengucapan diftong antara vokal yang satu dengan vokal berikutnya diucapkan tidak dalam dua suku kata melainkan dalam satu suku kata.

Bunyi puncak suku kata dapat terdapat dalam vokal pertarna atau dalam voka! kedua.

Anda ketahui bahwa dalam bahasa Indonesia ada tiga buah diftong, di antaranya:

(a) ai (dilafalkan ey)    seperti   pada    kata:    damai,    ramai, santai, dan sebagainya.

(b) au (dilafalkan  ow)  seperti  pada  kata:   harimau,   saudara,   pulau, dan sebagainya.

(c) oi (dilafalkar oy) repsrti pada kata: amboi, sepoi.

Sekarang Anda bandingkan perbedaan lafal diftong dengan dua buah vokal berikut ini:

menggulai (kambing)            menggulai (air kopi)

pulau                                                mau (makan)

sepoi, amboi                                   meridoi (perkawinan anaknya)  atau meridoi

Deretan sebelah kanan masing-masing merupakan dua buah vokal yang diurapkan dalam dua kesatuan waktu karena vokal terakhir merupakan sebuah suku kata, sedangkan deretan kiri ai, au. dan oi merupakan diftong.

1.3    Semi vokal

Bila Anda mengucapkan sebuah suku kata, maka akan terdapat satu bunyi yang paling keras terdengar. Bunyi yang paling keras terdengar itu merupakan yang paling jelas bunyinya, sehingga merupakan puncak bunyi. Bunyi tersebut disebut puncak suku kata.

Bunyi vokal tidak lagi merupakan bunyi yang paling puncak maka vokal tersebut berubah menjadi semi vokal. Kualitas semi vokal tidak hanya ditentukan oleh tempat artikulasi, tetapi iuga oleh sikap/posisi mulut sewaktu mengucapkan bunyi tersebut.

Klasifikasi semi vokaf ialah:

(1) vokal u adalah vokal tinggi, belakang, bundar. Bila vokal u dibentuk dengan posisi bibir yang sempit, maka akan terbentuk bunyi [w]. Bunyi [w] yang terbentuk seperti demikian dinamakan semi vokal. Misalnya kata kuat dan buat, antara vokal u dan vokal a akan terdengar semi vokal [w].

(2) vokal i adalan vokal tinggi, depan, tak bundar. Bila vokal i dibentuk dengan posisi lidah setinggi mungkin sehingga letaknya lebih dekat pada langit-langit, maka akan terdengar bunyi [y]. Bunyi [y] yang terjadi disebut semi vokal. Misalnya: dia dan manusia, antara vokal i dan vokal a terdengar bunyi semi vokal [y].

KONSONAN

1.  Bahasa Konsosnan dan Penggolongannya

Para ahli banyak yang memberikan batasan mengenai konsonan. Salah satunya Lubis (1994:91) yang mendefinisakan konsonan sebagai bunyi bahasa yang dihasilXan dcngan menghambat aliran udara pada saiah satu tempat di mulut kita. Berbeda halnya dengan Martinet (1980) yang menyatakan konsonan adalah bunyi yang kurang dapat ditangkap tanpa dukungan vokal pendahuluan atau sesudahnya. Sebuah oklusif adalah sebuah konsonan yang membutuhkan penutupan saluran pernapasan. Contoh [p] dapat ditangkap lepasnya secara mendadak dengan letupan mulut mengendur dalam bentuk letupan di depan vokal [a].

Dan dua batasan di atas pada dasarnya memiliki maksud yang sama yaitu bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan dengan cara menghambat melalui alat-alat ucap. Alatalat ucap manusia itu memiliki berbagai artikulasi sebagaimana telah dibahas pada modul sebelumnya.

Penggolongan konsonan menurut Samsuri (1982:114) adalah sebagai berikut:

Ditilik dari cara pengucapannya, dapatlah kontoid-kontoid itu dibagi secara kasar menjadi dua rnacam, yaitu yang mendapatkan hambatan menyeluruh, dan yang lain, yang biasa disebut terbuka. Yang kedua ini dapat pula dibagi menjadi tiga jenis, yaitu geser atau spiran, nasal, dan likwida. Yang terakhir ini bisa juga digolongkan menjadi dua jenis, leteral dan getar. Nasal berbeda dan yang laman karena pengucapannya yang disebabkan pula oleh ke luarnya sebagian dari arus udara melalui rongga hidung, di samping arus itu ke luar dan mulut. Kelima jenis itu dapat dibagi-bagi lagi menurut titik-titik pengucapannya. Kami membaginya secara kasar menurut titik pengucapan seperti gambar berikut ini:

Titik-titik pengucapan (ataupun juga alat-alat pengucapan) kami ambil yang dasar saja, yaitu bibir atau labial, gigi atau dental, langit-langit atau palantel, langit-langit lunak atau velar, sedangkan larinx kami lampaui dan kami ganti dengan selaput suara atau glotal. Sudah barang tentu masih dapat dibagi titik-titik pengucapan itu menjadi berkecil-kecil, tetapi untuk keperluan praktis ini cukuplah demikian saja. Dengan mengombinasikan kedua dasar pembagian tiu, maka terdaptlah pengelornpokan dasar seperti yang terterta pada denah kontoid di bawah ini. Dari duapuluh lima kotak-kotak yang dihasilan oleh pemotongan daripada lajur-lajur dan kolom-kolom itu, hanya sebanyak sembilan belas saja yang berguna bagi keperluan praktis, hal ini disebabkan karena tidak ada lateral dan getar yang dapat diucapkan oleh bibir atau bagian depan lidah, setidaknya tidak ada bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan sedemikian itu, biarpun ada bunyi-bunyi bukan bahasa yang bisa diucapkan demikian. Begitulah tidak ada nasaf, lateral, dan getar supragfotal yang diucapkan oleh selaput suara, akan tetapi beberapa kotak itu berisi lebih dari satu katagori bunyi-bunyi.

Bagan di atas penggolongan konsonan berlaku bagi seluruh bahsa-bahasa di dunia. Oleh Karena itu, kita tidak akan mernbahasa secara mendetil. Adapun yang akan kila bicarakan adalah konsonan-konsonan yang ada dalam bahasa Indonesia.

Sesuai dengan artikulasinya, konsonan dalam bahasa Indonesia dapat dikatagorikan berdasarkan tiga faktor, (1) keadaan pita suara, (2) daerah artikulasi. (3) cara artikulasi, Berdasarkan pita suara konsonan dapat bersuara atau tak bersuara. Berdasarkan daerah artikulasinya konsonan dapat bersifat bilabial, labiodental, alveolar, palatal, velar atau glotar; dan berdasarkan cara artikulasinya konsonan dapat berupa hambatan, frikatif, nasal, getar atau lateral. Di samnping itu ada lagi yang berwujud semivokal.

a)   Penggolongan konsonan berdasarkan cara akhirannya dapat digolongkan menjadi enam macam:

(1) Konsonan hambatan

Udara yang ke luar dari paru-paru dihambat sama sekali, umpamanya: p, b, t, d, j, g, k, c.

(2) Konsonan geseran

Dalam menghasilkan bunyi konsonan udara yang ke luar dari paru-paru digeserkan, umpamanya: f,v, kh, h.

(3) Lateral

Udara   yang   ke luar dari   paru-paru   diatur   melalui   kedua   sisi   lidah, umpamanya: konsonan I.

(4) Konsonan desis

Udara yang ke luar mengakibatkan bunyi desis sepert: s, z, sy.

(5) Konsonan getaran

Pada waktu udara ke luar lidah digetarkan, umpamanya: r

(6) Konsonan luncuran

Udara yang ke luar diluncurkan dengan cara hampir merapatkan, kedua belah bibir, seperti: w, y.

b)  Pembagian konsonan berdasarkan bergetar-tidaknya pita suara:

(1) Konsonan bersuara

Pada waktu menghasilkan bunyi pita suara turut bergetar, misalnya: m, n, ny, ng, b, j, g, v, z, l

(2) Konsonan tak bersuara

Pita suara turut bergetar, misalnya bunyi bahasa: p, t, c, k, f, Kh, h, s, sy, r.

c)  Penggolongan konsonan berdasarkan artikulator dan titik artikulasi-nya:

(1) Konsonan bilabial

Pertemuan antara bibir atas dan bibir bawah (dua bibir). Bunyi bahasa yang dihasilkan: b, p, m, w.

(2) Konsonan labio-dental                                                           I

Bibir bawah mendekati menyentuh gigi atas (pertemuan antara bibir dan gigi). Bunyi bahasa yang dihasilkan: f, w.

(3) Konsonan apiko-dental

Ujung lidah hingga menyentuh gigi atas. Bunyi bahasa yang dihasilkan: t, z, s.

(4) Konsonan apiko palatal

Ujung lidah dipertemukan dengan langit-langit keras. Bunyi bahasa yang dihasilkan: d, n, I, r.

(5) Konsonan palatal

Ujung lidah didekatkan ke arah langit-ldngit keras. Bunyi bahasa yanc dihasilkan: c, j, ny, sy, y.

(6) Konsonan velar

Beiakang lidah bergerak rnendekati langit-langit lunak. Bunyi bahasa yang dihasilkan: g, k, ng, kh.

(7) Glotal

Celah antara kedua pita suara tertutup rapat akan menghasilkan bunyi hamzah (k yang disentakkan seperti pada rakyat). Apabila celah itu agak terbuka menghasilkan bunyi bahasa /h/.

Untuk memperjelas isi pembicaraan konsonan ini. Anda dapat melihat dan mempelajarinya dengan seksama dalam diagram berikut ini:

bilabial Lablodental Apikondental Apikolpolantal Palatal Nelar Glotal
Hambatan B B D J g
T P T c k
Geseran B V Z
T f s Sy Kh h
Lateral B
T
Desis B
T R
Getaran B
T
Luncuran B W y
T
Nasal B
T m N ny ng

B = Bersuara                                   T = Tidak Bersuara

Berdasarkan bagan di atas, dapat kita lihat konsonan dalam bahasa Indonesia memiliki 22 konsonan fonem. Adapun cara memberi identitas setiap konsonan tersebut berturut-turut dari menyebut cara artikulasinya, daerah artikulasinya, kemudian keadaan pita suaranya. Misalnya kita menyebut konsonan /b/ yaitu konsonan hambat bilabial bersuara. Untuk memperjelas seluruh konsonan dalam bahasa Indonesia dan contoh-contoh pelaialannya, kita kutip penjelasan berdasarkan  buku tata bahasa baku bahasa Indonesia berikut ini.

Konsonan hambatan bilabial /p/ dan /b/ dilafalkan dengan bibir atas dan bibir bawah terkatup rapat sehingga udara dari paru-paru untuk sementara waktu sebelum katupan itu terlopas.

Contoh:

/pola/      pola         /bola/              bola
/kapar/    kapar       /kabar/           kabar
/siap/       siap                /aba/       aba

Konsonan hambat alveolar /t/ dan /d/ umumnya dilafalkan dengan ujung lidah ditempelkan pada gusi. Udara dari paru-paru sebelum diiepaskan. Karena dipengaruhi bahasa daerah, ada pula orang yang melafalkan kedua konsonar, itu dengan menempelkan ujung atau daun lidah pada bagian belakang gigi atas sehingga terciptalah bunyi dental dan bukan alveolar. Perbedaan artikulasi itu tidak penting dalam tata bunyi bahasa Indonesia.

Contoh:

/tari/         tari           /galah/            galah

/patay/     pantai     /panday/         pandai

/rapat/      rapat       /debu/             debu

Konsonan hambat velar /k/ dan /g/ dihasilakn dengan menempelkan belakang lidah pada langit-langit lunak. Udara dihambat di sini dan kemudian diiepaskan.

/kalah/     kalah       /galah/            galah

/akar/       akar         /agar/              agar

/politik/    politik       /sagu/             sagu

Dalam bahasa Indonesia terdapat enam konsonan trikatif, lima tak bersuara, yakni /f/, /s/, /s/, /x/, dan /h/, dan satu yang bersuara, yakni /z/. Konsonan trikatif labiodental /f/, artinya, konsonan itu dibuat dengan bibir l)awah didekatkan pada bagian bawah gigi atas sehingga udara dari paru-patu dapat melewati lubang yang sempit antara gigi dan bibit dan menimbulakan bunyi desis. Sebagian orang sukar melafaflkan bunyi ini dan menggantinya dengan bunyi /p/

Contoh:

/fakultas/                  /pakultas/                 fakultas

/lafal/                        /lapal/                        lafal

/positif/                     /positif/                      positif

Pengpantian /f/ dengan /p/ hendaklah dihindari. Dalam tulisan,  ada kalanya /f/ dilambangkan dengan huruf v

Contoh:

/faria/              varia
/fisa/                 visa
/fokal/               vokal

Konsonan frikatif alveolar /s/ dihasilakn dengan menempelkan  ujung lidah pada gusi atas sambil melepaskan udara lewat samping lidah sehingga menimbulkan bunyi desis.

Contoh:

/saya/             saya
/masa/            masa
/nanas/           nanas

Konsonan frikatif alvoelar Izl dibentuk dengan cara pembentukan /s/, tetapi dengan pita suara yang bergetar.

Contoh:

/zəni/             zeni                Bandingkan              /səni/             seni

/rezim/           rezim

/lazim/            lazim

Konsonan    frikatif    palatal    tak    bersuara    /š/    dibentuk    dengan menempelkan depan lidah pada langit-langit keras, tetapi udara melewati samping lidah dan menimbulkan bunyi desis,

/šak/             syak             Bandingkan          /sak/             sak
/šah/             syah                                          /sah/            sah
/šarat:/         syarat                                        /sarat/          sarat

Konsonan frikatif velar /x/ dibentuk dengan mendekatkan punggung lidah ke langit-langit lunak yang dinaikan agar udara tidak ke luar melalui hidung. Udara dilewatkan celah yang sempit ke luar rongga mulut.

Contoh:

/xas/             khas             Bandingkan          /khas/           kas

/axir/             akhir

/tarix/            tarikh

Konsona frikatif glotal/h/ dibentuk dengan melewatkan arus udara di antara pita suara yang menyempit sehingga menimbulkan bunyi desis, tanpa dihambat di tempat lain.

Contoh:

/habis/          habis
/paha/          paha
/murah/        murah

Dalam bahasa Indonesia terdapat dua konsonan afrikat, satu tak bersuara, yakni Ic/ dan satu bersuara, yakni /j/.

Konsonan afrikat palatal Ic/ dilafalkan dengan daun lidah ditempelkan pada langit-langit keras dan kemudian dilepas secara perlahan sehingga udara dapat lewat dengan menimbulakn bunyi desis. Sementara itu, pita suara dalam keadaan tidak bergetar. Konsonan afrikat palatal /j/ dibentuk dengan cara yang sama dengan pembentukan Ic/, tetapi pita suara dalam keadaan bergetar.

Contoh:

/cari/           cari                    /jari/                 jari

/acar/         acar                   /ajar/                ajar

/maňcar/    mancar             /maňjur/           manjur

Kelompok nasal alvoelar/n dihasilkan dengan cara menempelkan ujung lidah pada gusi untuk menghambat udara dari paru-paru. Udara itu kemudian dikeluarkan lewat rongga hidung.

Contoh :

/nama/            nama
/pintu/             pintu
/kantin/           kantin

Konsonan nasl palatal /ň/ dibentuk dengan menempelkan depat lidah pada langit-langit keras untuk menahan udara dari paru-paru. Udara yang terhambat itu kemudian dikeluarkan melalui rongga hidung sehingga terjadi persengauan. Konsonan nasal palatal /ň/ seolah-olah terdiri atas dua bunyi, /n/ dan /y/, tetapi bunyi telah luluh menjadi satu.

Contoh:

/ňiur/               nyiur

/taňa/              tanya

/paňu/             penyu

Konsonan nasal velar lŋl dibentuk dengan menernpelkan belakang lidah pada langit-langit lunak dan udara kemudian dilepas melalui hidung.

Contoh:

/ŋaray/           ngarai
/karaŋan/       karangan
/kuniŋ/             kunig

Konsonan getar alveolar /r/ dibentuk dengan menempelkan ujung lidah pada gusi kemudian menghembuskan udara sehingga lidah tersebut secara berulang-ulang menempel pada dan lepas dari gusi. Sementara pita suara dalam keadaan bergetar.

Contoh:

/raja/              raja
/gardu/         gardu
/sabar/            saibar

Konsonan lateral alveolar /l/ dihasilkan dengan menempelkan daun lidah pada gusi dan mengeluarkan udara melewati samping lidah. Sementara itu, pita suara dalam keadaan bergetar.

Contoh:

/lama/            lama

/malam/         malam

/mahal/          mahal

Dalam bahasa Indonesia ada dua fonem yang termasuk semivokal, yakni /w/ dan /y/. Bunyi semivokal itu dibentuk tanpa penghambatan arus udara sehingga menyerupai pembentukan vokal, tetapi dalam suku w kedua bunyi itu tak pernah menjadi inti sukukata. Kedua fonem semivokal itu dibentuk dengan pita suara dalam keadaan bergetar.

Semivocal bilabial /w/ dilafalkan dengan mendekatkan kedua bibir tanpa menghalangi udara yang dihembuskan dari paru-paru.

Contoh:

/waktu/            waktu

/awal/              awal

/kalaw/            kalau

Semivokal palatal /y/ dihasilan dengan mendekatkan depan lidah pada langit-langit keras, tetapi titik sampai menghambat udara yang ke luar dari paru-paru.

Contoh:

/yatim/            yatim

/kaya/              kaya

/suŋay/           sungai

Alofon Konsonan

Seperti halnya dengan vokal, tiap fonem konsonan mempunyai pula alofon yang dalam banyak hal ditentukan oleh posisi fonem tersebut dalam kata atau suku kata.

Fonem /p/ Fonem /p/ mempunyai dua alofon, yakni [p] dan [p>]. Alofon [p] adalah alofon yang lepas, artinya, kedua bibir yang terkatup dibuka untuk menghasilkan bunyi. Alofon macam itu terdapat pada posisi awal suku kata karena itu alofon ini dapat pula terdapat di tengah kata. Sebaliknya, alofon [p>] adalah alofon tak lepas artinya, kedua bibir tertutup untuk beberapa saat sebelum pembentukan bunyi berikutnya. Alofon itu terdapat pada posisi akhir suku kata. Pada umumnya alofon seperti itu terdapat pada akhir kata pula.

Contoh:

[pintu]             pintu

[sampay]        sampai

[tatap>]           tatap

[sədap>]         sadap

[taŋkap>lah    tangkaplah

Fonem /b/. Fonem /b/ hanya mempunyai satu alofon, yakni [b] yang posisinya selalu mengawali suku kata. Di dalam kata, posisinya dapat juga di tengah.

Contoh:

[baru]              baru

[tambal]          tambal

[tabrak>]         tabrak

Apabila grafem <b> terdapat pada akhir kata grafem itu dilapalkan [p>]. Namur, bunyi [b] muncul kembali jira kata yang berakhiran dengan grafem <b> itu kemudian diikuti oleh akhiran yang muali dengan vokal.

Contoh:

[adap>]           [pəradaban]            adab                peradaban

[wajip>]           [kəwajiban]              wajib                kewajiban

[jawap>]          [jawaban]                 jawab              jawaban

Fonem /t/. fonem /t/ mempunyai dua alofon: [t] dan [t>]. Seperti halnya dengan [p], [t] adalan alofon yang lepas, yang pada pembentukannya ujung lidah monyentuh gusi tetapi lidah itu segera diiepaskan. Sebaliknya, alofon [f] dibuat dengan ujung lidah masih tepat melekat pada gusi untuk beberapa saat. Alofon [t] terdapat pada awal suku kata, sedangkan [f] pada akhir suku kata.

Contoh:

[timpa]             timpa

[santay]           santai

[lompat>]          lompat

[təmpat>]         tempat

Fonem /d/. Fonem Id/ hanya mempunyai satu alofon, yakni [d] yang pasisinya selalu di awal suku kata. Seperti halnya dengan <b>, pada akhir kata <d> dilafalkan [t> ] tetapi berubah menjadi [d] jika diikuti oleh akhiran yang mulai dengan vokal.

Contoh:

[duta]            duta

[madu]          madu

[tekat>]          tekad

[abat>]          abad

[murtat>]       [kamurtatdan]                    murtad           kemurtadan

[mawlUt>]     [mahludan]                        Maulud           Mauludan

Fonem /k/. Fonem /k/ mempunyai tiga alofon, yakni alofon lepas [k] alofon taklepas [k>] alofon hambat glotal tak bersuara [?]. Alofon yang pertama terdapat di awal suku kata, sedangkan alofon yang kedua dan ketiga diakhir suku kata. Di akhir kata terutama kata-kata asal bahasa Melayu dan serapan dari bahasa non-Eropa, alofon [k>] bervariasi bebas dengan [?].

Contoh:

[kaki]                 kaki                        [pak>sa]                  paksa

[kuraŋ]              kurang                    [ik>lim]                      iklim

[aŋkat>]             angkat                    [lak>sana]               laksana

[baŋkit>]            bangkit                     [pərik>sa]               periksa

[rusak>,rusa?]  rusak

[tidak>. tida?]    tidak

[politik>]             politik

[fak>]                 fak

Alofon [k>]dan [?] juga bervariasi bebas di tengah pada sejumlah kecil kata, antara lain, pada

Contoh:

[mak>IUm, ma?IUm]     maklum

[rak>yat>, ra?yat>]          rakyat

[lak>na, Ia?nat>]             laknat

[mak>na, tida?]              makna

[tak>lUk>, ta?lU?]           takluk

Konsonan hambat glotal [?] juga digunakan untuk memibahkan dua vokal yang sama dalam satu kata.

Contoh:

[ma?af]          maaf
[sa?at]                 saat
[su?Un]               suun
[i?in]                    iin (nama orang)

Konsonan hambat glotal [?] juga digunakan untuk memisahkan kata dasar yang berawal dengan vokal dengan awalan (terutama yang Contoh:

[sə?ikat]              seikat               [tər?iŋat>]                             teringat

[kə?adilan]          keadilan          [məŋ?ukur]                          teringat

[pə?ubahan]       peubahan       [bər?ada, berada                berada

[kə?onaran]        keonaran        [pər?ubahan,perubahan]  perubahan

kata soal dan doa juga diucapkan [so?al) dan [do?a] di samping [soal] dan [doa].

Fonem /g/. fonem /g/ hanya mempunyai satu alofon, yakni [g[ yang ter­dapat pada awal suku kata. Pada akhir suku dan akhir kata huruf g dilafalkan [k>]. Akan tetapi, jika kata yang berakhir dengan huruf g itu diikuti akhiran yang memulai dengan vokal, huruf <g> itu akan dilafalkan [g].

Contoh:

[gula]             gula

[ragu]             ragu

[psikologi]      psikologi

[logis]            logis

[biologi]         biologi

[bədUk>]        bedug

[gedək>]        gudeg

[ajak>]            ajeg                          [kə?ajəgan]               keajegan

Namun sebagian penutur bahasa Indonesia merrtpertahankan bunyi [k] pada posisi itu sehingga kata keajegan dilafalkan [ka?əajkan].

Fonem /f/. Fonem /f/ mempunyai satu alofon, yakni [f] yang posisinya dapat pada awal atau akhir suku kata.

Contoh:

[fak>]                   vak
[munafik>]          munafik
[arif]                   arif

Fonem /s/. Fonem /s/ mempunyai satu alofon, yakni [s] yang terdapat
pada awal atau akhir suku kata.

Contoh:

[sama]            sama

[pasti]             pasti

[malas]           malas

Fonem /z/. Fonem /z/ mempunyai satu alofon, yakni [z] yang terdapat pada awal suku kata.

[zat>]                zat

[zəni]               zeni

[izin]                izin

Fonem /s/. Fonem /š/ mempunyai satu alofon, yakni [š] yang terdapat hanya pada awal suku kata.

Contoh:

[š ukur]              syukur
[mašarakat]      masyarakat
[ašlk]                 asyik

Fonem /x/. Fonem /x/ mempuayai satu alofon, yakni [x] yang terdapat pada awal dan akhir suku kata.

Contoh:

[xas]              khas

[axir]              akhir

[tarix]             tarikh

Fonem /h/. Fonem ini mempunyai dua alofon, yakni [h] dan [h]. Alofon [h] tidak Lersuara, sedangkan [h] bcrsuara. Di antara dua vokal, banyak orang yang melafalkan ini nebagai [h]. Di posisi lain /h/ dilafalkan sebagai [h].

Contoh:

[hari]                       hari
[rumah]                  runiah
[murah]                  murah
[tahu], [tahu]          tahu
[tuhan], [tuhan]      tuhan

Pada kata tertentu, /h/ kadang-kadang dihilangkan. Dalam untaian tuturan /h/ di akhir kata kadang-kadang tidak diucapkan.

Contoh:

[lihat], [liat]               lihat
[tahu], [tau]              tahu
[jahit], [jait]               jahit
[rumah], [ruma]       rumah
[boleh],[bole]           boleh
Llelah], [Iəla]           lelah

Fonem Ic/. Fonem /c/ mempunyai satu alofon, yakni [c] yang terdapat pada awal suku kata.

Contoh:

[cari]               cari
[pici]                pici
[caciŋg]          cacing

Fonem /j/. Fonem /j/ juga hanya mempunyai satu alofon, yakni[j]. Seperti halnya dengan [c], [j] hanya menduduki posisi awal pada suku kata; pada beberapa kata serapan, /j/ pada akhir suku kata diucapkan sebagai [j] atau diganti dengan [t].

Contoh:

[jugaj                       [juga]
[maju]                      [maju]
[mi?raj, mi?rat>]      Mikraj

Fonem /m/. Fonem /m/ mempunyai satu alofon, yakni [m] yang terdapat pada awal atau akhir suku kata.

Contoh:

[makan]          makan
[sampay]        sampai
[malam]          malam

Fonem /n/. Fonem /n/ mempunyai satu alofon, yakni [n] yang terdapat pada awal atau akhir suku kata.

Contoh:

[nakal]            nakal
[pantay]          pantai
[ikan]              ikan

Fonem /ň/. Fonem /ň/ mempunyai satu alofon, yakni [ň] dan hanya terdapat pada awal suku kata.

Contoh:

[ňiUr]              nyiur
[ňaňian]         nyanyian
[məňan]         menyalin

Fonem /ň/ vang diikuti fonem /j/, /c/, atau Is/ di dalam ejaan dilambangkan oleh <n>, seperti pada panjang [paňjaŋ]. inci [iňci], musyi [muňš].

Fonem /ŋ/. Fonem /ŋ/ mempunyai satu alofon. yakni /ŋ/ yang terdapat pada awal atau akhir suku kata.

[paŋkal]         pangkal
[paliŋ]            paling

Fonem /r/. Fonem /r/ mempunyai satu alofon, yakni [r], Alofon [r] terdapat pada awal dan akhir suku kata dan diucapkan dengan getaran pada lidah yang menempel di gusi. Pada orang-orang tertentu, [r] dapat bervariasi dengan [R], bunyi getar uvular.

Contoh:

[raja]           atau      [Raja]

[karya]        atau      [kaRya]
[pasar]       atau      [pasaR]

Fonem /I/. Fonem /I/ mempunyai satu alofon, yakni [I] yang terdapat pada awal atau akhir suku kata.

Contoh:

[lama]             lama

[palsu]            palsu

[aspal]            aspal

Hurup konsonan rangkap ll pada Allah dilafalkan sebagai [I], yaitu bunyi [l] yang berat yang dibentuk dengan menempelkan ujung lidah pada gusi sambil menaikan belakang lidah ke langit-langit lunak atau menariknya ke arah dinding faring.

Fonem /w/. fonem /w/ mempunyai satu alofon, yakni [w]. pada awal suku kata, bunyi [w] berfungsi sebagai konsonan, tetapi pada akhir suku kata [w] berfungsi sebagai bagian diftong.

Contoh:

[wak>tu]              waktu
[WalawpUn]       walaupun
[kalau]                kalau

Fonem /y/. Fonem /y/ mempunyai satu alofom, yakni [y].pada awal suku kata, /y/ berperilaku sebagai konsonan, tetapi pada akhir suku kata berfungsi sebagai bagian dan diftong.

Contoh:

[yakin]            yakin
[yak>ni]           yakni
[santay]          santai
[ramay]           ramai

Agar  Iebih  jelas  bagaimana  posisi  artikulasi  dalam  alat  ucap. Coba perhatikan skema menurut Maytiret (1980 : 52) berikut ini.

SKEMA ARTIKULASI DALAM MULUT

(alat yang tidak berperan dalam pembunyian tidak disebut)

Demikian uraian mengenai konsonan-konsonan iklim bahasa Indonesia, dengan variasi cara pelafalannya.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: