Asupriatna’s Weblog

25 21000000Jumat06 2008

Mengenal dan Mengaprsiasi Drama (bagian 2)

Filed under: Uncategorized — asupriatna @ 00.00

Ditinjau dari sejarah, istilah drama di tanah asalnya Yunani timbul dari upacara-upacara pemujaan kepada dewa. Jaman Aeschylus (525-456) salah satu penyair Yunani, istilah drama sudah mengandung arti “kejadian”, “risalah” atau “karangan”. Begitupun dengan istilah theatron yang berasal dari kata theaomai yang berarti “dengan takjub melihat, memandang” (Oemarjati:1971).

Sejalan perkembangan, di negara Barat pada awalnya dilakukan sebagai upacara keagamaan. Para peserta duduk melingkar dan pelaksana upacara dilakukan di tengah-tengah lingkaran. Lambat laun kegiatan tersebut diiringi oleh musik dan nyanyian. Begitupun para penonton dengan jumlah yang lebih besar duduk melingkar dengan kursi yang radiusnya semakin tinggi seperti halnya stadion olah raga bulutangkis.

Di Indonesia pada dasarnya upacara-upacara keagamaan telah mengarah ke bentuk theatron. Di Bali misalnya, suatu upacara dilakukan dengan peran serta penonton yang diiringi gamelan, tarian, maupun gerak menjadi satu. Perkembangan berikutnya, di daerah-daerah muncul kesenian-kesenian seperti wayang kulit, wayang orang, wayang golek. Begitupun kesenian derah lainnya, seperti topeng, ludruk, dan ketoprak sejak jaman Mataram (abad 16) telah populer dan hidup. Akan tetapi, penampilan mereka sangat amatir dan keahlian rombongan tersebut diperoleh dari lingkungannya secara turun temurun (Community theatre).

Pada tahun 1891 August Mahieu mendirikan Komedi Stamboel sebagai jawaban kegagalan rombongan “Abdoel Moeloek” dari Malaka. Komedi stamboel menggunakan bahasa Melayu dengan diiringi lagu dam musik Melayu, Waltz, atau lagu-lagu  dansa populer lainnya pada saat itu, sehingga rombongan ini diterima di kalangan masyarakat Indonesia. Berbeda halnya dengan Abdoel Moeloek yang hanya membawakan cerita-cerita raja-raja Melayu. Rombongan Komedi Stamboel mengetengahkan cerita-cerita 1001 Malam (Aladin, Ali Baba, dan sebagainya) dan hikayat Eropah seperti Doorn – roosje atau Sneeuwwitje, dan sebagainya (Oemarjati:1971). Di samping cerita-cerita hikayat, Komedi Stamboel pun mengetengahkan cerita realistis (khususnya setelah meninggal A. Mohieu tahun 1906), yaitu Nyai Dasima, Si Tjonat, dan cerita realistis lainnya. Dan rombongan ini pun mengetengahkan cerita opera dan operet dari Barat, seperti Hamlet Pangeran Denamark karya William shakespeare dan cerita lainnya.

Kebiasaan rombongan Komedi Stamboel dalam pementasannya selalu dua babak yang diselingi dengan nyanyian atau tarian. Para penari atau penyanyi disesuaikan dengan selera penonton, sehingga kemungkinan penari atau penyanyi tersebut berterima oleh penonton maka tepuk tangan meriah menggema di arena itu. Akan tetapi, sebaliknya kalau tidak berterima penonton menyuruhnya turun atau mengganti dengan penari atau penyanyi lain. Di samping cara itu, rombongan ini untuk menarik penonton pun menggunakan koostum yang berwarna warni yang serba “wah”.

Pada tahun 1926 tepatnya tanggal 21 Juni berdirilah The Molay Opera “Dardanella” oleh A. Piëdro putra A. Klimonoff seorang pemain sirkus berkebangsaan Rusia. A. Piëdro asalnya pemain akrobatik yang diperkejakan dalam rombongan Komedi Stambul. Akan tetapi, kiprahnya dalam pementasan bersama rombongan Dardarella ke luar dari konvensi (kebiasaan/kesepakatan) yang dilakukan komedi-komedi bangsawan sebelumnya. Dalam pertunjukannya tidak ada nyanyian dan sepenuhnya dialog-dialog yang jadi ciri khasnya. Bentuk inilah yang mempengaruhi perkembangan drama selanjutnya di Indonesia.

Perkembangan drama sebagai sastra lakon dimulai pada tahun 1926 yaitu Bebasari yang ditulis Rustam Effendi. Lebih lanjut, kita sajikan pembahasan drama di Indonesia yang dikemukakan Oemarjati dalam Sutawijaya dan Mien Rukmini (1995) sebagai berikut.

  1. Period 1926-1942 (Period Kebangkitan)
  2. Period 1942-1945 (Period Pembangunan)
  3. Period 1945-1950 (Period Awal Perkembangan)
    1. Period 1950-1965 (Period Perkembangan)

Pada periode kebangkitan, tema dan motif lakonnya sangat bersifat epis, pengungkapannya romantis dan idealistis. Penulis-penulis pada masa ini, adalah:

  1. Rustam Effendi, karyanya Bebasari
  2. Muhammad Yamin, karyanya:
    1. Ken Arok dan Ken Dedes
    2. Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
    3. Sanusi Pane, karyanya:
      1. Airlangga
      2. Eenzame Garoedavlucht
      3. Kertajaya
      4. Sandhyakala Ning Majapahit
      5. Manusia Baru
    4. Armijn Pane, karyanya:
      1. Lukisan Masa
      2. Setahun di Bedahulu
      3. Nyai Lenggang Kencana
    5. Ajirabas, karyanya:

Bangsacara dan Ragapadmi

Menurut Boen S. Umarjati, lakon-lakon pada masa ini, “Pada umumnya mengetengahkan cara penulisan yang kurang kompak: seringnya terdapat adegan-adegan yang secara struktural tidak organis dalam pembinaan hakikat lakon: (1969:216).

Periode Pembangunan, merupakan periode yang produktif. Ditandai oleh tema-tema yang bersifat romantis-realistis. Penulis-penulis pada masa ini, adalah:

  1. El Hakim/Dr. Abu Hanafiah
    1. Taufan di Atas Asia
    2. Intelek Istimewa
    3. Dewi Reni
    4. Insan Kamil
    5. Rogaya
    6. Bambang Laut
    7. Usman Islamil
      1. Citra
      2. Liburan Seniman
      3. Api
      4. Mutiara dari Nusa Laut
      5. Mekat Melati
      6. Tempat Yang Kosong
      7. Pamanku.
    8. Armijn Pane
      1. Kami Perempuan
      2. Antara Bumi dan Langit
      3. Jinak-jinak Merpati
      4. Barang Tiada Berharga
    9. Idrus
      1. Kejahatan Membalas Dendam
      2. Jibaku Aceh
      3. Dokter Bisma
    10. Amal Hamzah
      1. Tuan Amin

Pada periode awal perkembangan, produktivitas tampak menurun, bila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Boen menyebutnya sebagai bagal awal perkembangan yang steril, baik dalam kuantitas maupun kualitas (1969:51).

Periode Perkembangan. Corak dan motif lakon-lakon pada masa ini lebih beraneka ragam, dan ditandai eksperimen-eksperimen. Beberapa penulis pada masa ini adalah:

  1. Achdinat Karta Miharja
  2. Aoh Karta Hadimaja
  3. Sri Murtono
  4. Rustandi Kartakusuma
  5. Trisno Sumarjono
  6. Sitor Situmorang
  7. Slametmulyana
  8. W.S Rendra
  9. Utuy Tatang Sontany
  10. Motinggo Busye
  11. Nisbah Yusa Biran
  12. Nasyah Jamin
  13. Bambang Sularto
  14. Kirjomulyo
  15. Jusaal Muscar.

Ciri yang penuh eksperimen ini terus belanjut hingga sekarang. Kita kenal naskah-naskah yang disebut naskah yang absurd, naskah yang tokoh-tokohnya tak bernama. Penulis-penulis drama lainnya adalah:

  1. Arifin C. Noor
  2. Noorca Marendra
  3. Putu Wijaya
  4. Asrul Sani
  5. Tatik Malyati, dan lain-lain.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: