Asupriatna’s Weblog

25 25000000Selasa56 2008

KESULITAN BELAJAR ANAK DISLEKSIA (bagian 1)

Filed under: Uncategorized — asupriatna @ 00.00

1. Batasan Kesulitan Belajar

Anak yang mengalami kesulitan belajar sering disebut dengan istilah learning problems atau learning difficulties adalah kelompok learning disabilities (LD) atau Specific Learning Diificulties .

Masalah kesulitan belajar dalam pendidikan kebutuhan khusus (special needs education), anak yang mempunyai kebutuhan khusus baik yang bersifat temporer maupun permanen akan berdampak langsung kepada proses belajar, dalam bentuk hambatan untuk melakukan kegiatan belajar (barrier to learning and development). Misalnya, kesulitan atau gangguan belajar ABK yang disebabkan akibat  gangguan penglihatan (tunanetra),  gangguan pendengaran dan bicara (tunarungu/wicara), kelainan kecerdasan (tunagrahita giffted dan genius),  gangguan anggota gerak (tunadaksa), gangguan perilaku dan emosi (tunalaras),  lamban belajar (slow learner),  autis, atau  ADHD akan berdampak terhadap proses pembelajaran sesuai dengan tingkat kesulitannya. Dalam diklat ini terfokus kepada pembahasan kesulitan belajar bagi ABK di sekolah dasar inklusi yang mengalami gangguan belajar spesifik yaitu disleksia.

Otak anak dyslexia tidak menunjukkan asimetri pada pusat berbahasa di otak, di daerah temporal. Anak dyslexia terdapat gangguan sel saraf dibeberapa daerah otak yang berhubungan dengan kemampuan membaca. Gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik, tetapi bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut.

otak bagian temporal

Anak yang mengalami learning disabilities (LD) atau Specific Learning Diificulties (SLD) secara umum dapat diartikan suatu kesulitan  belajar pada anak yang ditandai oleh ketidakmampuan dalam mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya dan berdampak pada hasil akademiknya.  Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Anna Surti Ariani, Psi, LD dalam http://www2.kompas.com/ Jumat, 22 Juni 2007 yang mendefinisikan kesulitan belajar merupakan hambatan atau gangguan belajar pada anak atau remaja yang ditandai adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai oleh anak seusianya.

Anak LD atau SLD adalah masalah belajar primer yang disebabkan karena adanya deficit atau kekurangan fungsi dalam satu atau lebih area inteligensi. Penyebabnya gangguan neurologis dan genetik. Istilah LD atau  SLD hanya dikenakan pada anak-anak yang mempunyai inteligensia normal hingga tinggi. Gangguan ini merupakan gangguan yang kasat mata, berupa kesalahan dalam hal membaca (disleksia), menulis (disgrafia), dan berhitung (diskalkulia). Kesalahan yang terjadi akan selalu dalam kesalahan sama secara terus menerus, dan dibawa seumur hidup (long live disabilities).

Kelompok anak LD dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Menurut Cruickshank (1980) gangguan-gangguan tersebut adalah gangguan latar-figure, visual-motor, visual-perceptual, pendengaran, intersensory, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio-emosional, body image, dan konsep diri. Lain halnya pandangan Hammil dan Myers (1975) meliputi gangguan aktivitas motorik, persepsi, perhatian, emosionalitas, simbolisasi, dan ingatan. Ditinjau dari aspek akademik, kebanyakan anak LD juga mengalami kegagalan yang nyata dalam penguasaan keterampilan dasar belajar, seperti dalam membaca, menulis, dan atau berhitung.

Informasi mengenai gangguan/kelainan anak sangat penting, sebab dari beberapa penelitian terbukti bahwa anak-anak yang prestasi belajarnya rendah cenderung memiliki gangguan/kelainan penyerta. Survei terhadap 696 siswa SD dari empat provinsi di Indonesia yang rata-rata nilai rapornya kurang dari 6,0 (enam, nol), ditemukan bahwa 71,8% mengalami disgrafia, 66,8% disleksia, 62,2% diskalkulia, juga 33% mengalami gangguan emosi dan perilaku, 31% gangguan komunikasi, 7,9% cacat / kelainan anggota tubuh, 6,6% gangguan gizi dan kesehatan, 6% gangguan penglihatan, dan 2% gangguan pendengaran (Balitbang, 1996).

Karakteristik  Siswa Mengalami Kesulitan Belajar

Secara umum menurut Torey Hayden (2000) karakteristik  siswa berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan belajar dapat dilihat dari hal-hal berikut.

a) Banyak murid berkebutuhan khusus mengalami masalah di ruang kelas karena:

  • Mereka tak bisa membaca dengan baik
  • Mereka tidak memahami kuliah dan diskusi
  • Mereka tidak mudah mengonseptualisasi simbol, konsep, atau teori abstrak
  • Mereka kesulitan mengaitkan pengetahuan baru dengan apa yang sudah mereka ketahui
  • Mereka mungkin tidak cakap dalam keterampilan dasar yang diperlukan untuk pembelajaran, misalnya mempertahankan perhatian, menafsirkan makna suatu informasi baru, mengikuti petunjuk, dan mengelola perilaku

b) Murid berkebutuhan khusus sulit mengikuti instruksi karena:

  • Meraka mungkin tak mampu memusatkan perhatian dalam waktu yang cukup lama.
  • Mereka mungkin tak mampu melihat atau mendengar instruksinya.
  • Mereka mungkin tak mampu memahami arti perintah itu atau tak bisa membaca dengn baik.
  • Mereka mungkin tak mampu mengenali perilaku penting saat melihat contoh.

c) Beberapa murid memiliki kesulitan untuk berusaha menyelesaikan tugas secara konsisten. Hal ini bisa disebabkan oleh:

  • Mereka bekerja terlalu lambat dan memakan banyak waktu
  • Mereka tidak mampu mengantisipasi sumber-sumber dan materi-materi yang diperlukan.
  • Mereka mendapatkan masalah ditengah pengerjaan tugas dan enggan untuk meminta pertolongan. Atau, merka juga dapat kehilangan ketertarikan terhadap tugas tersebut dan menolak untuk melanjutkan pekerjaan tugas.

d) Tugas yang rumit memunculkan masalah beberapa murid berkebutuhan khusus, karena:

  • Mereka memiliki kesulitan untuk memecah perhatin pada lebih dari satu hal dalam waktu yng bersamaan.
  • Mereka lebih mudah terganggu.
  • Mereka melupakan petunjuk dan kebingungan menyelesaikan tugas.
  • Mereka menemukan banyak sekali detail-detail yang membingungkan mereka.
  • Beberapa materi petunjuk tidak diformat secara jelas di halaman atau buku petunjuk.

e) Murid-murid berkebutuhan khusus kesulitan menyimpan materi-materi pelajaran di kelas karena:

  • Mereka kekurangan kendali internal.
  • Mereka tidak mengerti apa yang diharapkan.
  • Mereka tidak dapat mengingat apa yang harus dilakukan.
  • Mereka tidak tahu bagaimana menyimpan materi-materi tugas agar mudah ditemukan.

f) Banyak murid berkebutuhan khusus yang tak bisa membaca sebaik teman-temanya:

  • Mereka mungkin masih mempelajari keterampilan pengenalan lambang dasar dan pengenalan kata atau strategi pemahaman, untuk membatu mereka memahami kata, frase, dan kalimat yang dibaca.
  • Ada materi tertulis yang memberikan tantangan lebih karena tidak tersusun dengan baik.
  • Mereka mungkin kesulitan menentukan gagasan utama atau apa yang penting diingat dalam informasi yang dibaca.
  • Mereka mungkin tersesat dalam detail dan bingung dengan cara gagasan dihadirkan dalam teks atau buku referensi.

g) Seorang murid berkebutuhan khusus mungkin memahami informasi saat ia mendengarkannya tetapi tidak mampu membaca materi yang diperlukan untuk tugas sekolah.

h) Murid berkebutuhan khusus mungkin kesulitan mempelajari konsep dan proses matematis karena:

  • Keterampilan prosedural mereka buruk dan mereka bergantung pada strategi yang kekanakan, misalnya menghitung dengan jari.
  • Kemampuan ingatan mereka buruk, sehinga mereka kesulitan mengingat fakta mendasar.
  • Banyak murid yang memiliki ketidakmampuan-matematika juga memiliki ketidakmampuan-membaca, dan ketidakmapuan-membaca inilah yang menyulitkan mereka memahami soal.

Secara khusus menurut Direktorat PLB (2000) karakteristik  siswa yang mengalami disleksia dan disgrafia dapat dilihat dari hal-hal berikut.

1) Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)

a)    Perkembangan kemampuan membaca terlambat,

b)    Kemampuan memahami isi bacaan rendah,

c)    Kalau membaca sering banyak kesalahan

2) Anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia)

a)    Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai,

b)    Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya,

c)    Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,

d)    Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,

e)    Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.

Pendapat di atas diperkuat oleh Lody Paat (2006) yang menjelaskan dalam mengidentifikasi anak disleksia dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan berikut.

a)    Sulit mengeja dengan benar. Satu kata bisa berulangkali diucapkan dengan bermacam ucapan.

b)    Sulit mengeja kata atau suku kata yang bentuknya serupa, misalnya b-d, u-n, atau m-n.

c)    Ketika membaca anak sering salah melanjutkan ke paragraph berikutnya atau tidak berurutan.

d)    Kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata.

e)    Kesalahan mengeja yang dilakukan terus-menerus. Misalnya kata ”pelajaran” diucapkan menjadi ”perjalanan”.

Lebih lengkap lagi sebagaimana dikemukakan Ronald Davis (2005) dalam mengidentifikasi dan karakteristik siswa yang mengalami kesulitan belajar spesifik disleksia dapat dilihat dari indikator-indikator di bawah ini.

1)    Lambat bicara jika dibandingkan kebanyakan anak seusianya dan tidak dapat mengucapkan kata-kata secara benar.

2)    Lambat mengenali alfabet, angka, hari, minggu, bulan, warna, bentuk dan informasi mendasar lainnya. Serta sulit dalam mengurutkan huruf-huruf dalam kata.

3)    Sulit menyuarakan fonem (satuan bunyi) dan memadukannya menjadi sebuah kata.

4)    Sulit mengeja secara benar. Bahkan mungkin anak akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan.

5)    Sulit mengeja kata atau suku kata dengan benar. Anak bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan bentuk seperti b – d, u – n, m – n.

6)    Membaca satu kata dengan benar di satu halaman, tapi salah di halaman lainnya.

7)    Kesulitan dalam memahami apa yang dibaca.

8)    Sering terbalik dalam menuliskan atau mengucapkan kata. Misalnya kata ”gajah” ducapkan menjadi ”gagah”, “pelajaran” dibaca “perjalanan”.

9)    Rancu dengan kata-kata yang singkat, misalnya ke, dari, dan, jadi.Bingung menentukan tangan mana yang dipakai untuk menulis.

10) Lupa mencantunkan huruf besar, serta lupa meletakkan tanda-tanda baca lainnya, seperti titik atau koma.

11) Menulis huruf dan angka dengan hasil yang kurang baik/ tulisannya jelek sekali.

12) Terdapat jarak pada huruf-huruf dalam rangkaian kata. Tulisannya tidak stabil, kadang naik, kadang turun.

13) Punya kebiasaan membaca terlalu cepat hingga salah mengucapkan kata atau bahkan terlalu lambat dan terputus-putus.

14) Rancu dalam memahami konsep kiri­kanan, atas-bawah, utara-selatan, timur-barat.

15) Memegang alat tulis terlalu kuat/keras

16) Rancu atau bingung dengan simbol-simbol matematis. Misalnya tanda +, -, x, :, dan sebagainya.

17)  Sulit mengikuti lebih dari sebuah instruksi dalam satu waktu yang sama.

Berdasarkan karakteristik kesulitan belajar di atas, maka secara harfiah Peer (2002:45) mendefinisikan bahwa siswa yang mengalami kesulitan belajar spesifik disleksia adalah kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Kelainan ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tertulis, atau kesulitan mengenal hubungan antara suara dan kata secara tertulis. Lebih lanjut, Paat menjelaskan bahwa anak dengan gangguan belajar disleksia memiliki masalah pada kemampuan meta kognisi. Dengan kata lain, anak tersebut sulit mengatur pemahaman ketika menerima informasi atau salah memberikan respon.

Apabila dibandingkan anak disleksia dengan anak normal dalam hal perkembangan kemampuan membaca, maka anak normal kemampuan membaca sudah muncul sejak usia enam atau tujuh tahun.

Berbeda halnya dengan anak disleksia, ia sampai usia dua belas tahun kadang mereka masih belum lancar membaca. Dengan demikian, disleksia merupakan gangguan akan kemampuan membaca anak berada di bawah kemampuan seharusnya. Gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik, seperti masalah penglihatan, tetapi mengarah pada bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut. Kesulitan ini biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu.

  1. 1.
    LEMBAR INFORMASI 3

    Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar

Hambatan belajar yang dialami oleh setiap anak bisa disebabkan oleh (1) faktor internal pada diri anak itu sendiri, (2) faktor ekternal di luar diri anak dan, (3) faktor internal dan eksternal.

1) Faktor Internal

Hambatan belajar bisa terjadi akibat adanya kerusakan secara fisik pada diri anak (impairment), misalnya kehilangan fungsi penglihatan, pendengaran, dan gangguan pada pada gerak motorik, serta anak yang mengalami hambatan perkembangan intelektual. Keadaan impairment seperti itu menimbulkan kesulitan atau ketidakmampuan tertentu (disability), sehingga merintangi anak untuk belajar.
2) Faktor Eksternal

Hambatan belajar pada seorang anak bisa disebabkan oleh faktor-faktor di luar diri anak itu sendiri. Anak mengalami kesulitan-kesulitan tertentu untuk belajar karena eksternal. Misalnya, anak sering mendapat perlakuan kasar, sering diolok-olok, tidak pernak dihargai, sering melihat kedua orang tuanya bertengkar dsb. Keadaan seperti ini dapat menimbulakan kehilangan kepercayaan diri, sulit untuk memusatkan perhatian,cemas, gelisah, takut yang tidak beralasan dsb.

Bentuk-bentuk hambatan belajar yang dapat teridentifikasi akibat dari keadaan seperti itu misalnya, anak tidak memiliki keberaian untuk bertanya mesikipun ada yang ingin ia tanyakan kepada gurnya, tidak bisa menyatakan bahwa dia tidak mengerti sesuatu karena takut, tidak dapat mengikuti intruksi, tidak dapat mengemukakan pendapat atau keinginan secara lisan karena tidak berani. Anak-anak seperti ini tidak mungkin dapat belajar dengan benar.

Faktor eksternal lainnya yang dapat menjadi hambatan belajar bagi seorang anak seperti, pengalaman belajar di kelas yang sangat keras dan sangant kompetitif, pengalaman belajar di kelas yang terlalu mudah, sehingga tidak ada tantangan untuk belajar lebih lanjut, pembelajaran yang tidak sesuai dengan gaya belajar anak, kurikulum yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak secara personal , dan ketidaktersediaan sumber belajar dan media pembelajaran.
3) Faktor Internal dan Eksternal

Hambatan belajar bisa terjaidi karena komibinasi antara faktor intenal dan faktor eksternal. Misalnya seorang anak yang mengalami gangguan perkemabngan intelektual (internal) belajar pada lingkungan kelas yang keras dan kompetip (eksternal). Sudah dapat dipastikan bahwa hambatan belajar yang dialami oleh anak ini akan berakibat lebih buruk pada perkembangan hasil belajar anak. Anak menghadapi dua hambatan bejar secara bersamaan.

Adapun penyebab siswa mengalami disleksia menurut Ronald Davis (1997) secara garis besar dilatarbelakangi dari tiga faktor penyebab yaitu sebagai berikut.

  1. Genetik/ keturunan. Disleksia cenderung terdapat pada keluarga yang mempunyai anggota kidal. Namun, orang tua yang disleksia tidak secara otomatis menurunkan gangguan ini pada anak-anaknya, atau anak kidal pasti disleksia.
  2. Memiliki masalah pendengaran sejak usia dini. Jika kesulitan  tidak terdeteksi sejak dini, maka otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi atau suara yang didengarnya dengan huruf atau kata yang dilihatnya. Hal ini terbukti dari penelitian internasional (Peer, 2002) dengan sampel 1000 orang muda penyandang disleksia menunjukkan bahwa, jumlah  orang dengan sejarah infeksi telinga, khususnya glue ear, ada 703 orang. Penelitian ini mengindikasikan bahwa ada sub-kelompok siswa penyandang disleksia, yang mempunyai sejarah awal seperti ini. Temuan kunci dari studi ini menunjukkan bahwa, sub-kelompok glue ear memiliki kecenderungan menderita disleksia lebih berat alih-alih mereka yang berada dalam kelompok disleksia tetapi tidak menderita glue ear. Perlu dicatat juga bahwa, sementara mayoritas anak-anak di seluruh dunia mengalami glue ear pada tahun-awal mereka (Daly, 1997), hanya sebagian kecil saja yang penyakitnya bertambah parah, dan terus menerus menderita penyakit ini.

Bagaimana Glue Ear Mempengaruhi Pendengaran?

Gambar 1a. Telinga sehat                       Gambar 1b. Telinga tidak sehat

  1. Faktor kombinasi. Merupakan kombinasi dari dua hal diatas. Faktor kombinasi ini menyebabkan anak yang disleksia menjadi kian serius atau parah, hingga perlu penanganan menyeluruh dan kontinyu.

Sudah diketahui bahwa ada beberapa perbedaan otak anak dyslexia dengan anak lain. Perbedaan pertama adalah bahwa otak anak dyslexia tidak menunjukkan asimetri pada pusat berbahasa di otak, di daerah temporal. Pada anak biasa, daerah temporal di otak kiri lebih besar dibandingkan kanan. Pada anak dyslexia, kiri dan kanan sama saja. Perbedaan kedua adalah bahwa pada anak dyslexia terdapat gangguan sel saraf di beberapa daerah otak yang berhubungan dengan kemampuan membaca, misalnya di daerah parietal dan temporal. Gangguan sel saraf ini sudah terjadi sejak anak masih dalam kandungan.

Berdasarkan pandangan-pandangan di atas, maka beberapa fakta  yang ditemukan Peer (2002) bahwa;

  • Disleksia selalu mempengaruhi proses penulisan, khususnya ejaan.
    • Pada kebanyakan kasus ini merupakan turunan, tetapi kadang-kadang bukan dari keturunan.
    • Orang-orang dari seluruh komunitas bahasa, dapat terkena disleksia. Menjadi orang yang aneka-bahasa bisa lebih memperburuk masalah, tetapi ini bukan penyebabnya.
    • Mungkin saja Anda memiliki ingatan yang rendah sekaligus cerdas dan menyandang disleksia!
    • Kadang-kadang disleksia mempengaruhi membaca dan/atau pembelajaran matematika dan/atau notasi musik.
    • Penyandang disleksia biasanya merasa, bahwa mereka tahu lebih banyak di dalam kepala mereka alih-alih apa yang dapat mereka tulis dalam kertas, yang dapat menyebabkan frustasi besar.
    • Penyandang disleksia seringkali mendapati bahwa, kecepatan berbicara orang lain, terlalu tinggi.
    • Kadang-kadang penyandang disleksia merasa bahwa halaman-halaman yang sedang mereka baca, bergerak. Ini yang membuat membaca menjadi sulit bagi mereka.
    • Anda tidak dapat menjadi disleksia melalui cara mengajar yang buruk.
    • Tidak dapat disembuhkan … Ini bukan penyakit!
    • Tidak berhubungan dengan IQ.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: