Asupriatna’s Weblog

25 3000000Minggu22 2008

SILABUS DAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN KRITIK SASTRA

Filed under: Uncategorized — asupriatna @ 00.00

Mata Kuliah                   : Kritik dan Aprsiasi Sastra Indonesia

Program Studi                : Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Dosen                             : Dr. Hj. Iis Ristiani, S.Pd., M.Pd.

Dr. H. Agus Supriatna, Drs., M.Pd.

I. Tujuan Perkuliahan

Perkuliahan ini bertujuan mengembangkan kemampuan memahami secara mendalam, komprehensif, dan integratif berkenaan dengan Studi tentang Sastra Indonesia, Antologi Sastra Indonesia, Sejarah Sastra Indonesia, Kritik Sastra Indonesia, Studi tentang Cerita Rekaan, Studi tentang Puisi, dan Studi tentang Drama yang akan dijadikan sebagai landasan di dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan meneliti masalah Sastra Indonesia. Oleh karena itu, diharapkan perkuliahan ini dapat menunjang profesionalisme dan kepakaran mahasiswa dalam bidang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.

II. Deskripsi Mata Kuliah

Perkuliahan ini menyajikan berbagai kajian tentang Sastra Indonesia berkenaan dengan Studi tentang Karya Sastra Indonesia, Antologi Sastra Indonesia, Sejarah Sastra Indonesia, Kritik Sastra Indonesia, Studi tentang Cerita Rekaan, Studi tentang Puisi, dan Studi tentang Drama. Pemahaman yang mendalam berkaitan dengan materi tersebut hendaknya dihubungkan dengan kondisi aktual masyarakat dan dunia kesastraan Indonesia dan Nusantara dewasa ini. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa memiliki pengalaman belajar yang empiris, mengakar, dan kritis sehingga dapat memperkokoh proses pendidikan.

 

III. Pengalaman Belajar

Selama mengikuti perkuliahan mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan:

a. Ceramah, tanya jawab, dan diskusi di kelas;

b. Penyajian laporan buku di kelas; dan

c. Penyusunan makalah berdasarkan pengamatan di lapangan, baik secara teoretis maupun secara

empiris. Adapun rincian materi sebagai berikut:

  1. Kritik Sastra Indonesia
    1. Pengertian
    2. Jenis Kritik Sastra Indonesia
    3. Kriteria yang Digunakan
    4. Metode Kritik
  2. Studi tentang Sastra Indonesia
    1. Penelitian terhadap Karya Sastra
    2. Studi tentang Struktur Sastra Indonesia
    3. Kesatuan dan Keberagaman
  3. Studi tentang Cerita Rekaan, Puisi, dan Drama
    1. Problematika Multikulturalisme dalam Karya Sastra Indonesia
    2. Kearifan Lokal dalam Sastra Indonesia
    3. Nasionalisme dan Lokalitas Kebudayaan dalam Sastra Indonesia
    4. Sastra dan Budaya Masyarakat Urban dalam Dinamika Teknologi Audio-Visual
    5. Refroduksi Budaya Lokal dalam Karya Sastra Indonesia
    6. Kompleksitas Gender dalam Karya Sastra Indonesia
    7. Pemanfaatan Media Audio-Visual dalam Pengajaran Sastra Indonesia
    8. Kesatuan dan Keberagaman dalam Sastra Indonesia
    9. Pembangunan karakter Bangsa dalam Sastra Indonesia

 

IV. Evaluasi Hasil Belajar

Keberhasilan mahasiswa dinilai melalui kinerja akademik dengan indikator:

  1. UTS dan UAS
  2. Pembuatan dan penyajian laporan literatur
  3. Pembuatan dan penyajian makalah
  4. Partisipasi kegiatan di kelas

 

V. Jadwal Pertemuan

 

Pertemuan I

Pengantar dan Substansi

Pada pertemuan ini dikemukakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Tujuan Mata Kuliah
  2. Ruang Lingkup Mata Kuliah
  3. Mekanisme perkuliahan
  4. Jenis tugas yang harus dilakukan
  5. Mekanisme penilaian hasil belajar
  6. Referensi yang dijadikan sebagai rujukan materi perkuliahan

 

Materi yang disajikan: Ikhwal Kritik Sastra Indonesia

 

Sumber:

Teeuw, A. 1995. Teori Kesusastraan. Hal 47-56 

———-. 1994. Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Hal 96-102.

———-. 1993. Khazanah Sastra Indonesia. Hal 7-12.

Mahmud, Kusman K. 1991. Sastra Indonesia dan Daerah. Hal 51-56, 64-68.

 

Pertemuan II

Studi tentang Sastra Indonesia:

  1. Penelitian terhadap Karya Sastra Studi tentang Struktur Sastra Indonesia
  2. Kesatuan dan Keberagaman

Sumber:

Soedjarwo. 2004. Sastra Indonesia Kesatuan dalam Keberagaman. Hal 131

 

Pertemuan III

Pertemuan IV

Pertemuan V

Kritik Sastra Indonesia

  1. Jenis Kritik Sastra Indonesia
  2. Kriteria yang Digunakan
  3. Metode Kritik
  4. Para Kritikus dan Karyanya

 

 

 

Sumber:

Teeuw, A. 1995. Teori Kesusastraan.Gramedia: Jakarta. Hal. 37.

 

 

Pertemuan VI

Pertemuan VII

Pertemuan VIII

 

Ujian Tengah Semester

 

Pertemuan IX

 

Pertemuan X sampai dengan XV

Pertemuan ke-10 sampai dengan ke-15 merupakan penyajian laporan buku oleh setiap mahasiswa.

Sumber:

Reader dean Writer. 1998. 20 Th Century Literary Criticism.

 

Pertemuan XVI

UAS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGERTIAN KRITIK SASTRA

Secara etimologis, kata kritik berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata kritein (menghakimi, membanding, menimbang). Kata kritein menjadi bentuk dasar bagi kata kreterion (dasar, pertimbangan, penghakiman). Orang yang melakukan pertimbangan/penghakiman disebut krites yang berarti hakim. Bentuk krites inilah yang menjadi dasar kata kritik.

Secara harfiah, kritik sastra adalah upaya menentukan nilai hakiki karya sastra dalam bentuk memberi pujian, mengatakan kesalahan, memberi pertimbangan lewat pemahaman dan penafsiran yang sistemik.

 

B. JENIS KRITIK SASTRA

Kritik sastra dapart dibagi dalam beberapa jenis, berdasarkan pendekatan yang digunakan, bentuk, dan pelaksanaan kritik itu sendiri. Bila kritik sastra dilihat dari segi pendekatan atau metode kritik maka kritik sastra dapat dibagi atas dua jenis :

a)         Kritik sastra penilaian ( judikal criticism ), yaitu kritik sastra yang sifatnya memberi penilaian terhadap pengarang dan karyanya. Penilaian dilakukan berdasarkan ukuran yang telah ditetapkan sebelum penilaian itu dilakukan.

b)        Kritik sastra induktif  ( induktive criticism ), yaitu kritik sastra yaang tidak mau mengakui adanya aturan-aturan atau ukuran-ukuran yang ditetapkan sebelumnya.

c)         Kritik impresionistik (estetik), menggambarkan karya sastra dengan kata-kata dan mengekspresikan tanggapan kritikus atau uraian kesan-kesan kritikus mengenai isi sajak yang diucapkan penyair dengan mengutip sajak tanpa analisisnya

d)         Kritik Ekspresionistik

Kritik yang menekankan kepada kebolehan pengarang dalam mengekspresikan atau mencurahkan idenya ke dalam wujud sastra. Kritik ini cenderung menimbang karya sastra dengan memperlihatkan kemampuan pencurahan, kesejatian, atau visi penyair yang secara sadar atau tidak tercermin pada karya tersebut.

 

Adapun yang bersifat perincian dari kritik sastra penilaian yaitu :

a)         Kritik sastra ilmiah, kritik sastra yang dilakukan dengan pendekatan ilmiah

b)        Kritik sastra estetis, kritik sastra yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan estetis, yang mengutamakan kritik dari segi keindahan suatu karya sastra.

c)         Kritik sastra sosial, kritik sastra yang dilakukan dengan menggunakan pendekataan sosiologis artinya karya sastra itu ditelaah dengan segi-segi sosial kemasyarakatan yang berada disekitar kelahiran karya tersebut, serta sumbangan yang diberikan terhadap pembinaan tata kehidupan masyarakat.

 

Berdasarkan pendekatan terhadap karya sastra kritik sastra itu dapat pula digolongkan ke dalam empat jenis, Semi ( dalam Abraham, 1981 ) yaitu:

a)         Kritik memetik ( mimetik criticism ), yaitu kritik sastra yang bertolak pada pandangan bahwa karya sastra merupakaan suatu tiruan atau pengembangan dunia dan kehidupan manusia.

b)        Kritik prakmatik ( prakmatik kriticism ), yaitu suatu kritik yang disusun berdasarkan pandangan bahwa sebuah karya sastra itu disusun untuk mencapai efek-efek tertentu kepada pembacanya, seperti kesenangan,estetika, pendidikan.

c)         Kritik ekspresif, yaitu kritik sastra yang menekankan ketelaahan kepada kebolehan pengarang dalam mengekspresikan atau mencurahkan idenya kedalam wujud sastra.

d)        Kritik objektif, yaitu suatu kritik sastra yang menggunakn pendekatan atau pandangan bahwa karya sastra adalah karya yang mandiri, ia tidak perlu dilihat dari segi pengarang, pembaca, atau dunia sekitarnya.

 

Ditinjau dari segi bentuknya, karya satra dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

a)         Kritik relatif, diartikan sebagai satu bentuk kritik yang mempuyai aturan-aturan yang dijakan pegangan dalam upaya menguraikan atau menjelaskan tentang hakikat karya sastra.

b)        Kritik absolut, merupakan kritik sastra yang tidak percaya akan adanya suatu prosedur dan perangkat aturan yang dapat diandalkan untuk dijadikan patokan dalam melakukan kritik.

c)         Kritik teoritis, kritik sastra yang berusaha untuk sampai kepada prinsip-prinsip seni yang umum dan memformulasikan usaha pemaduan unsur estetika dengan prinsip kritik.

d)        Kritik praktis, kritik yang berupaya agar prinsip dan patokan yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik karya seni yang bersangkutan.

 

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari kritik sastra adalah

a)      Pertimbangan atau penjelasan tentang karya sastra serta prinsip-prinsip terpenting tentang karya sastra tersebut kepada penikmat yang kurang dapat memahaminya.

b)      Menerangkan seni imajinatif sehingga mampu memberi jawaban terhadap hal-hal yang dipertanyakan pembaca.

c)      Membuatkan aturan-aturan untuk para pengarang dan mengatur selera pembaca.

d)      Menginterpretasikan suatu karya sastra terhadap pembaca yang tidak mampu memberikan apresiasi.

e)      Memberikan keputusan atau pertimbangan dengan ukuran penilaian yang telah ditetapakan.

f)        Menemukan dan mendapatkan asas yang dapat menerangkan dasar-dasar seni yang baik.

 

 

KRITIK SASTRA
(catatan ringkas utk keperluan sendiri)

1. Pengertian

Menurut Rene Wellek dan Austin Warren, Studi sastra (ilmu sastra) mencakup tiga bidang, yakni: teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Ketiganya memiliki hubungan yang erat dan saling mengait. Kritik sastra dapat diartikan sebagai salah satu objek studi sastra (cabang ilmu sastra) yang melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra.

2. Manfaat Kritik Sastra

Setidaknya, ada 4 (empat) manfaat kritik sastra. Keempat manfaat tersebut adalah sebagai berikut.

a. Kritik sastra berguna bagi perkembangan sastra
dalam mengkritik, kritikus akan menunjukkan hal yang bernilai/tidak bernilai dari suatu karya sastra. Kritikus bisa jadi akan menunjukkan kebaruan-kebaruan dalam karya sastra, hal-hal apa saja yang belum digarap oleh sastrawan. Dengan demikian sastrawan dapat belajar dari kritik sastra untuk lebih meningkatkan kecakapannya dan memperluas cakrawala kreativitas, corak, dan mutu karya sastranya. Jika sastrawan-sastrawan dalam di negara tertentu menghasilkan karya-karya yang baru, kreatif, dan berbobot, maka perkembangan sastra negara tersebut juga akan meningkat pesat, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Dengan kata lain, kritik yang dilakukan kritikus akan meningkatkan kualitas dan kreativitas sastrawan, dan pada gilirannya akan meningkatkan perkembangan sastra itu sendiri.

b. Kritik sastra berguna untuk penerangan bagi pembaca
Dalam melakukan kritik, kritikus akan memberikan ulasan, komentar, menafsirkan kerumitan-kerumitan, kegelapan-kegelapan makna dalam karya sastra yang dikritik. Dengan demikian, pembaca awam akan mudah memahami karya sastra yang dikritik oleh kritikus.

Di sisi lain, ketika masyarakat sudah terbiasa dengan apresiasi sastra, maka daya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra akan semakin baik. Masyarakat dapat memilih karya sastra yang bermutu tinggi (karya sastra yang berisi nilai-nilai kehidupan, memperhalus budi, mempertajam pikiran, kemanusiaan, dan kebenaran).

c. Kritik sastra berguna bagi ilmu sastra itu sendiri
Analisis yang dulakukan kritikus dalam mengkritik tentulah didasarkan pada referensi-referensi, teori-teori yang akurat. Tidak jarang pula, perkembangan teori sastra lebih lambat dibandingkan dengan kemajuan proses kreatif pengarang. Untuk itu, dalam melakukan kritik, kritikus seringkali harus meramu teori-teori baru. Teori-teori sastra yang baru inilah yang justru akan semakin memperkembangkan ilmu sastra itu sendiri.

d. Memberi sumbangan pendapat untuk menyusun sejarah sastra
Dalam melakukan kritik, kritikus tentu akan menunjukkan ciri-ciri karya sastra yang dikritik secara struktural (ciri-ciri intrinsik). Tidak jarang pula kritikus akan mencoba mengelompokkan karya sastra yang dikritik ke dalam karya sastra yang berciri sama. Kenyataan inilah yang dapat disimpulkan bahwa kritik sastra sungguh membantu penyusunan sejarah sastra.

3. Aktivitas Kritik Sastra

Dari pengertian kritik sastra di depan, terkandung secara jelas aktivitas kritik sastra. Secara rinci, aktivitas kritik sastra mencakup 3 (tiga) hal, yakni menganalisis, menafsirkan, dan menilai.

Analisis adalah menguraikan unsur-unsur yang membangun karya sastra dan menarik hubungan antarnsur-unsur tersebut. Sementara menafsirkan (interpretasi) dapat diartikan sebagai memperjelas/memperjernih maksud karya sastra dengan cara: (a) memusatkan interpretasi pada ambiguitas, kias, atau kegelapan dalam karya sastra, (b) memperjelas makna karya sastra dengan jalan menjelaskan unsur-unsur dan jenis karya sastra. Sedangkan penilaian dapat diartikan menunjukkan nilai karya sastra dengan bertitik tolak dari analisis dan penafsiran yang telah dilakukan. Penilaian seorang kritikus sangat bergantung pada aliran-aliran, jenis-jenis, dan dasar-dasar kritik sastra yang dianut/dipakai/dipahami seorang kritikus

4. Aliran-aliran Kritik Sastra
Menurut Rene Wellek dan Austin Warrent, ada 3 (tiga) aliran kritik sastra, yakni: (a) relativisme, (b) absolutisme, dan (c) perspektivisme.

(a) Relativisme adalah paham penilaian yang didasarkan pada tempat dan waktu terbitnya karya sastra (penilaian karya sastra tidak sama di semua tempat dan waktu. Paham ini berkeyakinan bahwa nilai karya sastra melekat pada karya itu sendiri. Bila ada karya sastra yang dianggap bernilai oleh masyarakat di suatu tempat dan periode tertentu, karya sastra tersebut terus dianggap bernilai di jaman dan tempat yang lain (dulu dianggap baik, sekarang harus dipandang baik pula. Paham ini merupakan reaksi terhadap penilaian karya sastra yang menganut paham abslutisme.

(b) Absolutisme adalah paham penilaian karya sastra yang didasarkan pada paham-paham di luar sastra seperti: politik, moral, atau ukuran-ukuran tertentu. Dengan kata lain, paham ini menilai karya sastra tidak didasarkan pada hakikat sastra. Sastra yang baik menurut paham ini adalah karya sastra yang memiliki tendensi politis, memiliki nilai moral, dsb. Sehingga paham ini cenderung menilai karya sastra secara dogmatis dan statis. Contoh kritik sastra dengan paham ini adalah kritikus penganut paham humanis baru dan marxis. Di Indonesia, kritik model ini berkembang pada tahun 60-an seperti penganut paham bahwa sastra adalah seni bertendensi (seni untuk seni).

(c) Perspektivisme adalah paham penilaian karya sastra dari berbagai perspektif tempat, waktu, dan sudut pandang sehingga karya sastra bisa dinilai dari waktu terbitnya dan pada masa berikutnya. Paham ini berpendapat bahwa karya sastra bersifat abadi dan historis. Abadi karena memelihara ciri-ciri tertentu, historis karena karya sastra itu melampaui suatu proses yang dapat dirunut jejaknya. Dengan kata lain, karya sastra dapat dibandingkan sepanjang masa berkembang, berubah penuh kemungkinan penilaian. Karya sastra itu strukturnya dinamis melalui penafsirnya sepanjang jaman (berubah menurut tanggapan penafsirnya). Wellek-Warren menganjurkan, hendaknya para kritikus memilih aliran ini dalam menilai karya sastra.

5. Jenis-jenis Kritik Sastra

(a) Menurut BENTUKNYA, ada 2 jenis kritik sastra, yakni kritik teoretis (theoritical criticism) dan kritik terapan (practical/applied criticism).

1) Kritik teoretis adalah jenis kritik sastra yang berusaha menerapkan kriteria-kriteria tertentu(teori) untuk menilai karya sastra dan pengarangnya. Kritik teoretis mencoba menerapkan prinsip-prinsip umum, menetapkan suatu perangkat istilah yang mengkait, perbedaan-perbedaan, kategori-kategori untuk diterapkan pada pertimbangan-pertimbangan, interpretasi-interpretasi karya sastra. Beberapa buku kritik sastra jenis ini antara lain:
-. Beberapa Gagasan Dalam Bidang Kritik Sastra Indonesia Modern karya Rahmad Djoko Pradopo
-. Kritik Sastra Sebuah Pengantar, Andre Hardjana

2) Kritik terapan berupaya menerapkan teori sastra berdasarkan keperluannya. Kritik ini berupaya agar prinsip dan kriteria yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik karya sastra yang bersangkutan.

Contoh buku kritik sastra jenis ini antara lain:
-. Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei karya HB Jassin.
-. Buku dan Penulis karya R. Sutia S.

(b) Menurut PELAKSANAANNYA, ada 3 jenis kritik sastra, yakni kritik judisial (judicial criticism), kritik impresionistik (impresionistic criticism), dan kritik induktif (inductive criticism).

1) Kritik Judisial menurut Abrams adalah kritik sastra yang berusaha menganalisis dan menerangkan efek-efek karya sastra berdasarkan pokoknya, organisasinya, teknik, serta gayanya; dan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan individual kritikus atas dasar yg umum tentang kehebatan dan keluarbiasaan

2) Kritik Impresionistik adalah kritik sastra yang berusaha menggambarkan dengan kata-kata sifat yang terasa dalam berdasarkan kesan-kesan/tanggapan-tanggapan (impresi) kritikus yg ditimbulkan secara langsung oleh karya sastra. Pelaksanaan Kritik model ini biasanya kritikus melakukan kritik praktis. Contoh paling konkrit adalah kritik sastra yang sering dilakukan HB Jassin.

3) Kritik induktif adalah kritik sastra yang menguraikan bagian-bagian karya sastra berdasarkan fenomena-fenomena yang ada secara objektif.
Kritikus pada paham ini meneliti karya sastra seperti ahli ilmu alam meneliti gejala alam secara objektif tanpa menggunakan standar yang berasal dari luar dirinya.
Contoh kritik model ini di Indonesia adalah kritik sastra aliran Rawamangun (akademisi UI).

(c) Menurut PENDEKATANNYA thd. Karya sastra, ada 4 jenis kritik sastra, yakni kritik mimetik (mimetic criticism), kritik pragmatik (pragmatic criticism), kritik ekspresif (ekspresive criticism) dan kritik objektif (objective criticism).

1) Kritik mimetik
Menurut Abrams, kritikus pada jenis ini memandang karya sastra sebagai tiruan aspek-aspek alam. Sastra merupakan pencerminan/penggambaran dunia kehidupan. Sehingga kriteria yang digunakan kritikus sejauh mana karya sastra mampu menggambarkan objek yang sebenarnya. Semakin jelas karya sastra menggambarkan realita semakin baguslah karya sastra itu.

Kritik jenis ini jelas dipengaruhi oleh paham Aristoteles dan Plato yang menyatakan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan.

Di Indonesia, kritik jenis ini banyak digunakan pada Angk. 45. Contoh lain misalnya:
-. Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik, Jakob Sumardjo
-. Novel Indonesia Populer, Jakob Sumardjo
-. Fiksi Indonesia Dewasa Ini, Jakob Sumardjo
-. Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang, Sapardi Joko Damono

2) Kritik pragmatik
Kritikus jenis ini memandang karya sastra terutama sebagai alat untuk mencapai tujuan (mendapatkan sesuatu yang daharapkan). Sementara tujuan karya sastra pada umumnya: edukatif, estetis, atau politis. Dengan kata lain, kritik ini cenderung menilai karya sastra atas keberhasilannya mencapai tujuan.

Ada yang berpendapat, bahwa kritik jenis ini lebih bergantung pada pembacanya (reseptif). Kritik jenis ini berkembang pada Angkatan Balai Pustaka. STA pernah menulis kritik jenis ini yang dibukukan dengan judul Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan.

3 Kritik ekspresif
Kritik ekspresif menitikberatkan pada pengarang. Kritikus ekspresif meyakini bahwa sastrawan (pengarang) karya sastra merupakan unsur pokok yang melahirkan pikiran-pikiran, persepsi-persepsi dan perasaan yang dikombinasikan dalam karya sastra. Kritikus cenderung menimba karya sastra berdasarkan kemulusan, kesejatian, kecocokan pengelihatan mata batin pengarang/keadaan pikirannya.

Pendekatan ini sering mencari fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang sadar/tidak, telah membuka dirinya dalam karyanya.
Umumnya, sastrawan romantik jaman BP/PB menggunakan orientasi ekspresif ini dalam teori-teori kritikannya. Di Indonesia, contoh kritik sastra jenis ini antara lain:
-. Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, karya Arif Budiman
-. Di Balik Sejumlah Nama, Linus Suryadi
-. Sosok Pribadi Dalam Sajak, Subagio Sastro Wardoyo
-. WS Rendra dan Imajinasinya, Anton J. Lake
-. Cerita Pendek Indonesia: Sebuah Pembicaraan, Korrie Layun Rampan

4) Kritik objektif
Kritikus jenis ini memandang karya sastra sebagai sesuatu yang mandiri, bebas terhadap sekitarnya, bebas dari penyair, pembaca, dan dunia sekitarnya. Karya sastra merupakan sebuah keseluruhan yang mencakupi dirinya, tersusun dari bagian-bagian yang saling berjalinan erat secara batiniah dan mengehndaki pertimbangan dan analitis dengan kriteria-kriteria intrinsik berdasarkan keberadaan (kompleksitas, koherensi, keseimbangan, integritas, dan saling berhubungan antarunsur-unsur pembentuknya)

Jadi, unsur intrinsik (objektif)) tidak hanya terbatas pada alur, tema, tokoh, dsb; tetapi juga mencakup kompleksitas, koherensi, kesinambungan, integritas, dsb.
Pendekatan kritik sastra jenis ini menitikberatkan pada karya-karya itu sendiri.

Kritik jenis ini mulai berkembang sejak tahun 20-an dan melahirkan teori-teori:
-. New Critics (Kritikus Baru di AS)
-. Kritikus formalis di Eropa
-. Para strukturalis Perancis

Di Indonesia, kritik jenis ini dikembangkan oleh kelompok aliran Rawamangun.
-. Bentuk Lakon Dalam Sastra Indonesia, Boen S. Oemaryati
-. Novel Baru Iwan Simatupang, Dami N. Toda
-. Pengarang-pengarang Wanita Indonesia, Th. Rahayu Prihatmi
-. PerkembanganNovel-Novel di Indonesia, Umar Yunus
-. Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern, Umar Yunus
-. Tergantung Pada Kata, Teeuw

6. Ketegangan antarKritikus di Indonesia

-. Para pakar sastra (akademisi-kampus): Rahmat Joko Pradopo (UGM), Panuti Sudjiman, MS. Hutagalung, Saleh Saat, Boen S. Oemarjati, Roman Ali, S. Effendi (UI), Th. Rahayu Prihatmi (Undip), Buyung Saleh (UNHAS)

-. Seniman sekaligus pakar sastra: Sapardi Joko Damono, Arif Budiman, Subagio Sastro Wardoyo, Yakob Sumardjo, Darmanto Yatman, Gunawan Mohammad, Taufiq Ismail, Rendra, HB. Jassin, Budi Darma, Suripan

-. Kritikus seniman: Sutardji Calzoum Bachri, Linus Suryadi, Abdul Hadi WM, MH Ainun Najib, Korrie Layun Rampan

-. Antara pakar sastra VS Kritikus seniman saling bertentangan. Para pakar menyatakan bahwa ketika membuat kritik, kritikus perlu membuat jarak sehingga lebih objektif, sementara para seniman menyatakan bahwa pakar melihat sastra seperti benda yang dipilah-pilah.

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: