Asupriatna’s Weblog

25 19000000Selasa54 2008

SOSIOLINGUSTIK

Filed under: Uncategorized — asupriatna @ 00.00

Pendahuluan

Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif. Dengan Bahasa, seseorang dapat mengungkapkan perasaan, menyalurkan ide dan dapat diri dengan lingkungannya. Sebagai alat komunikasi, bahasa dapat menyampaikan pesan atau makna pembicara kepada pendengar. Sehubungan dengan bahasa sebagai alat, Anda perlu juga memahami salah satu disiplin ilmu bahasa yang disebut dengan sosiolinguistik.

Dengan memahami hakikat dan berbagai istilah dalam displin ilmu tersebut, maka Anda akan mendapat wawasan mengenai penggunaan suatu bahasa dalam masyarakat bahasa itu sendiri dan berbagai variasi bahasa yang digunakannya. Jadi, dalam bahan ajar perkuliahan ini, kita akan membahas ilmu sosiolingistik dan berbagai masalahnya yang berhuhungan penggunaan bahasa dalam masyarakatnya.

Adapun sistematika penulisan bahan ajar perkuliahan ini terbagi ke dalam 5 (lima) pembelajaran. Pertama, membahas hakikat sosiolinguistik mencakup pembahasan sosiolinguistik dan linguistik, sosiolinguistik dan sosiologi bahasa, dan perkembangan sosiolinguistik anak. Kedua, membahas fungsi bahasa dan unsur-unsur bahasa mencakup pembahasan; fungsi bahasa, unsur-unsur bahasa, ragam bahasa, jenis-jenis ragam bahasa (bahasa baku dan tidak baku), percampuran ragam bahasa (alih kode, peminjaman, pidgin, creole), masyarakat ujaran, dan model pohon keluarga. Ketiga, membahas dialek dan rigister mencakup pembahasan dialek ( dialek regional, isogloss, dan dialek sosial), register (register dan dialek), diglossia, dan jenis-jenis unsur bahasa. Keempat, membahas bahasa, ujaran, dan pikiran mencakup pembahasan; bahasa dan aspek-aspek budaya lain, ujaran dan inferensi, ujaran dan sosialisasi, dan bahasa dan sosialisasi. Kelima, membahas ujaran sebagai interaksi sosial mencakup pembahasan; sifat sosial ujaran, fungsi ujaran, ujaran sebagai keterampilan, norma-norma yang mengatur ujaran, dan struktur ujaran.

Setiap kegiatan belajar, Anda diwajibkan untuk mengerjakan tugas, tes formatif, dan lembar kerja yang berhubungan dengan rangkuman materi. Di akhir bahan ajar perkuliahan, Anda diwajibkan mengerjakan evaluasi dari keseluruhan materi dan hasilnya dikirim ke dosen pengampu. Demikian uraian pendahuluan ini sebagai pedoman mempelajari keseluruhan isi bahan ajar perkuliahan. Selamat belajar.

Kegiatan Belajar 1
Hakikat Sosiolinguistik

A. Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, mahasiswa memahami ruang lingkup sosiolinguistik, lingustik, sosiologi bahasa, dan perkembangan bahasa anak.

B. Indikator Hasil Belajar
1. Mahasiswa mampu mendefinisikan batasan sosiolinguistik dengan tepat.
2. Mahasiswa mampu membedakan garapan disiplin ilmu sosiolinguistik dengan ilmu lingustik dengan benar.
3. Mahasiswa mampu membedakan garapan disiplin ilmu sosiolinguistik dengan ilmu sosilogi bahasa dengan benar.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan perkembangan sosiolinguistik anak dengan tepat.

C. Rangkuman Materi
Untuk memahami hakikat sosiolinguistik, Anda harus mencoba membayangkan suatu di mana masyarakat bahasa saling berhubungan. Setiap orang dalam masyarakat tersebut menggunakan bahasa yang sama. Mereka mengetahui konstruksi kalimat, kosakata, pelafalan dan mak¬na dalam bahasa itu.

Di samping itu, masyarakat tersebut ditandai oleh suatu batas alami, yang tidak dapat ditembus dari arah manapun. Postulat tentang batas alami ini di satu pihak ditujukan untuk menjamin bahwa tidak ada anggota masyarakat lain yang bergabung de¬ngan masyarakat ini dan dilain pihak bahwa para anggota masyara¬kat ini tidak pernah meninggalkan masyarakat tersebut dan membawa bahasa mereka ke dalam masyarakat lain, sehingga merusak keserasian antara bahasa dan masyarakat.

Dengan demikian, sosiolinguistik dapat didefinisikan sebagai ilmu bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat. Saat ini sosiolinguistik telah menjadi bagian dari sejumlah matakuliah tentang ‘linguistik’ dan ‘bahasa.’ Dari sudut pandang pengajaran dan penelitian, sosiolinguistik juga merupakan salah satu titik pertumbuhan penting dalam mempelajari bahasa.

Perkembangan sosiolinguistik baru mulai pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, sehingga kajian bahasa ini dapat dipandang sebagai disiplin ilmu bahasa yang masih muda. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa sosiolinguistik ini merupakan penemuan dekade 1960-an. Dewasa ini, perhatian terhadap sosiolinguistik semakin luas dan kesadaran yang semakin meningkat bahwa sosiolinguistik dapat memperjelas hakikat bahasa dan hakikat masyarakat.

Seperti disiplin ilmu lain, sosiolinguistik bisa bersifat empiris dan teoretis menyangkut pengumpulan fakta dan sebagian lain menyangkut proses berpikir. Pendekatan “armchair” (kursi tangan) ter¬hadap sosiolinguistik cukup produktif yang didasarkan pada fakta-fakta dikumpulan secara sistematis melalui penelitian atau hanya didasarkan pada pengalaman seseorang. Secara khusus, pendekatan ini memungkinkan untuk menggunakan suatu kerangka analitis yang berisi istilah-istilah seperti bahasa (sekumpulan pengelahuan atau kaidah), ujaran (ujaran nyata), penutur, Lawan Bicara, topik dan lain-lain.

Akhir-akhir ini dilakukan beberapa penelitian yang sistematis. Beberapa penelitian ini dilakukan di sejumlah masyarakat “eksotik” yang mempunyai bahasa ibu yang berbeda. Beberapa penelitian lain telah dila¬kukan di sejumlah masyarakat industri perkotaan yang kompleks dimana perbedaan di antara kelas-kelas sosial terlihat jelas dalam ujaran yang mereka gunakan.

1. Sosiolinguistik dan Linguistik
Ahli sosiolinguistik (sosiolinguis) ber¬beda dengan ahli bahasa (linguis) meskipun banyak sosiolinguis yang juga menyebut diri mereka sebagai linguis. Perbedaan antara sosiolinguis dan li¬nguis tidaklah penting, yang penting adalah apakah ada perbedaan antara sosiolinguistik dan linguistik.

Perbedaan antara kedua disiplin ilmu tersebut hanya terletak pada kajian struktur bahasa tanpa memperhatikan konteks sosial di mana bahasa itu dipelajari dan digunakan. Menurut pandangan ini, tugas linguistik adalah menentukan kaidah-kaidah ’bahasa x’ sedangkan tugaskan sosiolinguistik adalah mempelajari berbagai hal tentang penggunaan kaidah-kaidah ini dalam suatu masyarakat. Misalnya, sosiolinguistik dapat mempelajari bagaimana kelompok-kelompok sosial yang berbeda menggunakan cara-cara alternatif untuk mengungkapkan suatu hal yang sama.

Pada dasarnya, pandangan tersebut muncul dari tradisi linguistik struktural yang telah mendominasi kajian linguistik abad ke-20, termasuk linguistik generatif transformasional yang dikembangkan oleh Noam Choamsky sejak tahun 1957.

2. Sosiolinguistik dan Sosiologi Bahasa
Sosiolinguistik dapat didefenisikan sebagai ‘ilmu bahasa’ yang berhu¬bungan dengan masyarakat’, yang berarti pula bahwa sosiolinguistik ada¬lah bagian dari ilmu bahasa. Dengan demikian, nilai sosiolinguistik adalah penjelasan tentang hakikat bahasa secara umum, atau tentang karakterisistik bahasa tertentu. Berdasarkan, definisi ‘sosiolinguistik’ di atas maka dapat diubah menjadi “ilmu masyarakat” dalam hubungaannya dengan bahasa atau apa yang disebut dengan “Sosiologi Bahasa.”

Perbedaan antara sosiolinguistik dan sosiologi terletak pada tekanan, yaitu apakah peneliti lebih tertarik pada bahasa atau masyarakat dan apakah ia lebih terampil dalam menganalisis struktur bahasa atau struktur sosial. Meskipun ada tumpang tindih (overlap) atau persamaan di antara kedua disiplin ilmu ini, namun perbedaan ini tidaklah penting.

Hal yang lebih penting di sini adalah isu yang menyangkut ‘sosiologi bahasa makro’, yang membahas hubungan antara masya¬rakat dan bahasa secara keseluruhan. Hal ini merupakan bidang penelitian yang penting dari sudut pandang sosiologi (dan ilmu politik), karena bidang ini melahirkan sejumlah isu seperti pengaruh multilingualisme atau multikebahasaan terhadap perkembangan ekonomi dan politik bahasa yang dianut oleh pemerintah. Namun demikian, sosiologi bahasa makro pada umumnya kurang memberikan kejelasan tentang hakikat bahasa jika dibanding dengan kajian-kajian mikro.

3. Perkembangan Sosiolinguistik Anak
Meskipun kita dapat berasumsi bahwa setiap penutur bahasa memiliki sifat unik dalam pengalaman berbahasanya dan mengembangkan tatabahasa yang unik pula, namun sejumlah generalisasi dapat dibuat tentang tahap-tahap yang dilalui oleh anak-anak dalam perkembangan sosiolinguistik mereka. Namun perlu ditegaskan bah¬wa generalisasi-generalisasi berikut ini harus dipandang sebagai hipotesis sementara bukan sebagai penemuan penelitian, karena generali¬sasi-generalisasi itu didasarkan pada sedikit hasil penelitian yang didukung oleh bukti anekdot.

Generalisasi pertama menyangkut model-model bahasa yang dikuasai oleh seorang anak. Bagi banyak anak, polanya adalah sebagai ber¬ikut pertama adalah orang tua, kemudian teman sebaya, dan selanjutnya adalah orang dewasa. Menurut William Labov (1972a: 138), model-model itu adalah orang tua hingga anak berusia 3 atau 4 tahun, kemudian teman-teman sebayanya menggantikan orang tuanya hing¬ga ia berusia sekitar 13 tahun, ketika ia mulai melirik dunia orang de¬wasa. Akan tetapi, peralihan dari orang tua ke teman sebaya diperkirakan oleh sejumlah pakar pada tahap usia yang berbeda, yaitu antara 4 dan 6 tahun (Hockett 1958: 361) hingga usia 2 tahun (Bolinger 1975: 334).

Labov juga menyatakan bahwa cepat atau lambat, banyak anak menjadikan teman sebaya mereka sebagai model bahasa. Bukti untuk pernyataan ini mudah ditemukan. Misalnya, banyak anak dari para imigran generasi pertama di kota-kota di Inggris memiliki aksen atau logat yang sulit dibedakan dari logat anak-anak yang bukan imigran, dan mereka tidak dapat menguasai logat itu dengan cara menjadikan orang tua mereka, sebagai model.

Barangkali hal yan lebih menarik adalah bukti tentang fenomena yang disebut AGE-GRADING (Hockett 1959) yang dapat ditemukan di berbagai masyarakat Age-Grading ini berarti bahwa terdapat bentuk-bentuk bahasa yang hanya digunakan oleh anak-anak pada tahap orientasi terhadap teman sebaya, dan diwariskan dari satu genarasi anak-anak ke generasi anak-anak lain tanpa pernah digunakan oleh orang dewasa. Bentuk-bentuk tersebut mungkin sangat usang jika dibanding de¬ngan bentuk ujaran orang dewasa. Bahkan pada masa kanak-kanak, sebagian besar dari kita pernah mempelajari budaya lisan yang terda¬pat dalam nyanyian, sajak dan lain-lain, tetapi kita tidak pernah menggunakannya pada masa dewasa. Di lain pihak, beberapa pakar menya¬takan bahwa tahap orientasi kepada teman sebaya merupakan dasar bagi pembentukan bahasa orang dewasa;

Darah bahasa dialirkan melalui generasi anak-anak usia 4 hingga 10 tahun; di dalam kehidupan anak, tapi persaingan dan prestise masa kanak-kanak lebih cenderung membentuk pola ujaran individu tertentu daripada kontak dengan orang dewasa. (Hockett 1958: 361; cf. Labov 1972a: 138)

Gambaran yang dipaparkan di atas hanya mengacu kepada model-model yang dianut oleh anak-anak untuk ujaran normal mereka, teta¬pi kita tidak boleh lupa bahwa pada saat yang sama mereka pun memben¬tuk sebuah model multi-dimensi yang disesuaikan dengan seniua jenis ujaran yang ada, termasuk ujaran orang tua mereka meskipun mere¬ka tidak menggunakannya. Sumber pengaruh lain yang penting pada saat ini adalah media massa, terutama televisi; dalam hal ini, anak-anak juga harus menyadari berbagai bentuk ujaran, meskipun bentuk-bentuk ujaran dalam media massa itu hanya sedikit meinpengaruhi ujar¬an normal mereka. Oleh karena itu, mereka dapat ‘beralih’ dari satu bentuk ujaran ke bentuk ujaran lain.

Pada usia dini, anak-anak tampak mulai menyadari bentuk-bentuk ujaran yang berbeda dan menemukan fakta bahwa terdapat perbedaan sosial di antara mereka. Menurut beberapa penelitian, anak-anak yang dibesarkan di lingkungan dwibahasa mulai menyadari sistem-sistem bahasa yang berbeda pada usia 18 bulan. Bahkan beberapa anekdot menyatakan bahwa hal ini mungkin terjadi pada usia yang lebih dini (kurang dari 18 bulan). Dalam kaitannya dengan perbedaan dialek, ada sedikit bukti yang relevan bagi anak-anak, tetapi dapat diasumsikan bahwa anak-anak kurang mampu memahami perbedaan dialek ini pada saat mereka mulai menjadikan teman sebaya mereka sebagai model, dan akan memahami perbedaan dialek ini selama ujaran orang tua mereka dan ujaran teman sebaya mereka berbeda.

Sementara itu, bukti lain menunjukkan bahwa terdapat sejumlah masyarakat di mana banyak anak usia 4 tahun tidak hanya memiliki prasangka posirif dan negatif terhadap ragam-ragam bahasa yang ada, tetapi juga menerapkan prasangka tersebut. Berdasarkan bukti tersebut, kita dapat berasumsi bahwa prasangka terhadap ragam-ragam bahasa itu berkembang dari masa kanak-kanak hingga masa remaja. Dalam kaitannya dengan ujaran anak-anak itu sendiri, Halliday (1975) menyatakan bahwa sejak usia sangat dini (usia 1 tahun) sebelum mere¬ka mempelajari bentuk-bentuk ujaran orang dewasa, mereka menggunakan bunyi-bunyi yang berbeda untuk tujuan-tujuan yang ber¬beda, misalnya untuk meminta sesuatu, Bahkan kalau kita mengamati proses perkembangan bahasa anak-anak dalam masyarakat Indonesia di mana sedikitnya dua bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa daerah) digunakan, anak-anak pada usia dini sudah mampu memisahkan kedua sistem bahasa tersebut dalam ujaran mereka.

D. Tugas
Setelah mempelajari rangkuman materi di atas, Anda kerjakan tugas-tugas berikut ini!
1. Carilah dua buah buku di perpustakaan di sekitar tempat tinggalmu yang menjelaskan batasan sosiolinguistik dan hubungannya dengan linguistik dan sosiologi bahasa!
2. Catat hasil pekerjaanmu dan diskusikan dengan teman sejawat yang terdekat!
3. Berdasarkan diskusi, simpulkanlah hasilnya dan kirimkan ke Dosen pengampu matakuliah sosiolingustik!

E. Tes Formatif
1. Jelaskan pengertian sosiolinguistik dan bidang garapannya!
2. Jelaskan perbedaan bidang garapan sosiolingistik dengan linguistik!
3. Jelaskan perbedaan bidang garapan sosiolingistik dengan sosioligi bahasa!
4. Deskripsikan perkembangan sosiolinguistik anak!
5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan masyarakat Age-Grading!

F. Kunci Jawaban
1. Sebagai ilmu bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat.
2. Perbedaannya dengan kajian linguistik terletak pada kajian struktur bahasa tanpa memperhatikan konteks sosial di mana bahasa itu dipelajari dan digunakan.
3. Terletak pada tekanan, yaitu apakah peneliti lebih tertarik pada bahasa atau masyarakat dan apakah ia lebih terampil dalam menganalisis struktur bahasa atau struktur sosial.
4. Darah bahasa dialirkan melalui generasi anak-anak usia 4 hingga 10 tahun di dalam kehidupan anak, tapi persaingan dan prestise masa kanak-kanak lebih cenderung membentuk pola ujaran individu tertentu daripada kontak dengan orang dewasa.
5. Masyarakat Age-Grading terdapat bentuk-bentuk bahasa yang hanya digunakan oleh anak-anak pada tahap orientasi terhadap teman sebaya dan diwariskan dari satu genarasi anak-anak ke generasi anak-anak lain tanpa pernah digunakan oleh orang dewasa.

G. Lembar Kerja
1. Amatilah kegiatan berbahasa anak dengan menggunakan format di bawah ini!

Nama Responden : …………………
Usia : …………………
Bahasa yang digunakan: …………………

No. Kegiatan Berbahasa Baku/
tidak baku Baku/
tidak baku Baku/
tidak baku simpulan
1. di lingkungan keluarga
2. di lingkungan bermain
3. di lingkungan sekolah/kelas

2. Hasil dari pengamatan tersebut diskusikanlah dengan teman sejawat dan bandingkan hasilnya!
3. Simpulkanlah dan laporkan hasilnya berdasarkan keputusan dalam diskusi!

Kegiatan Belajar 2

Fungsi Bahasa dan Unsur-unsur Bahasa

A. Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, mahasiswa memahami ruang lingkup fungsi bahasa, unsur-unsur bahasa, ragam bahasa, jenis-jenis ragam bahasa, percampuran ragam bahasa, masyarakat ujaran, dan model pohon keluarga dengan dengan tepat.

B. Indikator Hasil Belajar
1. Mahasiswa mampu menjelaskan fungsi bahasa dengan benar.
2. Mahasiswa mampu mengurutkan unsur-unsur bahasa dengan tepat.
3. Mahasiswa mampu mendefinisikan ragam bahasa dengan tepat.
4. Mahasiswa mampu memberikan contoh jenis-jenis ragam bahasa.
5. Mahasiswa mampu memberikan contoh percampuran ragam bahasa.
6. Mahasiswa mampu mendefinisikan masyarakat ujaran dengan benar.
7. Mahasiswa mampu mendeskripsikan model pohon keluarga dengan benar.

C. Rangkuman Materi

1. Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena fungsi utama bahasa adalah sebagai sarana komunikasi antar manusia.

Dengan bahasa, manusia dapat menyampaikan perasaan atau pikiran kepada orang lain. Selain itu, bahasa juga berfungsi untuk berekspresi dengan diri sendiri, misalnya manusia sedang berpikir, bermimpi, dan berangan-angan. Dengan demikian, fungsi bahasa adalah untuk sarana penghubung (berhubungan) dengan orang lain, serta untuk berekspresi dengan diri sendiri.

Karl Buhler ahli psikologi yang meminati masalah bahasa pada tahun 1934 dalam bukunya Sprachtheomi menjelaskan bahwa bahasa sebagai sistem tanda memiliki dua sikap; (1) appel atau conative yaitu untuk menghimbau orang lain agar melakukan sesuatu dan (2) darstellung atau representational yaitu untuk menggambarkan pernyataan yang ada atau sebagai acuan.

Rusyana (1984:141) menjelaskan bahwa berdasarkan fungsinya, penggunaan bahasa dapat dibedakan atas; (1) penggunaan bahasa secara informatif, yaitu penggunaan bahasa untuk menyatakan fakta; (2) penggunaan bahasa secara dinamis, yaitu penggunaan bahasa untuk menyusun pendapat; (3) penggunaan bahasa secara emotif, yaitu penggunaan bahasa untuk menggerakkan orang lain supaya bertindak; dan (4) penggunaan bahasa secara estetis.

Pendapat lain Jakobson dalam Teeuw (1984:49), membagi fungsi bahasa ke dalam
(1) fungsi untuk mengadakan komunikasi atau kontak dengan sesama manusia;
(2) fungsi refresial, yaitu untuk menyampaikan pesan, informasi, isi acuan;
(3) fungsi puitik, yaitu untuk memusatkan perhatian pada pesan atau keterarahan ke pesan;
(4) fungsi konatif, yaitu untuk mempengaruhi atau menghimbau orang lain melalui pesan atau desakan; dan
(5) fungsi metalingual, yaitu merupakan fungsi khas yang memungkinkan kita untuk memusatkan perhatian pada sandi/kode yang digunakan (Bell dan Wardhaugh dalam Teeuw, 1984:53).

Selanjutnya Richards dalam Tarigan (1989:79) mengemukakan tiga hal fungsi bahasa; (1) fungsi deskriptif, yaitu untuk menyatakan informasi faktual; (2) fungsi ekspresif, yaitu untuk menyampaikan informasi mengenai diri sendiri, perasaannya, pikirannya, pengalamannya; dan (3) fungsi sosial, yaitu untuk melayani, memantapkan serta memelihara hubungan sosial antar manusia.

Hymes dalam Fishman (1972:117) membagi fungsi bahasa menjadi tujuh tipe; (1) fungsi ekspresif atau emotif, yaitu untuk menyatakan perasaan; (2) fungsi direktif, konatif, pragmatik, retorikal, atau persuasif yaitu untuk mengharapkan orang lain untuk melakukan sesuatu; (1) fungsi puitik, yaitu untuk menyatakan perasaan keindahan; (2) fungsi kontak, yaitu untuk mengadakan hubungan dengan orang lain; (3) fungsi metalinguistik, yaitu untuk membicarakan bahasa; (4) fungsi refrensial, yaitu untuk menyatakan sesuatu hal; dan (5) fungsi kontekstual atau situasional, yaitu untuk menggambarkan situasi, misalnya latar (setting), waktu, dan hubungan personal.

Nababan (1984 : 38) secara rinci empat golongan fungsi bahasa yaitu;
fungsi kebudayaan; fungsi kemayarakatan; fungsi perorangan; dan fungsi pendidikan. Lebih lanjut Nababan (1984:38) menjelaskan dari keempat fungsi itu erat kaitannya satu sama lain, sebab “perorangan” adalah anggota “masyarakat” yang hidup dalam masyarakat itu sesuai dengan pola-pola “kebudayaannya” yang diwariskan dan dikembangkan melalui “pendidikan”. Dari keempat fungsi tersebut saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.

Bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan yang sangat erat. Bahasa dalam kebudayaan ini mengemban fungsi kebudayaan. Fungsi kebudayaan itu mencakup fungsi bahasa sebagai (1) sarana pengembangan kebudayaan; (2) jalur penerus kebuadayaan; dan (3) inventaris ciri-ciri kebudayaan. Dalam konteks ini, bahasa adalah bagian dari kebudayaan dan bahasalah yang memungkinkan pengembangan dan perkembangan kebudayaan.

Selain fungsi kebudayaan, Nababan menjelaskan bahasa sebagai fungsi kemasyarakatan. Klasifikasi bahasa berdasarkan fungsi kemasyarakatan dapat dibagi menjadi dua, yaitu (1) fungsi berdasarkan ruang lingkup; dan (2) fungsi berdasarkan bidang pemakaian. Berdasarkan ruang lingkup, terdiri dari bahasa nasional dan bahasa kelompok.

Dalam lingkup nasional, bahasa dapat berfungsi sebagai (a) lambang kebanggaan bangsa; (b) lambang identitas bangsa; (c) alat pemersatu berbagai suku, dengan berbagai latar belakang sosial budaya dan bahasa; dan (d) alat perhubungan antar daerah dan antar budaya. Fungsi-fungsi seperti itu berlaku untuk Indonesia, dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional.

Pada lingkup kelompok, bahasa yang berciri daerah dalam suatu negara biasa disebut bahasa daerah. Bahasa Daerah itu berfungsi sebagai (1) lambang identitas daerah atau kelompok; dan (2) alat pelaksanaan kebudayaan daerah atau kelompok. Adapun bahasa daerah di Indonesia memiliki fungsi (1) sebagai lambang kebanggaan daerah; (2) lambang identitas daerah; dan (3) alat perhubungan dalam keluarga dan masyarakat daerah.

Fungsi perorangan oleh Nababan diidentikkan dengan fungsi-fungsi bahasa yang dikemukakan Halliday, seperti yang telah dipaparkan diatas. Jadi fungsi-fungsi perorangan itu mencakup (1) fungsi instrumental; (2) fungsi menyuruh; (3) fungsi interaksional; (4) fungsi kepribadian; (5) fungsi pemecahan masalah atau fungsi heuristis; dan (6) fungsi khayal atau fungsi imajinatif. Nababan (1986:42) menambahkan satu fungsi lagi terhadap fungsi-fungsi tersebut, yaitu (7) fungsi informasi.

Selanjutnya, fungsi pendidikan didasarkan pada penggunaan bahasa dalam pendidikan dan pengajaran. Dalam pendidikan dan pengajaran itu, fungsi bahasa dapat dibagi menjadi empat subfungsi, yaitu (1) fungsi integratif; (2) fungsi instrumental; (3) fungsi kultural; dan (4) fungsi penalaran.

2. Unsur-unsur Bahasa
Unsur bahasa adalah sebuah istilah teknis yang digunakan dalam suatu kajian sosiolinguistik. Menurut para linguis generatif-transformasional (misalnya Choamsky) mengatakan bahwa unsur-unsur bahasa adalah
(i) unsur-unsur leksikal;
(ii) berbagai jenis aturan atau kaidah (untuk menggabungkan pelafalan dan makna unsur-unsur leksikal ini dalam kalimat); dan
(iii) berbagai jenis pembatasan pada aturan-aturan ini.

Berdasarkan teori ini, kita dapat menemukan sejumlah pernyataan sosiolonguistik yang mengacu kepada unsur leksikal aturan dan pem¬batasan ini. Di lain pihak, tidak semua linguis mau menerima. Misalnya, terdapat suatu tradisi atau kebiasaan dalam linguistik untuk mengacu kepada “konstruksi” bukan kepada aturan atau kaidah (misalnya, Bolinger 1975: 139), di mana sebuah konstruksi dipandang sebagai sebuah pola abstrak seperti “kata sifat + kata benda” dan berdasarkan tradisi ini.

Jawaban di atas akan mencakup konstruksi, aturan dan pembatasan. Meskipun kita tidak perlu menentukan jawaban yang tepat, namun tampak bahwa pendekatan sosiolinguistik terhadap struktur bahasa dapat membantu menghilangkan sejumlah kesulitan. Misalnya, kita dapat berasumsi bahwa kalimat seperti “Cairan itu telah dididihkan.” lebih disukai dalam laporan-laporan ilmiah daripada kalimat-kalimat seperti “Kami telah mendidihkan cairan itu.” atau “Cairan itu te¬lah dididihkan oleh kami.” Untuk mengungkapkan fakta inir kita harus menghubungkan jenis kalimat pertama dengan konteks sosial yang relevan, tetapi bagaimana kalimat-kalimat tersebut harus diuraikan? Jika kalimat-kalimat itu hanya dapat diuraikan dengan mengacu kepada dua aturan yang berbeda (aturan pembetukan kalimat pasif dan aturan penghilangan “agen/pelaku” dalam kalimat pasif, dalam hal ini oleh /kami/, maka kita pun mungkin ragu apakah analisis ini benar, karena tidak ada aturan yang merupakan unsur bahasa yang sempurna. Sebaliknya, pernyataan dapat mudah dibuat dengan mengacu kepada konstruksi kalimat pasif tanpa pelaku (agentless passive).

Selanjutnya kita dapat melihat bukti bahwa unsur-unsur bahasa yang berbeda dalam ‘bahasa yang sama’ bisa memiliki distribusi sosial yang berbeda (menurut pemakai bahasa dan keadaan), dan jika dapat berasumsi bahwa distribusi sosial dari setiap unsur bahasa mungkin bersifat unik. Pada kenyataannya, lebih sulit membuktikan sifat dis¬tribusi sosial ini daripada menunjujkkan perbedaan-perbedaan di antara unsur-unsur yang dipilih, karena kita harus membandingkan un¬sur yang bersifat unik dengan setiap unsur lain dalam bahasa yang sama, hanya untuk memastikan bahwa tidak ada unsur lain yang mempunyai distribusi yang sama. Namun tidak ada mekanisme umum yang dapat menghambat unsur-unsur bahasa memiliki distrubusi unik (tunggal), sehingga kita dapat berasumsi bahwa sediktinya ada beberapa unsur yang memiliki distribusi unik ini (Hudson, 1980: 21).

a. Ragam Bahasa
Jika kita memandang bahasa sebagai sebuah fenomena yang mencakup semua bahasa di dunia, maka istilah “Ragam Bahasa” dapat digunakan untuk mengacu kepada sejumlah manifestasinya. Apa yang membuat sebuah ragam baha¬sa berbeda dengan ragam bahasa lain adalah unsur-unsur bahasa yang dikandungnya, sehingga kita dapat mendefinisikan ‘ragam bahasa’ sebagai sekumpulan unsur bahasa yang memiliki distribusi sosial yang sama.

Definisi ‘ragam bahasa’ ini mencakup contoh-contoh tentang apa yang biasanya disebut bahasa, dialek dan register (istilah yang berarti “gaya bahasa”).

Sebuah ragam bahasa mungkin jauh lebih besar dari se¬buah bahasa biasa, termasuk sejumlah bahasa yang berbeda. Sebaliknya, sebuah ragam bahasa mungkin hanya mengandung sejumlah un¬sur atau bahkan satu unsur saja. Misalnya, sebuah ragam bahasa dapat didefinisikan terdiri dari atas unsur-unsur yang hanya digunakan oleh keluarga atau desa tertentu. Dengan demikian, sebuah ragam bahasa bisa jauh lebih kecil daripada sebuah bahasa, atau bahkan dari sebuah dialek.

Pada dasarnya, unsur-unsur bahasa membentuk suatu ikatan alami dalam berbagai hubungan struktural, namun ikatan ini biasanya cukup longgar sehingga unsur-unsur dapat bergerak cukup bebas. Akan tetapi, dalam membicarakan bahasa dalam kaitannya dengan masya¬rakat, harus ada pernyataan-pernyataan yang mengacu kepada setiap unsur bahasa atau kepada ragam bahasa yang merupakan kumpulan unsur bahasa tersebut.

Bagaimana dengan ragam bahasa di Indonesia? Bahasa Indonesia yang amat luas pemakaiannya dan bermacam ragam penuturnya, mau tidak mau takluk pada hukum perubahan. Arah perubahan itu tidak selalu tidak terelakkan karena kita pun dapat mengubah bahasa secara berencana. Faktor sejarah dan perkembangan masyarakat turut pula berpengaruh pada timbulnya sejumlah ragam bahasa Indonesia.

Ragam bahasa yang beraneka macam itu masih tetap disebut “bahasa Indonesia”, karena masing-masing sebagai intisari bersama yang umum. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan kata, dan tata makna, umumnya sama. Itulah sebabnya kita masih dapat memahami orang lain yang berbahasa Indonesia walaupun di samping itu kita dapat mengenali beberapa perbedaan dalam perwujudan bahasa Indonesianya.

Berlangsungnya penggunaan bahasa sebagai alat berkomunikasi yang terjadi di masyarakat terkait erat dengan faktor-faktor yang melingkunginya, seperti situasi dan faktor lingkungan sosial. Adanya pengaruh lingkungan sosial dan faktor situasional dalam pemakaian bahasa seseorang (penuturnya) akan mengakibatkan timbulnya berbagai variasi atau ragam bahasa yang digunakan. Secara individual penggunaan bahasa berbeda disebabkan oleh sifat-sifat khusus atau karakteristik seseorang (individu) yang biasanya dikenal dengan idiolek. Dalam hal ini, Alwasilah (1985:45) menjelaskan bahwa semua anggota masyarakat bahasa memiliki sikap yang sama terhadap bahasanya. Sebaliknya apabila melihat bahasa pada unsur parolnya, yaitu penggunaan bahasa pada suasana yang sebenarnya (ujar nyata) bahasa bersifat pribadi.
Menurut Hudson (1980: 22) dikenal dengan istilah idiosyncraty (kata sifatnya idiosycratic) yaitu ciri pemerian kebiasaan seseorang sewaktu bertutur kata. Idiosyncraty ini dapat teramati dalam paralinguistiknya (fungsi tinggi rendah suara, cepat lambat nada, dan bidang fonologis keseluruhan), pilihan kosakata (kecenderungan atau kesenangan mempergunakan kosakata atau istilah-istilah tertentu), serta susunan tertib kata dalam kalimat. Adapun secara heterogenitas kelompok, pemakaian bahasa dapat dikenal, antara lain dengan memperlihatkan kekhususan penggunaan bahasa. Penggunaan bahasa di tingkat masyarakat tertentu atau di daerah tertentu akan berbeda dengan pemakaian bahasa di daerah atau masyarakat yang lain.

Istilah ragam bahasa atau variasi bahasa bersifat negra, tidak menunjukkan bahwa penggunaan bahasa itu dianggap tinggi atau rendah, baik atau buruk, dan sebagainya (Rusyana, 1984:141). Artinya, variasi bahasa mempunyai derajat yang sama antara yang satu dengan yang lainnnya. Variasi bahasa yang satu tidak bersifat mutlak dan bukan merupakan subordinat dari bahasa yang lain.

Dari butiran pernyataan di atas, kita dapat melihat adanya (1) seperangkat item-item linguistik, yakni butir-butir bahasa dan (2) distribusi sosial. Adapun yang dimaksud Hudson dengan seperangkat item-item linguistik adalah meliputi lexal items dan contruction, sedangkan distribusi sosial adalah penyebaran linguistic items yang ada dalam masyarakat. Lebih lanjut dikatakan oleh Hudson (1998:25) bahwa ciri variasi bahasa itu dapat dilihat pada siapa, dan kapan item linguistik itu digunakan.

Dari definisi di atas, kita dapat melihat bahwa variasi bahasa atau ragam bahasa adalah merupakan seperangkat item linguistik yang spesifik atau pola-pola tutur yang berupa bunyi-bunyi, kosakata, gramatikal yang dihubungkan dengan wilayah geografi atau grup sosial. Dengan demikian, setiap kelompok masyarakat memiliki seperangkat item linguistik tersendiri yang khas, yang membedakannya antara masyarakat pemakai bahasa yang satu dengan yang lainnya, baik dalam bentuk maupun makna yang disesuaikan dengan konteksnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya ragam bahasa. Kridalaksana (1985:12) mengemukakan bahwa ragam bahasa ditentukan oleh faktor tempat, waktu, sosiokultural, situasi, dan medium pengungkapan. Secara lebih rinci, Badudu (1990:85) mengemukakan bahwa ragam bahasa bisa timbul karena faktor usia, waktu, pemakai, situasi, kondisi, status sosial, pendidikan, tempat, topik, pemakaiannya, dan jenis kelamin.

b. Jenis-jenis Ragam Bahasa
Dimensi kemasyarakatan memberikan makna kepada bahasa dan juga yang menimbulkan ragam-ragam bahasa yang bukan hanya berfungsi sebagai petunjuk perbedaan golongan kemasyarakatan penuturnya, tetapi juga sebagai indikasi situasi berbahasa serta mencerminkan tujuan, topik, aturan-aturan, dan modus penggunaan bahasa.

Bahasa mempunyai banyak ragam yang dipakai dalam keadaan dan keperluan/tujuan yang berbeda-beda. Ragam-ragam bahasa ini menunjukkan perbedaan-perbedaan struktural dalam unsur-unsurnya. Perbedaan struktural itu adalah berbentuk ucapan, intonasi, morfologi, identitas kata-kata, dan sintaksis.

Menurut Nababan (1984:22), ditinjau dari segi situasi berbahasa, ragam bahasa itu berbeda-beda. Ragam bahasa yang berhubungan dengan tingkat formalitas disebut fungsiolek. Ada lima tingkatan ragam bahasa yang disebut style, yaitu:
1) Ragam beku (frozen) ialah ragam bahasa yang paling resmi yang dipergunakan dalam situasi-situasi yang paling khidmat dan upacara-upacara resmi. Dalam bentuk tertulis, ragam beku ini terdapat dalam dokumen-dokumen bersejarah, seperti undang-undang dan dokumen-dokumen penting lainnya. Alwasilah (1985:54) mengatakan bahwa frozen style digunakan dalam prosa tertulis dan gaya orang yang tak dikenal;
2) Ragam resmi (formal) ialah ragam bahasa yang dipakai dalam pidato-pidato resmi, rapat dinas, atau rapat resmi pimpinan suatu badan. Gleason dalam Alwasilah (1985:54) menyebut ragam resmi dengan deliberative style. Kemudian Kridalaksana (1982:142) menjelaskan bahwa ragam resmi (ragam standar) adalah ragam bahasa yang dipakai apabila lawan bicara adalah orang yang dihormati oleh pembicara, atau topik pembicaraan bersifat resmi (misalnya surat menyurat dinas, perundang-undangan, karangan teknis), atau apabila pembicaraan dilakukan di depan umum;
3) Ragam usaha (consultative) ialah ragam bahasa yang sesuai dengan pembicaraan-pembicaraan biasa di sekolah, perusahaan, dan rapat-rapat usaha yang berorientasi pada hasil atau produksi. Dengan kata lain, ragam ini berada pada tingkat yang paling operasional. Pembicaraan dalam ragam konsultatif ini tidak perlu ada perencanaan yang ekstesif tentang apa yang akan dicapkan. Karena tidak direncanakan inilah, maka si pembicara sering membuat kekeliruan dalam pembicaraannya’ mungkin pengulangan kata yang tidak perlu, salah dalam pemilihan kosa kata ataua terlalu banyak menggunakan istilah atau kata tertentu (Alwasilah, 1985:54).
4) Ragam santai (causal) ialah ragam bahasa santai antar teman dalam berbincang-bincang, rekreasi, berolahraga, dan sebagainya. Kridalaksana (1984:142) mengemukakan bahwa ragam santai juga sering ditandai dengan penggunaan slang dan elips, dan biasanya dipergunakan dalam lingkungan akrab. Ragam ini biasanya dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, terutama dalam percakapan. Oleh karena itu, ragam santai sering disebut dengan ragam percakapan atau ragam tutur. Dalam bahasa Inggris, ragam percakapan dikenal sebagai ragam colloquial (colloquial language) (Bloomfield, 1933:52); dan
5) Ragam akrab (intimate) ialah ragam bahasa antar anggota yang akrab dalam keluarga atau teman-teman yang baik perlu berbahasa secara lengkap dengan artikulasi yang terang, tetapi cukup dengan ucapan-ucapan pendek. Hal ini disebabkan oleh adanya saling pengertian dan pengetahuan satu sama lain. Dalam tingkat inilah banyak dipergunakan bentu-bentuk istilah (kata-kata) khas bagi suatu keluarga atau sekelompok teman akrab (Brown, dalam Nababan, 1991:22-23). Selanjutnya, Kridalaksana (1994:142) mengemukakan bahwa ragam akrab juga dipakaia bila pembicara menganggap lawan bicara sebagai sesama atau sebagai orang yang lebih muda atau lebih rendah statusnya, atau bila topik pembicaraan bersiat tidak resmi.

1) Bahasa Baku
Bahasa baku sering disebut dengan bahasa standar. Bahasa standar diartikan oleh Herman Paul dengan common language, yang merupakan suatu bagian dari metabahasa (Croley, 1989:99). Permasalahan bahasa baku (lebih tepat disebut ragam bahasa baku) dan bahasa nonbaku terkait dengan masalah variasi bahasa.

Disebut bahasa baku karena tergolong dalam salah satu variasi bahasa (dari sekian banyak variasi) yang diangkat dan disepakati sebagai ragam bahasa yang akan dijadikan sebagai tolok ukur bahasa sebagai bahasa “yang baik dan benar” dalam komunikasi yang bersifat resmi, baik secara lisan maupun tulis. Lebih lanjut Croley (1989:99) mengatakan bahwa bahasa baku perlu diperkenalkan dan dimasyarakatkan ke seluruh wilayah nasional, oleh karena dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, masyarakat atau bangsanya perlu mengetahui dan memahami ciri dan fungsi bahasa baku tersebut.

Kenyataan menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan oleh manusia tidaklah seragam, melainkan beragam. Keragaman bahasa itu disebabkan, antara lain faktor situasi, siapa yang berbicara, fungsi, dan topiknya. Oleh karena itu, bila situasi pembicaraan bersifat resmi (formal), seyogyanya kita mempergunakan bahasa yang resmi atau baku. Sebaliknya bila situasinya tidak resmi (nonformal), kita dapat saja mempergunakan bahasa non baku, atau bahasa ragam akrab, kita dapat saja mempergunakan bahasa nonbaku, atau bahasa ragam akrab.

Selain pakar di atas, Anton Moeliono mencirikan bahwa bahasa baku perlu memiliki sifat kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang mantap. Akan tetapi, kemantapan itu cukup terbuka untuk perubahan yang bersistem di bidang kosakata dan peristilihan dan untuk perkembangan berjenisw ragam dan gaya di bidang kalimat dan makna. Oleh karena itu, untuk mencapai kemantapan tersebut perlu ada usaha kodifikasi, yang menyangkut dua aspek. Kedua aspek penting tersebut, yaitu bahasa menurut situasi pemakai dan pemakaiannya, dan bahasa menurut struktur sebagai suatu sistem komunikasi.

Selain pendapat di atas, bahasa baku perlu memiliki kecendekiaan, yaitu mampu mengungkapkan proses pemikiran yang rumit di berbagai bidang ilmu dan teknologi, dan antar hubungan manusia tanpa menghilangkan kodrat dan kepribadiannya (Halim, 1980:32; Afdul, 1981:16).

Dilihat dari ciri-ciri kebahasaannya, setiap bahasa dianggap baku apabila struktur kebahasaannya (fonologi, morfologi, leksis, dan sintaksis) tidak menyalahi aturan-aturan serta kaindah-kaidah yang telah ditetapkan, termasuk bahasa Indonesia. Dalam hal ini, Kridalaksana dan Suwito menjelaskan bahwa ciri-ciri bahasa Indonesia baku adalah sebagai berikut.
a. Ucapan dan lagunya tidak diwarnai oleh ucapan dan lagu daerah atau dialek setempat;
b. Penggunaan konjungsi-konjungsi, seperti bahwa dan karena secara konsisten dan eksplisit;
c. Penggunaan fungsi gramatikal (subjek, predikat, dan objek) secara eksplisit dan konsisten; secara konsisten;
d. Penggunaan meN- dan ber secara konsisten;
e. Penggunaan secara konsisten pola frasa verbal aspek + pelaku – V, misalnya ssudah saya baca dalam kalimat Surat ini sudah saya baca (bandingkan ciri substandar pelaku + aspek + V, misalnya saya sudah baca dalam kalimat Surat itu saya sudah baca;
f. Penggunaan partikel –kah dan pun secara konsisten;
g. Penggunaan konstruksi yang sintesis, misalnya mobilnya (nonstandar; dia punya mobil), membersihkan (nonstandar: bikin bersih), memberi tahu (nonstandar; kasih tahu).
h. Terbatasnya jumlah unsur-unsur leksikal dan gramatikal dari dialek-dialek regional dan bahasa-bahasa daerah yang masih dianggap asing;
i. Penggunaan polaritas tutur sapa yang konsisten, misalnya saya – tuan, saya – saudara (nonstandar: aku – nama, nama-nama) dan sebagainya;
j. Unsur-unsur leksikal seperti silakan, harap, kepadanya (nonstandar: padanya) pada + pesona (nonstandar: di + waktu), dengan (nonstandar: sama);
k. Pemakaian ejaan dan peristilahan resmi.
(Kridaksana, 1989:4; Suwito, 1983:159).

Oleh karena itu, berkaitan dengan kapan dan di mana bahasa baku terebut diperlukan, Kridalaksana (1988:422) menjelaskan bahwa bahasa baku atau standar diperlukan untuk (1) komunikasi resmi; (2) wacana teknis; (3) pembicaraan di depan umum, dan (4) pembicaran dengan orang yang dihormati. Selain ciri-ciri kebahasaannya, bahasa baku juga dapat ditinjau dari segi fungsinya, yakni kapan dan di mana bahasa itu digunakan. Ditinjau dari ciri-ciri fungsinya, bahasa baku dapat kita gunakan pada situasi (1) resmi, misalnya: upacara-upacara kenegaraan, rapat-rapat dinas, administrasi pemerintahan, surat-menyurat dinas, perundang-undangan, dan pidato kenegaraan; (2) pengantar dalam bidang pendidikan dan pengajaran, misalnya: memberikan pelajaran, perkuliahan, tanya jawab antara guru-murid, dan diskusi kelompok; (3) berbicara dengan orang-orang yang patut dihormati, misalnya: berbicara dengan atasan, kepada orang yang lebih tua, dan terhadap orang yang baru dikenalnya atau baru sekali bertemu; dan (4) menguraikan ilmu pengetahuan dan penulisan karya ilmiah, misalnya: seminar, diskusi ilmiah, dan artikel atau karangan tentang ilmu yang ditulis dalam majalah atau buku (Suwito, 1983:159).

a) Fungsi Bahasa Baku
Fungsi bahasa baku menurut Garvin dan Mathiat dalam Moeliono (1985:110) sebagai berikut.
(1) Fungsi pemersatu atau the unifying fuction, artinya bahasa bahasa baku mempunyai kesanggupan untuk menghilangkan perbedaan variasi dalam masyarakat dan membuat terciptanya kesatuan masyarakat tutur dalam bentuk minimal, artinya memperkecil adanya perbedaan variasi, variasi dialektal dan menyatukan masyarakat tutur yang berbeda dialeknya;
(2) fungsi pemisah atau function, artinya dapat memisahkan atau membedakan situasi formal dan yang tidak formal;
(3) fungsi diri atau prestige function, artinya pemakai ragam bahasa baku akan memiliki perasaan harga diri yang lebih tinggi daripada tidak dapat menggunakannya, sebab bahasa baku biasanya tidak dapat dipelajari di lingkungan keluarga atau lingkungan hidup masyarakat sehari-hari; dan
(4) fungsi sebagai kerangka acuan atau frame of reference function, artinya bahasa baku akan dijadikan tolok ukur untuk norma pemakain dan sebagai pedoman bahasa yang baik dan benar secara umum.

Dari keempat fungsi tersebut di atas akan dapat dilakukan oleh sebuah ragam bahasa baku kalau sudah memiliki tiga ciri yang mendasar. Dari ketiga ciri tersebut ada; (1) memiliki ciri kemantapan yang dinamis; (2) memiliki ciri kecendikiaan, dan (3) memiliki ciri kerasionalan. Menurut Kridalaksana dalam Halim (1981:145) fungsi bahasa baku adalah sebagai berikut.
1) Komunikasi resmi, seperti dalam surat menyurat resmi, surat menyurat dinas, pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan oleh instansi-insansi resmi, penamaan dan peristilahan resmi, perundang-undangan.
2) Wacana teknis, seperti dalam laporan resmi, dan karangan ilmiah.
3) Pembicaraan di depan umum, seperti ceramah, kuliah, khotbah.
4) Pembicaraan dengan orang yang dihormati.
2) Ragam Bahasa Nonbaku
Arifin (2000:18) menjelaskan bahwa ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku. Untuk menentukan suatu ujaran tergolong ragam nonbaku atau tidak, ditinjau dari segi fonologi, morfologi, leksis, dan sistaksis.
1) Bila dalam ujaran itu terlihat pelafalan/pengucapan yang dipengaruhi oleh dialek daerah atau regional tertentu, maka ujaran itu tergolong nonbaku.
2) Bila dalam ujaran itu terdapat bentuk-bentuk kata yang salah (tidak memenuhi kaidah), maka ujaran tersebut tergolong nonbaku.
3) Bila dalam ujaran itu terdapat pemakaian unsur-unsur leksikal daerah/asing yang belum dikenal atau belum dibakukan, atau juga pemakaian unsur-unsur leksikal dari dialek-dialek regional tertentu, maka ujaran tersebut tergolong ragam nonbaku.
4) Jika pemilihan katanya kurang tepat, maka ujaran tersebut dapat digolongkan dalam ragam nonbaku.
5) Bila ujaran tersebut tidak memenuhi fungsi gramatikal (subjek, predikat, objek) maka ujaran itu tergolong ragam nonbaku.
6) Untuk menandai ketidakbakuan suatu ragam dapat dilihat pula dari pemakaian kata penghubung yang konsisten, penggunaan partikel lah dan kah yang konsisten.

c. Percampuran Ragam Bahasa
1) Alih Kode
Berbagai ragam bahasa mungkin bercampur dalam rangkaian ujaran yang sama. Contoh percampuran yang paling jelas adalah apa yang disebut “alih kode”, di mana seorang penutur menggunakan beberapa ragam bahasa yang berbeda pada waktu yang berbeda. Tentunya hal ini merupakan konsekuensi otomatis dari keberadaan ‘register’, ka¬rena seorang penutur perlu menggunakan register-register yang ber¬beda pada kesempatan-kesempatan yang berlainan.

Dalam proses alih kode ini juga terdapat beberapa jenis alih kode yang khusus. Jenis pertama adalah alih kode metaforis (Blom & Gumperz, 1971) di mana sebuah ragam bahasa yang biasanya digunakan dalam satu bentuk situasi saja digunakan dalam situasi yang berbeda karena topiknya adalah topik yang biasanya muncul pada situasi pertama.

Sebuah contoh yang dikutip oleh Jan Petter Blom dan John Gumperz bersumber dari penelitian mereka di sebuah kota di Norwegia Utara, Hemnesberget, di mana terdapat suatu situasi diglossia, dengan satu dari dua bahasa Norwegia standar (Bokml) sebagai ragam bahasa tinggi dan sebuah dialek lokal, Ranamal, sebagai ragam bahasa rendah. Menurut pengamatan Bom dan Gumperz di kantor pemerintahan, para pegawai menggunakan bahasa standar dan dialek, tergantung pada topik pembicaraan mereka, apakah urusan dinas atau bukan. Ketika mereka berbicara tentang urusan keluarga, mereka menggunakan dialek, sedangkan ketika berbicara tentang urusan kantor, mereka menggunakan bahasa standar.

Contoh seperti ini menunjukkan bahwa para penutur dapat menggunakan norma-norma yang mengatur penggunaan ragam bahasa dengan cara yang sama seperti mereka menggunakan norma-norma yang mengatur makna kata dengan menggunakannya secara meta-foris. Hal lain yang membuat alih kode ini lebih menarik adalah bahwa seorang penutur dapat mengalihkan kode di dalam sebuah kalimat. Untuk fenomena ini, John Gumperz (1976) mengemukakan istilah ‘alih kode percakapan’ untuk membedakannya dari ‘alih kode situasional’. Dalam alih kode situasional, setiap peralihan berhubungan dengan suatu perubahan dalam situasi, sedangkan dalam alih kode percakapan, tidak ada perubahan yang terjadi dalam situasi, atau tidak ada perubahan topik yang mungkin menimbulkan alih kode metaforis.

Di sini kita mendapat kesan bahwa tujuan alih kode per¬cakapan adalah untuk menghasilkan dua ragam bahasa dalam proporsi yang sama atau seimbang. Keseimbangan ini dapat dicapai dengan mengungkapkan sebuah kalimat dalam satu ragam bahasa dan kalimat berikutnya dalam ragam bahasa lain dan seterusnya. Contoh alih kode percakapan yang lebih jelas dalam sebuah kalimat dikutip oleh Gillian Sankoff dari sebuah ujaran pengusaha di sebuah desa di Papua Nugini (Sankoff 1972: 45). Di sini bahasa-bahasa yang digunakan adalah bahasa Buang dan Pidgin Neo-Melanesia atau Tok Pisin. Dalam bahasa Buang, negasi ditandai dengan menggunakan su sebelum predikat (yaitu kata kerja dan objeknya) dan re setelah predikat. Dalam sebuah kalimat, predikat itu dalam bahasa Inggris tetapi diakhiri dengan konstruksi su ….. re dalam bahasa Buang. Sekali lagi kita dapat menyimpulkan bahwa unsur-unsur dari bebera¬pa bahasa yang berbeda seperti bahasa Buang dan Pidgin Neo-Melanesia dikelompokkan oleh para penutur dan linguis menurut seperangkat kategori sintaksis yang umum.
(Hudson, 1980: 51)

2) Peminjaman
Cara lain untuk mencampur ragam-ragam bahasa yang berbeda adalah melalui proses peminjaman. Apa yang dimaksud dengan ‘peminjaman’ adalah bilamana sebuah unsur diambil oleh sebuah ragam ba¬hasa dari ragam bahasa lain. Misalnya nama makanan Perancis seperti boeuf bourguignon dipinjam untuk digunakan sebagai istilah bahasa Inggris, lengkap dengan pelafalannya dalam bahasa Perancis. Para penutur bahasa Inggris yang mengetahui bahwa unsur itu merupakan bagian dari bahasa asing hanya mengklasifikasikan kembali unsur tersebut dengan mengubah deskripsi sosialnya dari bahasa Perancis ke bahasa Inggris.

Biasanya unsur-unsur diasimilasikan atau disesuaikan ke dalam unsur-unsur dalam ragam bahasa peminjam, dengan bunyi-bunyi asing yang diganti dengan bunyi-bunyi yang ada dalam ragam bahasa peminjam. Misalnya, kara restaurant telah kehilangan bunyi [r] uvularnya ketika bunyi itu dipinjam dari bahasa Perancis oteh bahasa Ing¬gris, sehingga kata itu akan muncul dengan [r] uvular hanya sebagai contoh alih kode.

Selain itu, asimilasi ini tidak perlu total. Misalnya dalam pengucapan kata restaurant, banyak penutur bahasa Inggris masih mengucapkan vokal sengau di akhir kata itu. Dengan demikian, tampak sulit untuk menarik batas antara bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lainnya karena sistem bahasa Inggris telah menyatu dengan sistem-sistem dari beberapa bahasa lain. Fenomena ini juga terjadi dalam bahasa-bahasa selain seperti bahasa Indonesia yang memiliki unsur-unsur pinjaman dari bahasa Belanda, Portugis, Arab, dan lain-lain.

Apakah ada pembatasan pada situasi yang mendo¬rong proses peminjaman bahasa? Di sini kita dapat memperkirakan bahwa aspek-aspek bahasa tertentu dapat dipinjam hanya dalam kondisi bilingualisme, sedangkan aspek-aspek lain dapat dipinjamkan jika hanya beberapa anggota masyarakat memakai bahasa-bahasa yang bersangkutan.

Aspek-aspek pertama kurang memungkinkan untuk dipin¬jam, tetapi aspek-aspek kedua paling mungkin untuk dipinjam. Misal¬nya, kata untuk bilangan one (satu) hanya akan dipinjam bila hampir setiap orang berbicara bahasa ‘peminjam’ dan bahasa ‘sumber’, sedangkan kata untuk ‘aeroplane’ dapat dipinjam dengan mudah bila tidak ada orang yang menguasai kedua bahasa itu sepenuhnya. Na¬mun, fenomena ini mungkin lebih rumit daripada yang dikemukakan melalui hipotesis ini, terutama selama menyangkut penataan unsur-unsur bahasa ke dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda seperti sin¬taksis, kosakata, dan fonologi. Dengan demikian, peninjaman adalah suatu fenomena yang dapat memperjelas organisasi internal bahasa.
(Hudson, 1980: 53)
3) Pidgin
Selain alih kode dan peminjaman, ada cara lain bagi berbagai ragam bahasa untuk bercampur, yaitu melalui proses penciptaan satu ragam bahasa baru dari dua atau lebih ragam bahasa yang ada. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pidgin adalah ragam ba¬hasa yang diciptakan untuk tujuan komunikasi yang sangat praktis di antara individu-individu yang tidak memiliki bahasa yang sama, dan dipelajari oleh seseorang dari orang lain di dalam berbagai masyarakat sebagai cara umum untuk berkomunikasi dengan para anggota dari masyarakat lain.

Dalam berkomunikasi dengan anggota dari masya¬rakat lain seringkali merupakan alasan perdagangan, maka sebuah pid¬gin dapat disebut sebagai Bahasa Perdagangan, tetapi tidak semua pidgin, digunakan sebagai bahasa perdagangan, atau tidak semua ba¬hasa perdagangan adalah pidgin. Bahkan bahasa dari masyarakat tertentu dapat digunakan oleh semua masyarakat lain sebagai sebuah bahasa perdagangan. Bahasa Inggris dan Ferancis digunakan secara luas sebagai bahasa perdagangan di banyak daerah di Afrika. Berbeda de¬ngan bahasa-bahasa tersebut, sebuah pidgin adalah satu ragam bahasa yang diciptakan secara khusus untuk tujuan komunikasi dengan kelompok lain, dan tidak digunakan oleh masyarakat manapun untuk berkomunikasi di antara mereka.
(Hudson, 1980: 55)
4) Creole
Pidgin yang memiliki menutur asli disebut bahasa creole atau Creole, dan proses perubahan pidgin ke dalam sebuah creole disebut “creolisasi’. Kita dapat dengan mudah mengetahui bagaimana pidgin meraih penutur asli. Dalam hal ini, pidgin tersebut digunakan oleh pasangan suami istri yang memiliki anak dan membesarkan anak mereka bersama-sama. Hal ini telah berlangsung dalam skala besar di antara para budak Afrika dan sedang terjadi pada skala yang lebih kecil di sejumlah masyarakat perkotaan di tempat-tempat seperti Papua Nugini.

Dari sudut pandang sosial, creole lebih menarik daripada pidgin karena tiga alasan. Petama, creole dipakai oleh lebih banyak orang dari¬pada pidgin. Perkiraan menunjukkan bahwa antara 10 dan 17 juta orang adalah pemakai bahasa creole dan antara 6 dan 12 juta orang adalah pemakai bahasa pidgin (DeCamp 1977).

Kedua, sebagian besar bahasa creole dipakai oleh turunan budak Afrika dan sangat menarik bagi para pemakainya dan orang lain sebagai salah satu sumber utama informasi mengenai asal-usul mereka dan sebagai simbol identitas mereka.

Ketiga, ada kelompok-kelompok minoritas, seperti para imigran, yang para anggotanya berbicara bahasa creole tertentu. Jika Creole mereka didasarkan pada bahasa mayoritas di negara yang mereka datangi, maka bahasa creole ini adalah bahasa yang berbeda dengan ba¬hasa mayoritas atau dialek dari bahasa mayoritas itu. Jika creole itu berbeda dengan bahasa mayoritas, maka metode-metode pengajaran itu tidak tepat jika bahasa creole itu adalah dialek. Akibatnya, penelitian diperlukan untuk menentukan tingkat perbedaan antara creole dan bahasa mayoritas.
(Hudson, 1980: 59)
3. Masyarakat Ujaran
Istilah “masyarakat ujaran” digunakan secara luas oleh para sosiolinguis untuk mengacu kepada suatu masyarakat atas dasar bahasa, tetapi istilah “masyarakat bahasa” juga digunakan dengan makna yang sama. Jika batas di antara masyarakat-masyarakat ujaran dapat ditentukan, maka mereka dapat diteliti dan hal ini memungkinkan untuk menemukan berbagai perbedaan dalam bahasa mereka. Oleh karena itu, penelitian atau kajian tentang masyarakat ujaran ini teiah menarik sejumlah linguis, terutama setelah Leonard Bloomfield menulis bab tentang masyarakat ujaran dalam bukunya Language. Akan tetapi, terdapat kebingunan atau ketidaksepakatan mengenai apa yang disebut sebagai masyarakat ujaran. Berikut ini adalah beberapa defmisi ten¬tang masyarakat ujaran.

Definisi paling sederhana tentang ‘masyarakat ujaran’ dikemukakan oleh John Lyons (1970: 326) masyarakat ujaran adalah semua orang yang menggunakan sebuah bahasa (atau dialek) tertentu. Menurut definisi ini, masyarakat-masyarakat ujaran saling meleng-kapi atau overlap (terutama jika terdapat para dwibahasawan) dan tidak perlu memiliki kesatuan sosial atau budaya. Dalam hal ini, batas di antara masyarakat-masyarakat bahasa dapat ditentukan jika batas antara bahasa dan dialek dapat diketahui.

Definisi yang lain dikemukakan oleh Charles Hockett dalam Hudson (1998: 24) yaitu setiap bahasa menunjukkan suatu masyarakat ujaran, semua orang yang saling berkomunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui bahasa yang sama. Definisi tersebut, kriteria komunikasi di dalam masyarakat ditambahkan, sehingga jika dua masyarakat berbicara bahasa yang sama tetapi tidak saling berhubungan sama sekali, maka mereka disebut sebagai dua masya¬rakat ujaran yang berbeda.

Definisi selanjutnya yang dikemukakan oleh Bloomfield dalam Hudson (1998: 24) yaitu masyarakat ujaran adalah sekelompok orang yang berinteraksi dengan menggunakan ujaran. Definisi ini membuka kemungkinan bahwa sejumlah orang berinterak¬si melalui satu bahasa, dan sejumlah orang lain berinteraksi melalui bahasa lain.

Definisi lain dikemukakan oleh Gumperz dalam Hudson (1998: 24) yaitu masyarakat bahasa adalah sebuah kelompok sosial yang meng¬gunakan satu bahasa (monolingual) atau banyak bahasa (multi-lingual), yang dipersatukan oleh frekuensi pola interaksi sosial dan dibentuk oleh daerah-daerah sekeliling karena kelemahan dalam jalur komunikasi.

Definisi yang diberikan oleh Labov dalam Hudson (1998: 24) yaitu menempatkan tekanan pada sikap bersama terhadap bahasa, bukan pada perilaku berbahasa. Masyarakat ujaran tidak ditentukan oleh kesepakatan dalam pemakaian unsur-unsur bahasa, tetapi oleh partisipasi dalam penerapan norma-norma yang disepakati bersama. Norma-norma ini dipatuhi dalam jenis-jenis perilaku evaluatif terbuka dan melalui keseragaman pola variasi abstrak yang tidak berubah dalam kaitannya denan tingkat pemakaian bahasa.

Berdasarkan definisi-definisi yang diuraukan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat ujaran yaitu sekelompok orang yang memiliki kesamaan yaitu keasamaan dalam bahasa atau dialek, interaksi melalui ujaran, berbagai ragam bahasa dan kaidah untuk menggunakan ragam-ragam bahasa ini, serta sikap terhadap ragam-ragam dan unsur-unsur bahasa.

Pada bagian ini, kita akan membahas sejauh mana hubungan antara bahasa dan masyarakat dapat dijelaskan menurut kategori bahasa umum/global seperti ‘Bahasa X’ atau ‘dialek Y’ dan kategori sosial umum seperti ‘masyarakat Z’. Jika hubungan itu memungkinkan un¬tuk dipaparkan, maka hubungan antara bahasa dan masyarakat dapat dijelaskan menurut kategori umum ini dan kita tidak perlu mengacu kepada unsur-unsur bahasa (linguistic item) yang terkandung dalam ‘bahasa X’ atau kepada anggota ‘masyarakat Z,’

Kita dapat berasumsi bahwa setiap individu dalam suatu masyarakat memiliki sifat unik dalam bahasanya. Jika unsur-unsur bahasa ini memiliki hubungan yang berbeda dengan masyarakat (menurut orang dan keadaan), hubungan untuk setiap unsur harus dijelaskan secara terpisah, Dengan demikian, terdapat pernyataan tentang kategori global dan pernyataan tentang setiap unsur bahasa. Dalam hal ini, pernya¬taan tersebut mengacu kepada penutur bahasa baik sebagai anggota masyarakat maupun sebagai individu.

4. Model Pohon Keluarga
Cara yang baik untuk menggambarkan hubungan di antara ragam-ragam bahasa adalah dengan menggunakan “model pohon keluarga” yang dikembangkan pada abad ke-19 sebagai alat bantu dalam penelitian sejarah bahasa. Model ini memungkinkan seseorang untuk memperlihatkan betapa erat hubungan di antara sejumlah ragam bahasa yang dipakai saat ini, dan seberapa jauh setiap ragam bahasa berbeda dari ragam-ragam bahasa lain sebagai akibat dari perubahan sejarah. Misalnya, kita ingin mengambil bahasa Inggris, Jerman, Welsh, Peran¬cis dan Hindi sebagai ragam-ragam bahasa untuk saling dikaitkan. Coba perhatikan gambar di bawah ini!

Inggris Jerman Welsh Perancis Hindi Cina

Dengan membuat sebuah struktur pohon di atas ragam-ragam bahasa ini, seperti pada gambar di atas, kita dapat memperlihatkan bahwa bahasa Inggris berhubungan paling erat dengan bahasa Jerman, kurang dekat dengan bahasa Welsh dan Perancis serta bahasa Hindi. Bahasa Cina dimasukkan untuk memperlihatkan bahwa bahasa ini tidak berhubungan sama sekali dengan bahasa-bahasa lainnya. Jika kita memasukkan dua ragam bahasa ke dalam diagram yang sama, maka ada satu asumsi bahwa kedua ragam bahasa itu ‘diturunkan’ melalui pe¬rubahan sejarah dari sebuah ragam bahasa ‘induk’, yang dapat disebutkan di atas diagram.

Dengan demikian, kita dapat menambahkan nama “Proto-Indo Eropa” pada noktah di atas pohon, yang menunjukkan bahwa semua ragam bahasa yang dicantumkan di bawah (kecuali bahasa Cina) diturunkan dari satu ragam bahasa. Kita juga dapat mencantumkan nama “Proto-Jerman” di atas noktah, yang menunjukkan bahwa bahasa Inggris dan Jerman berasal dari ragam bahasa tersebut.

Nilai pokok dari model pohon keluarga bagi linguistik historis adalah bahwa model ini memperjelas hubungan sejarah di antara ragam-ragam bahasa, dan memberikan konsep yang jelas tentang kronologi perubahan sejarah yang menyebabkan perbedaan atau divergensi di antara ragam-ragam bahasa. Dari sudut pandang ini, keuntungannya adalah bahwa pohon keluarga memperlihatkan satu hubungan hirarkis di antara ragam-ragam bahasa yang tidak menimbulkan perbe¬daan antara ‘bahasa’ dan ‘dialek’. Namun demikian, model pohon ke¬luarga ini kurang menarik bagi para sosiolinguis, karena model ini menggambarkan idealisasi kasar tentang hubungan di antara ragam-ragam bahasa.

Secara khusus, model ini tidak memungkmkan kita untuk melihat satu ragam bahasa yang mempengaruhi ragam bahasa lain, yang dalam hal tertentu dapat menimbulkan konvergensi, yaitu sebuah ragam bahasa diturunkan dari dua ragam bahasa yang berbeda. Pada kenyataannya, konvergensi ini memang terjadi dan kita akan melihat model yang lebih baik, yaitu ‘teori gelombang’.
(Hudson, 1980: 33)

D. Tugas
Setelah mempelajari rangkuman materi di atas, Anda kerjakan tugas-tugas berikut ini!
1. Amatilah kegiatan berbahasa yang terjadi di masyarakat sekitar Anda!
2. Catat hasil pengamatan tersebut dan cocokkan dengan materi alih kode, peminjaman, pidgin, atau creole!
3. Diskusikan dengan teman sejawat yang terdekat!
4. Berdasarkan kegiatan diskusi, simpulkanlah dengan mencocokkan dengan materi (ragam bahasa dan jenis-jenisnya) dan hasilnya kirimkan ke Dosen pengampu matakuliah sosiolingustik!

E. Tes Formatif
1. Jelaskan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional!
2. Urutkanlah unsur-unsur bahasa meurut Noam Choamsky!
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan ragam bahasa dan faktor timbulnya ragam bahasa tersebut!
4. Jelaskan jenis-jenis ragam bahasa dan berikan contoh-contohnya!
5. Jelaskan apa yang dimaskud dengan masyarakat ujaran!

F. Kunci Jawaban
1. (a) lambang kebanggaan bangsa; (b) lambang identitas bangsa; (c) alat pemersatu berbagai suku, dengan berbagai latar belakang sosial budaya dan bahasa; dan (d) alat perhubungan antar daerah dan antar budaya.
2. (a) unsur-unsur leksikal; (b) berbagai jenis aturan atau kaidah (untuk menggabungkan pelafalan dan makna unsur-unsur leksikal ini dalam kalimat); dan (c) berbagai jenis pembatasan pada aturan-aturan ini.
3. Ragam bahasa adalah sebagai sekumpulan unsur bahasa yang memiliki distribusi sosial yang sama. Adapun faktor-faktor timbulnya ragam bahasa adalah tempat, waktu, sosiokultural, situasi, dan medium pengungkapan.
4. Ragam baku (frozen), Ragam resmi (formal), Ragam usaha (consultative), Ragam santai (causal); dan Ragam akrab (intimate).
5. Masyarakat ujaran adalah semua orang yang menggunakan sebuah bahasa (atau dialek) tertentu.

G. Lembar Kerja
1. Amatilah suatu masyarakat bahsa di sekitar Anda dan catat bahasa-bahasa yang digunakannya!
2. Gunakan lembar pengamatan di bawah ini!

Lokasi Pengamatan : …………………
Waktu Pengamatan : …………………
No. Bahasa yang digunakan Tempat Berlangsung Contoh simpulan
1. Ragam baku
2. Ragam resmi
3. Ragam usaha
4. Ragam santai
5. Ragam akrab

3. Hasil dari pengamatan tersebut diskusikanlah dengan teman sejawat dan bandingkan hasilnya!
4. Simpulkanlah dan laporkan hasilnya berdasarkan keputusan dalam diskusi!

PEMBELAJARAN 3
DIALEK DAN RIGISTER

A. Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, mahasiswa memiliki pemahaman mengani konsep dialek, register, diglossia, dan jenis-jenis unsur bahasa dengan baik.

B. Hasil Belajar
1. Mahasiswa mampu menjelaskan dialek beserta contoh-contohnya dengan benar.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan register beserta contoh-contohnya dengan benar.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan diglossia beserta contoh-contohnya dengan benar.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan jenis-jenis unsur bahasa beserta contoh-contohnya dengan benar.

C. Rangkuman Materi
1. Dialek
a. Dialek Regional dan Isogloss

Sekarang kita bahas mengenai kejelasan batas di antara ragam-ragam bahasa. Model pohon keluarga yang digambarkan pada pembelajaran sebelumnya menunjukkan bahwa bates di antara ra-gam-ragam bahasa itu tampak jelas pada semua jenjang pohon. Akan tetapi, kita tidak dapat menelusuri semua cabang atau jenjang pohon hingga ke jenjang individu pemakai bahasa (idiolek).

Jika kita memperhatikan perbedaan ragam bahasa yang paling je¬las atas dasar geografi, maka jika model pohon keluarga itu benar, kita akan dapat menemukan dialek-dialek regional di dalam ragam bahasa yang lebih besar seperti bahasa Inggris. Pernyataan ini didukung oleh berbagai bukti yang dikumpulkan oleh disiplin ilmu yang disebut Dialektologi, terutama oleh cabangnya yang disebut Geografi Dialek. Sejak abad ke-19, para dialektolog di Eropa dan Amerika Serikat telah meneliti distribusi geografis dari unsur-unsur bahasa, seperti pasangan kata sinonim (misalnya, pail dan bucket) atau beberapa pelafalan yang berbeda untuk kata yang sama, seperti farm dengan atau tanpa / r /. Hasil penelitian mereka digambarkan dalam sebuah peta, yang menunjukkan unsur-unsur apa yang ditemukan di desa-desa tertentu (karena geografi dialek cenderung berfokus pada daerah-daerah pedesaan untuk menghindari kompleksitas daerah perkotaan). Kemudian geografer dialek menarik garis antara daerah di mana satu unsur ditemukan dan daerah di mana unsur-unsur lain ditemukan, yang menunfukkan sebuah batas untuk setiap daerah yang disebut Isogloss (dari bahasa Yunani iso- ‘sama’ dan gloss- lidah).

Model pohon keluarga memungkinkan pembuatan prediksi yang sangat penting tentang isogloss, yaitu bahwa isogloss-isogloss tidak saling mempengaruhi atau bersinggungan. Prediksi ini bereumber dari hirarki yang ketat di antara ragam-ragam bahasa dalam model itu yang hanya memungkinkan dua hubungan di antara dua ragam ba¬hasa: apakah salah satu ragam bahasa itu merupakan induk dari ragam bahasa lain, atau keduanya merupakan ragam bahasa turunan.

(Hudson, 1980: 59)
b. Dialek Sosial
Tentunya dialek tidak hanya tersebar secara geografis. Dalam hal ini ada dua sumber utama yang menyebabkan kompleksitas penye-baran dialek. Sumber pertama adalah mobilitas geografis individu-individu berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan membawa dialek mereka sekalipun mereka mengubahnya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka yang baru.

Sumber kompleksitas kedua adalah fakta bahwa geografi hanya merupakan salah satu faktor relevan, dan faktor-faktor adalah kelas sosial, jenis kelamin dan usia. Oleh karena itu, para dialektolog berbicara tentang dialek sosial atau sosiolek untuk mengacu kepada perbedaan-perbedaan non regio¬nal. Karena faktor-faktor lain ini, maka seorang penutur bahasa mungkin memperlihatkan lebih banyak kesamaan dalam bahasanya kepada mereka yang berasal dari kelompok sosial yang sama di dae¬rah yang berbeda daripada kepada mereka yang berasal dari kelom¬pok sosial yang berbeda di daerah yang sama.

Tentunya salah satu karakteristik dari struktur sosial hirarkis di suatu negara seperti Inggris adalah bahwa kelas sosial dipandang lebih penting dari geografi sebagai satu determinan ujaran, sehingga terdapat lebih banyak perbedaan geografis di kalangan kelompok sosial yang rendah daripada di antara kelompok sosial tinggi. Namun ciri khas ini hanya ada di Inggris dan tidak ditemukan di negara-negara lain seperti Amerika Serikat atau Jerman, dimana orang-orang kelas atas memperlihatkan daerah asal mereka melalui pelafalan me¬reka, meskipun mungkin dalam beberapa aspek bahasa lainnya. Karena perbedaan dalam kepekaan terhadap perbedaan sosial regional/daerah antara pelafalan dan aspek-aspek bahasa lainnya, maka wajarlah jika logat dan dialek dibedakan, dimana logat berhu-bungan dengan pelafalan saja dan dialek berhubungan dengan setiap aspek bahasa, termasuk pelafalan.

Perbedaan ini memungkinkan kita untuk membedakan antara ‘dialek standar’ dan ‘dialek non standar’ dan membuat pernyataan-pemyataan yang berbeda tentang pelafalan menurut logat. Dengan demikian, di Inggris misalnya kita dapat menemui banyak orang yang menggunakan logat daerah, tetapi dengan dialek standar. Penggunaan istilah ‘dialek sosial’ dan istilah logat’ ditujukan untuk menegaskan bahwa terdapat perbedaan-perbedaan bahasa di antara para pemakai bahasa, yang tidak hanya disebabkan oleh geografi tetapi juga oleh faktor-faktor sosial lainnya.

2. Register
a. Register dan Dialek
Dalam variasi sebuah bahasa dapat dibagi menjadi dua macam. Rusyana (1984:140) mengemukakan bahwa variasi dalam sebuah bahasa itu ada variasi menurut penuturnya dan variasi menurut penggunaannya. Variasi menurut penutur terjadi disebabkan setiap orang menggunakan variasi yang pemilihannya berkaitan erat dengan asal-usul penutur itu dan variasi yang demikian itu disebut dialek.

Variasi dialek yang berkaitan dengan kemasyarakatannya disebut dialek sosial. Variasi sosial adalah menurut penggunaannya. Selanjutnya setiap penutur itu ternyata mempunyai seperangkat variasi, dan ia menggunakan setiap variasi itu pada waktu yang berlainan. Variasi yang demikian itu disebut register.

Antara register dan dialek adalah merupakan istilah yang berbeda. Halliday dalam Hudson (1998:43) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan register adalah variasi bahasa menurut penggunaannya, sedangkan dialek adalah variasi bahasa menurut pemakainya. Lebih lanjut dikatakannya bahwa register is what you are speaking (at the time), and dialect is what you speak (habitualy).

Cummings dan Simon dalam Hudson (1998:101) juga mengemukakana bahwa register adalah suatu variasi bahasa yang tidak hanya menurut siapa yang berbicara, tetapi juga menurut situasi. Tipe ini kadang-kadang juga disebut stylistic variation.

Pendapat di atas sejalan dengan pendapat Halliday yang mengemukakan bahwa dialek diartikan sebagai variasi bahasa berdasarkan pemakaiannya. Dengan perkataan lain, dialek merupakan bahasa yang bisa digunakan oleh pemakainya yang pada dasarnya bergantung pada siapa pemakainya, dari mana pemakai itu berasal, baik secara sosial dalam kaitannya dengan dialek sosial atau pun secara geografis yang dalam kaitannya dengan dialek regional.

Menurut Fishman dalam Hudson (1998:149) register diartikan sebagai ragam bahasa yang digunakan saat itu bergantung pada apa yang dikerjakan dan sifat kegiatannya. Selanjutnya Halliday menjelaskan bahwa register ditentukan field of discourse, mode of discourse, dan style of discourse. Teeuw (1992:57) menyebutnya dengan istilah medan, sarana, dan pelibat. Field of discourse mengacu pada tujuan apakah bahasa itu digunakan dan apa topik pembicaraannya. Mode of discourse mengacu pada makna komunikasi atau media apa yang digunakan (lisan atau tulisah). Style of discourse mengacu pada hubungan antar partisipan yang terlibat dalam komunikasi.

Istilah lain yang digunakan dengan istilah-istilah di atas adalah field, mode, dan tenor. Dengan kata lain, register menjelaskan hubungan bahasa dengan konteks, kapan, siapa, di mana, bagaimana dan untuk apa bahasa itu digunakan. Hal ini sejalan dengan pendapat Brown (1980:191) bahwa register bergantung pada topik pembicaraan, partisipan, media yang digunakan, dan formalitas pembicaraan.

Sejalan dengan pendapat di atas Alwasilah, (1989:63) menjelaskan bahwa register adalah suatu ragam bahasa yang digunakan untuk maksud tertentu sebagai lawan dari dialek sosial atau regional (variasi menurut penurutunya). Register ditentukan oleh topik pembicaraan (field of discourse), media pembicaraan (mode of discourse), atau tingkat keformalan (Imanner of discourse).

Dari uraian di atas dapat diungkapkan bahwa dalam pemakaian ragam bahasa tersirat pemilihan ragam bahasa karena sebelum seseorang memakai suatu ragam bahasa terlebih dahulu ia akan menentukan atau memilih ragam bahasa apa yang akan digunakan. Dalam kaitan ini, beberapa ahli mengatakan bahwa ada berbagai faktor yang mempengaruhi pemilihan bahasa, dalam hal ini penulis kaitkan dengan pemilihan dan pemakaian ragam bahasa, yaitu partisipan, situasi, isi pembicaraan, dan fungsi serta tujuan interaksi (Rusyana, 1988:34).

Dalam konteks itu dapat disimpulkan bahwa dialek adalah ragam berdasarkan pemakainya yang ditentukan oleh faktor siapa yang berbicara, dari mana ia berasal, baik secara sosial maupun geografis. Adapun register adalah ragam bahasa berdasarkan pemakaiannya, yang ditentukan oleh faktor partisipan (lawan bicara), tipik, situasi, media, dan fungsi serta tujuan pembicaraan.

Istilah ‘register’ digunakan secara luas dalam sosiolinguistik untuk mengacu kepada ragam bahasa menurut pemakainya, sedangkan dialek mengacu kepada ‘ragam bahasa menurut pemakaiannya’. Per¬bedaan ini diperlukan karena seseorang mungkin menggunakan unsur-unsur bahasa yang sangat berbeda untuk mengungkapkan makna yang sama pada kesempatan-kesempatan yang berbeda, dan konsep ‘dialek’ tidak mencakup variasi ini. Misalnya, dalam menulis sebuah surat seseorang mungkin mulai dengan: “Saya menulis surat ini untuk memberitahu kamu bahwa……,”, tetapi dalam surat lain ia mungkin menulis: “Saya hanya ingin memberitahu kamu bahwa…….”. Kedua contoh ini dapat diperbanyak dan menunjukkan bahwa tingkat variasi yang disebabkan oleh perbedaan register mungkin sebanding dengan tingkat variasi yang disebabkan oleh perbedaan dalam dialek.

Kita dapat menafsirkan perbedaan register menurut model tindak identitas seperti kita menafsirkan perbedaan dialek. Setiap kali sese-orang berbicara atau menulis, ia tidak hanya menempatkan dirinya de¬ngan mengacu kapada anggota masyarakat lainnya, tetapi juga menghubungkan tindak komunikasinya dengan skema klasifikasi perilaku komunikasi yang kompleks. Skema ini berbentuk matriks multi dimensi, seperti gambar masyarakat yang dikembangkan dalam setiap pikiran individu. Dalam pernyataan yang paling sederhana, kita dapat mengatakan bahwa dialek seseorang menunjukkan siapa orang itu, sedangkan registernya memperlihatkan apa yang ia lakukan.

“Dimensi-dimensi” untuk menempatkan suatu tindak komunikasi tidak kurang kompleks daripada dimensi-dimensi yang berhubungan dengan lokasi sosial pemakai bahasa. Michael Halliday (1978: 33) membedakan tigas jenis dimensi umum: ‘field’, ‘mode’ dan ‘tenor’ ’gaya’ kadang-kadang digunakan untuk menggantikan ‘tenor’, tetapi istilah ini sebaiknya dihindari karena ‘gaya’ digunakan dengan arti yang sama dengan ‘register’.

Field berhubungan dengan tujuan dan pokok bahasan dalam komunikasi; mode mengacu kepada cara melangsungkan komunikasi terutama melalui lisan dan tulisan. Tenor bergantung pada hubungan di antara para partisipan. Di sini sebuah slogan akan membantu. Field mengacu kepada ‘mengapa’ dan ‘tentang apa’ suatu komunikasi berlangsung; mode adalah tentang ’bagaimana’ dan tenor adalah tentang ’kepada siapa’.

Menurut model ini, perbedaan register mengandung sedikitnya tiga dimensi. Model lain yang juga digunakan secara luas dikemukakan oleh Dell Hymes (1972), di mana tidak kurang dari 13 variabel menentukan unsur-unsur bahasa yang dipilih oleh seorang penutur, selain variabel ‘dialek’. Namun kita sangat meragukan jika jumlah ini mencerminkan semua kompleksitas perbedaan register. Namun demikian, setiap model ini memberikan kerangka acuan untuk menempatkan dimensi-dimensi persamaan dan perbedaan. Misalnya, hubungan antara pembicara dan lawan bicara melibatkan lebih dari satu di¬mensi, termasuk dimensi kekuasaan’, di mana lawan bicara lebih rendah, sederajat atau lebih tinggi dari pembicara, dan dimensi yang disebut ‘solidaritas’, yang membedakan hubungan akrab dengan hubungan yang jauh.

Dalam bahasa Indonesia misalnya, kita juga menempatkan hubungan kita dengan lawan bicara pada kedua di¬mensi ini, dan kita biasanya memilih istilah-istilah panggilan: Bapak Anwar, Pak, Didi, kamu dan lain-lain. Sejauh ini kita telah menggunakan istilah ‘register’ sebagai konsep yang biasanya digunakan sebagai nama dari satu jenis ragam bahasa yang sejajar dengan dialek. Namun, kita mengetahui bahwa dialek tidak berdiri sebagai ragam bahasa yang tersendiri, sehingga kita harus bertanya apakah register merupakan ragam bahasa yang berdiri sendiri.
(Hudson, 1980: 44)
3. Diglossia
Istilah ‘diglossia’ diperkenalkan ke dalam literatur sosiolinguistik oleh Charles Ferguson (1959) untuk memaparkan situasi yang ditemukan di tempat-tempat seperti Yunani, dunia Arab pada umumnya, negara Swis yang berbahasa Jerman dan pulau Haiti. Di semua masyarakat ini terdapat dua ragam bahasa yang berbeda; satu ragam bahasa hanya digunakan pada kesempatan formal, dan satu ragam bahasa lagi digunakan oleh setiap orang dalam situasi biasa sehari-hari.

Ferguson mendefinisikan diglossia dalam Hudson (1998:49) adalah suatu situasi bahasa yang relatif stabil di mana, selain dialek-dialek utama, juga terdapat satu dialek yang sa¬ngat berbeda, sebagai sarana untuk menulis literatur, baik dari periode sebelumnya maupun dalam masyarakat ujaran lain, yang dipelajari secara luas melalui pendidikan formal dan di¬gunakan untuk kepentingan lisan dan tulisan formal tetapi tidak digunakan oleh lapisan masyarakat manapun untuk percakapan biasa. Misalnya, dalam sebuah masyarakat diglossia yang berbicara ba¬hasa Arab, bahasa yang digunakan di rumah adalah versi bahasa Arab lokal (mungkin ada perbedaan yang sangat besar antara satu dialek bahasa Arab dengan dialek lainnya) dengan sedikit variasi di antara para penutur yang terdidik dan penutur yang kurang terdidik. Namun jika seseorang harus memberikan kuliah di perguruan tinggi atau seorang ulama harus memberikan ceramah di mesjid, maka ia diharapkan menggunakan bahasa Arab Standar, sebuah ragam bahasa yang pada semua jenjang berbeda dengan bahasa daerah dan dirasakan sangat berbeda dengan bahasa daerah itu sehingga bahasa Arab standar ini diajarkan di sekolah-sekolah seperti bahasa asing diajarkan di negara-negara yang berbahasa Inggris. Ketika anak-anak belajar membaca dan menulis, bahasa standar inilah yang mereka pelajari.

Perbedaan yang paling jelas antara masyarakat bahasa diglossia dan masyarakat bahasa biasa/normal adalah bahwa tidak seorang pun dalam masyarakat bahasa diglossia memperoleh keuntungan dari belajar ragam bahasa tinggi sebagai bahasa pertamanya (sebagaimana digunakan dalam kesempatan formal dan dalam pendidikan), karena setiap orang berbicara ragam bahasa rendah di rumah. Akibatnya, cara untuk menguasai satu ragam bahasa tinggi di masyarakat tersebut adalah dengan cara pergi bersekolah. Tentunya masih ada perbedaan di antara keluarga-keluarga dalam kemampuan mereka un¬tuk memperoleh pendidikan, sehingga diglossia tidak menjamin persamaan bahasa di antara si kaya dan si miskin, tetapi perbedaan ini hanya muncul dalam situasi formal.

Definisi diglossia yang dikemukan oleh Ferguson di atas sangat spesifik dalam beberapa hal. Misalnya, ia menegaskan bahwa ragam ba¬hasa tinggi dan ragam bahasa rendah dimiliki oleh bahasa yang sama. Namun beberapa penulis telah memperoleh istilah ini sehingga mencakup situasi yang tidak memenuhi syarat sebagai situasi diglossia menurut definisi Ferguson. Dalam hal ini, Joshua Fishman (1971: 75) mengacu ke Paraguay sebagai satu contoh masyarakat diglossia, meskipun ragam bahasa tinggi dan rendah di Paraguay adalah bahasa Spanyol dan Guarani, sebuah bahasa Indian yang tidak berhubungan sama sekali dengan bahasa Spanyol. Karena kita telah menegaskan bah¬wa tidak ada perbedaan nyata di antara ragam-ragam bahasa dalam sebuah bahasa dan dalam beberapa bahasa yang berbeda, maka pelonggaran ini tampak sangat wajar.
Sementara itu, Fisman juga memperluas istilah ‘diglossia’ ke dalam setiap masyarakat yang menggunakan dua atau lebih ragam bahasa dalam situasi-situasi yang berbeda (1971: 74). Perluasan ini disesalkan karena” seolah-olah setiap masyarakat adalah masyarakat diglossia, bahkan termasuk masyarakat Inggris yang berbahasa Inggris, di mana ‘register’ dan ‘dialek’ yang berbeda digunakan dalam situasi yang berbeda-beda (misalnya, bandingkan antara khotbah dan laporan olah-raga).

Nilai konsep diglossia ini adalah bahwa konsep ini dapat diguna¬kan dalam tipologi sosiolinguistik yaitu untuk mengelompokkan masyarakat menurut jenis tatanan sosiolinguistik yang berlaku di antara mereka dan ‘diglossia’ menunjukkan perbandingan dengan jenis tatanan sosiolinguistik yang ditemukan di negara-negara seperti Ing¬gris dan Amerika Serikat, yang dapat kita sebut sebagai ‘dialektia sosial’ untuk membuktikan bahwa ‘ragam-ragam bahasa’ yang ada merupakan dialek bukan register.

4. Jenis-jenis Unsur Bahasa
Salah satu pertanyaan paling menarik yang diajukan dalam pembahasan tentang ragam bahasa adalah apakah semua unsur bahasa mengalami perubahan dengan cara yang sama. Dengan mengacu kepada konsep ‘logat’, tampak ada satu perbedaan umum antara un¬sur pelafalan dan unsur-unsur lain (morfologi, sintaksis, kosakata), di ¬mana pelafalan kurang dapat dibakukan. Dengan demikian, standardisasi tidak berlaku pada pelafalan.

Pelafalan tampak berbeda dengan jenis-jenis unsur bahasa lain da-lam fungsi sosialnya. Misalnya, meskipun terdapat pengaruh Amerika terhadap Inggris, namun pengaruhnya terhadap bahasa Inggris di Inggris (British English) hanya terbatas pada kosakata dan tidak ada dampaknya terhadap pelafalan kelompok-kelompok orang yang terkena pengaruh itu. Akan tetapi, perbedaan antara pelafalan dan unsur-unsur bahasa lainnya bisa memiliki wujud yang berbeda seperti da¬lam kasus anak-anak dan remaja kulit hitam kelas menengah di Detroit, yang diteliti oleh Walter Wolfram (1969).

Wolfram (1969: 205) menyatakan bahwa bagi para penutur bahasa ini, unsur-unsur sintaksis dan morfologis adalah unsur-unsur yang diharapkan dari kelompok kelas menengah pada umumnya (misalnya, ada beberapa ‘negatif ganda’ yang umum di dalam ujaran Jelas bawah di Detroit), tetapi pelafalan mereka mirip dengan pelafalan remaja kelas bawah di Detroit.

Wolfram (1969: 204) juga menegaskan bahwa perbedaan dalam pela¬falan bersifat kuantitatif, sedangkan perbedaan-perbedaan lain bersifat kualititatif yaitu, perbedaan kelas dalam fonologi menyangkut frekuensi pemakaian unsur-unsur tertentu, sedangkan perbedaan da¬lam sintaksis dan morfologi menyangkut pemakaian jenis-jenis unsur. Namun, dasar untuk generalisasi ini sangat dangkal dan tidak diperkuat oleh penelitian-penelitian lain.

Selanjutnya, pelafalan dan unsur-unsur lainnya mungkin memainkan peranan yang berbeda dalam tindak identitas individu. Misalnya, kita menggunakan pelafalan untuk mengidentifikasi asal-usul kita. Sebaliknya, kita menggunakan morfologi, sintaksis dan kosakata untuk mengidentifikasi status kita sekarang dalam masyarakat, seperti tingkat pendidikan yang telah kita capai. Ini hanya merupakan perkiraan, tetapi terdapat cukup bukti mengenai perbedaan antara pelafalan dan unsur-unsur bahasa lain yang memerlukan penjelasan umum. Perbe¬daan ini mungkin merupakan artefak dari proses standardisasi, sehingga kita perlu mencari bukti dari masyarakat yang tidak dipengaruhi oleh standardisasi ini. Jika perbedaan tersebut ditemukan dalam masyarakat itu, maka kita dapat berasumsi bahwa kita telah menemukan suatu fakta penting tentang bahasa.
Di sini kita dapat mengajukan pertanyaan apakah ada bukti yang mendukung pendapat bahwa pelafalan tidak sudah terkena per-ubahan? Pada dasamya, pendapat ini kurang mendapat dukungan dan secara umum kita mengakui bahwa perbedaan dalam bentuk-bentuk dasar (yaitu perbedaan leksikal) adalah umum. Misalnya, mereka yang mengucapkan /r/ dalam kata “farm” mungkin dianggap memiliki bentuk-bentuk dasar yang berbeda untuk kata ini dengan bentuk-bentuk dasar yang dimiliki oleh mereka yang tidak mengucapkan /r/. Pada kenyataannya, jenis variasi dalam fonologi memang dite¬mukan, dan bahkan ditemukan pada skala besar.

Kita juga dapat mengajukan pertanyaan serupa tentang aspek-aspek bahasa selain pelafalan. Apakah ada bukti yang mendukung pendapat bahwa sintaksis lebih tahan terhadap perubahan daripada morfologi atau kosakata? Contoh-contoh perbedaan sintaksis di dalam ragam bahasa ” yang berukuran bahasa” tidak sering dikutip dalam literatur jika dibanding dengan perbedaan dalam pelafalan atau mor¬fologi, yang sulit dipisahkan. Misalnya, apakah perbedaan antara -ing dan -in’ dalam kata seperti “coming” merupakan perbedaan dalam pelafalan atau dalam morfologi? Selain itu, perbedaan dalam kosakata juga lebih sering dibahas dalam literatur dialektologi daripada per¬bedaan dalam aspek-aspek bahasa lainnya yang perlu dijelaskan.

Kita harus berhati-hati dengan perbedaan yang jelas ini. Pertama, kurangnya acuan kepada perbedaan sintaksis dalam literatur dapat disebabkan oleh kesulitan dalam meneliti perbedaan tersebut, karena perbedaan itu relatif jarang terjadi dalam ujaran biasa dan sulit dijelaskan secara langsung jika dibanding dengan unsur kosakata. Kedua, stabilitas sintaksis mungkin merupakan sebuah ilusi karena unsur-unsur sintaksis (yaitu konstruksi kalimat) relatif sedikit jika dibanding dengan unsur-unsur kosakata, sehingga meskipun proporsi unsur sintaksis yang sama telah berubah, namun jumlahnya tetap kecil. Ketiga, meskipun terdapat perbedaan antara sintaksis dan aspek-aspek bahasa lainnya, namun perbedaan ini tetap merupakan hasil dari proses standardisasi. Namun demikian, sintaksis tampak cenderung seragam jika dibanding dengan aspek-aspek bahasa lain, dan keseragaman ini sulit dijelaskan.

Bukti untuk pandangan tersebut datang dari dua sumber. Unsur-unsur sintaksis disebarkan secara umum melewati batas-batas ‘ba-hasa’ ke daerah-daerah terdekat. Misalnya, tiga bahasa yang berdekatan di negara-negara Balkan (bahasa Bulgaria, Romania, dan Al¬bania) semua memiliki ciri kata sandang atau artikel berimbuhan.

Ciri bersama ini hanya dapat dijelaskan melalui difusi atau penyebaran pada masa lalu (setidaknya sejak jaman bahasa Latin, yang menurunkan bahasa Romania). Ciri-ciri ini menyebar melewati batas-batas bahasa sebagai akibat dari bilingualisme, dan munculnya ciri-ciri sin¬taksis di antara ciri-ciri daerah mungkin disebabkan oleh kecenderung di antara para dwibahasawan untuk menghapuskan konstruksi kalimat guna menghadapi hubungan sintaksis tertentu dalam salah satu bahasa mereka, sehingga menimbulkan penyebaran ciri sintaksis yang digunakan dalam bahasa lain. Penyebaran unsur-unsur sintaksis ini agak sulit dipahami, karena sintaksis pada umumnya tampak relatif kuat tahan terhadap perubahan.

Bukti lain terhadap pendapat bahwa kita secara aktif menghapus¬kan altematif-altematif dalam sintaksis dilaporkan oleh John Gumperz dan Robert Wilson (1971) dari Kupwar, sebuah desa kecil di India yang 3.000 pendudukannya berbicara tiga bahasa Marathi dan Urdu, yang merupakan bahasa Indo-Eropa, dan Kannada, yang bukan merupakan bahasa Indo-Eropa (Sejumlah kecil orang juga ber¬bicara bahasa keempat, Telugu, yang bukan merupakan rumpun ba¬hasa Indo-Eropa).

Seperti biasanya di India, desa itu dibagi ke dalam sejumlah kelompok atau kasta yang berbeda, dan masing-masing kasta ini dapat dikenali melalui bahasanya. Namun, kasta-kasta yang berbeda ini perlu saling berkomunikasi dan bilingualisme (atau trilingualisme) merupakan hal yang lazim di antara para anggota kasta.

Bahasa-bahasa hidup berdampingan seperti ini selama berabad-abad, tetapi semua bahasa ini tetap berbeda dalam kosakata. Gumperz dan Wilson menegaskan bahwa latar belakang perbedaan ini adalah bahwa perbedaan bahasa berfungsi sebagai simbol perbedaan kasta, yang dipertahankan dengan sangat ketat.

Dengan demikian, kosakata memainkan peran dalam membedakan kelompok-kelompok sosial, na¬mun dalam sintaksis, ketiga bahasa utama itu telah menjadi lebih sama di Kupwar daripada di daerah lain. Misalnya, dalam bahasa Kannada standar, kalimat seperti Tukang pos itu adalah sahabat saya tidak mengandung kata untuk “adalah”, sedangkan dalam bahasa Urdu dan Marathi kata itu ada; tetapi dalam bahasa Kannada di Kupwar ada kata untuk “adalah” menurut contoh bahasa Urdu dan Marathi. Con¬toh ini sesuai dengan hipotesis kita bahwa altematif-alternatif dalam sintaksis cenderung dibuang, sedangkan alternatif-altematif dalam kosa¬kata dan pelafalan cenderung lebih disukai dan digunakan sebagai tanda perbedaan sosial. Tampaknya tidak ada contoh hubungan yang sebaliknya, di mana kosakata dan pelafalan kurang memperlihatkan variasi jika dibanding dengan sintaksis dalam suatu masyarakat.

Di sini ada satu hipotesis yang sangat tentatif tentang jenis-jenis unsur bahasa yang berbeda dan hubungannya dengan masyarakat. Menurut hipotesis ini, sintaksis adalah tanda kepaduan dalam masya¬rakat, di mana individu-individu berusaha menghilangkan alternatif-altematif dalam sintaksis dari bahasa mereka. Pendapat Wolfram bahwa perbedaan sintaksis cenderung bersifat kualitatif bukan kuantitatif tampak mendukung pandangan ini. Sebaliknya, kosakata merupakan tanda pembagian dalam masyarakat, dan individu-individu secara aktif mempertahankan altematif-alternatif untuk membuat perbedaan sosial lebih tidak kentara. Sementara itu, pelafalan mencerminkan kelompok sosial permanen yang diakui oleh pemakai bahasa.

Hal ini menimbulkan kecenderungan di antara individu-individu untuk menghilangkan alternatif-alternatif. Akan tetapi, berbeda dengan kecenderungan dalam sintaksis, kelompok-kelompok yang berbeda menghilangkan berbagai aiternatif yang berbeda untuk membedakan diri mereka dengan kelompok-kelompok lain, dan individu-individu tetap menghidupkan beberapa alternatif agar mampu mengenali asal usul mereka sendiri dengan lebih tepat, dengan menggunakan alternatif-alternatif itu dalam proporsi tertentu yang berhubungan dengan altematif-alternatif lain.
(Hudson, 1980: 49)

D. Tugas
Setelah mempelajari rangkuman materi di atas, Anda kerjakan tugas-tugas berikut ini!
1. Carilah dua buah buku di perpustakaan di sekitar tempat tinggalmu yang menjelaskan tentang dialek dan register!
2. Catat hasil pekerjaanmu dan diskusikan dengan teman sejawat yang terdekat!
3. Berdasarkan diskusi, simpulkanlah hasilnya dan kirimkan ke Dosen pengampu matakuliah sosiolingustik!

E. Tes Formatif
1. Jelaskan definisi dialek dan berikan contoh-contohnya!
2. Jelaskan definisi register dan berikan contoh-contohnya!
3. Jelaskan definisi diglossia dan berikan contoh-contohnya!
4. Urutkan yang termasuk jenis-jenis unsur bahasa!

F. Kunci Jawaban
1. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan penutur dan disebabkan variasi itu yang pemilihannya berkaitan erat dengan asal-usul penutur itu.
2. Apabila setiap penutur mempunyai seperangkat variasi dan ia menggunakan setiap variasi itu pada waktu yang berlainan.
3. Suatu situasi bahasa yang relatif stabil sebagai sarana untuk menulis literatur yang dipelajari secara luas melalui pendidikan formal dan di¬gunakan untuk kepentingan lisan dan tulisan formal, tetapi tidak digunakan oleh lapisan masyarakat manapun untuk percakapan biasa.
4. morfologi, sintaksis, dan kosakata

G. Lembar Kerja
1. Amatilah suatu masyarakat bahasa di sekitar Anda dan catat bahasa-bahasa yang digunakannya!
2. Gunakan lembar pengamatan di bawah ini!

Lokasi Pengamatan : …………………
Waktu Pengamatan : …………………
No. variasi bahasa Contoh simpulan
1. dialek regional
2. isogloss
3. dialek sosial
4. register
5. diglossia
3. Hasil dari pengamatan tersebut diskusikanlah dengan teman sejawat dan bandingkan hasilnya!
4. Simpulkanlah dan laporkan hasilnya berdasarkan keputusan dalam diskusi!
KEGIATAN BELAJAR 4
BAHASA, UJARAN, DAN PIKIRAN

A. Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, mahasiswa memahami konsep bahasa dan aspek-aspek budaya lain, ujaran dan inferensi, ujaran dan sosialisasi, serta bahasa dan sosialisasi

B. Indikator Hasil Belajar
1. Mahasiswa mampu mendeskripsikan aspek bahasa dan aspek budaya lain dengan tepat.
2. Mahasiswa mampu membedakan ujaran dan inferensi dengan tepat.
3. Mahasiswa mampu membedakan ujaran dan sosialisasi dengan tepat.
4. Mahasiswa mampu membedakan bahasa dan sosialisasi dengan tepat.

C. Rangkuman Materi
1. Bahasa dan Aspek-Aspek Budaya lain
Sekarang kita beralih ke pertanyaan “determinisme bahasa”. Sejauh mana dan bagaimana bahasa menentukan pikiran? Pertanyaan ini biasanya dijawab dengan mengacu kepada Hipotesis Sapir – Whofr, yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi atau menentukan pikiran dalam berbagai cara. Namun demikian, ada beberapa aspek hubungan lain antara bahasa atau ujaran dan pikiran.

Hubungan pertama yang terjalin adalah antara bahasa dan aspek-aspek budaya lain. Jika unsur-unsur bahasa dipelajari dari orang lain, maka unsur-unsur itu merupakan satu bagian dari kebudayaan secara keseluruhan dan mungkin berhubungan erat dengan aspek-aspek budaya lain yang dipelajari dari orang yang sama. Oleh karena itu, kita dapat memperkirakan bahwa jika orang tertentu mempelajari dua unsur bahasa dari kelompok-kelompok orang yang berbeda, maka setiap unsur itu dapat dihubungkan dengan sekumpulan keyakinan dan nilai yang berbeda. Selain itu, tidaklah mengherankan jika setiap unsur menghidupkan sejumlah keyakinan dan nilai yang berbeda saat unsur itu digunakan. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bah¬wa bahasa menentukan pikiran.

Tentunya terdapat bukti yang menunjukkan bahwa hubungan ini terjadi, sebagaimana ditunjukkan oleh perilaku sejumlah wanita Jepang yang lahir di Jepang dan pindah ke Amerika Serikat sebagai istri mantan tentara Amerika dan belajar bahasa Inggris di sana. Para wa¬nita ini mengambil bagian dalam sebuah eksperimen yang dipimpin oleh Susan Ervin-Tripp (1954, 1964).

Setiap wanita ini diwawancarai sekali dalam bahasa Inggris dan sekali dalam bahasa Jepang serta diminta untuk melakukan berbagai tugas yang melibatkan penggunaan bahasa secara kreatif. Perbedaan tampak di antara mereka ketika mereka diminta untuk menceritakan apa yang terjadi dalam sebuah lukisan yang memperlihatkan sebuah tanah pertanian, dengan seorang petani yang sedang membajak di latar belakang/ seorang wanita yang bersandar ke pohon, dan seorang gadis yang latar depan yang memegang buku sosiologi.

Dalam wawancara bahasa Jepang, seorang wanita Jepang menafsirkan gambar itu adalah “Seorang mahasiswi merasa bingung untuk pergi kuliah. Ibunya sakit dan ayahnya bekerja keras tanpa imbalan uang yang cukup. Namun, ayahnya tetap tekun bekerja tanpa banyak bicara, sambil berdoa untuk keberhasilan putrinya. la juga seorang suami yang tidak pernah mengeluh kepada istrinya”.

Sementara itu, ketika wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris, wanita yang sama memberikan deskripsi: “Seorang mahasiswi sosiologi yang sedang mengamati para petani bekerja terheran-heran oleh sulitnya kehidupan petani”.

Tentunya penelitian ini bukan merupakan landasan yang memuaskan untuk menarik berbagai kesimpulan, karena tidak ada kejelasan bagaimana para wanita itu memperlihatkan perubahan sikap yang besar dari satu bahasa ke bahasa lain, atau berapa banyak tugas yang telah menghasilkan perubahan. Namun demikian, penemuan ini setidaknya sejalan dengan hubungan antara antara bahasa dan aspek-aspek budaya lainnya.

2. Ujaran dan Inferensi
Hubungan berikutnya adalah antara ujaran dan apa yang kita sebut sebagai ‘inferensi, yang dimaksudkan untuk mencakup semua as-pek pikiran yang tidak tercakup oleh memori. Dalam beberapa hal, ujar¬an pasti mempengaruhi inferensi dengan membuatnya lebih mudah atau lebih sulit. Dalam hal ini, ujaran berlaku sebagai sebuah alat. Misalnya, sebagian besar kita mungkin setuju bahwa kita menggunakan ujaran untuk membantu kita jika kita harus melakukan perhitungan yang rumit dalam kepala kita, seperti mengalikan dua bilanganyang tidak ada dalam memori kita. Begitu pula, banyak orang berbicara sendiri ketika mereka harus memecahkan satu masalah rumit. Tentunya nilai ujaran sebagai sebuah alat akan lebih jelas jika inferensi dilakukan secara kooperatif, karena ujaran memungkinkan dua orang atau lebih untuk menyepakati suatu perumusan masalah dan kemudian membicarakan pemecahannya.

Hubungan antara ujaran dan inferensi ini tidak memerlukan bukti pendukung, meskipun terdapat bukti bahwa pengaruh ujaran terhadap pikiran inferensial lebih terasa. Ujaran yang digunakan dalam merumuskan sebuah masalah mungkin memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kemampuan kita untuk memecahkannya. Relevansi antara kemampuan ini dan sosiolinguistik mungkin tidak jelas, tetapi relevansi ini menjadi lebih jelas bila kita mengingat bahwa salah satu fungsi sosial ujaran adalah untuk memecahkan masalah, yaitu memungkinkan membicarakan suatu masalah dengan orang lain. Seringkali pemecahan muncul dari pembicaraan tentang masalah, bukan dari saran tertentu yang diberikan oleh orang lain. Dengan kata lain, pembicaraan tentang suatu masalah membantu kita melihatnya de-ngan lebih jelas.

3. Ujaran dan Sosialisasi
Titik hubungan lain antara ujaran dan pikiran adalah penggunaan ujaran itu oleh generasi tua untuk mewariskan budayanya kepada generasi yang lebih muda. Dengan kata lain, ujaran adalah sebuah alat sosialisasi, yaitu proses yang mengubah anak-anak menjadi anggota masyarakat yang memliki kompetensi. Memang tidak semua kebudayaan diwariskan melalui ujaran. Misalnya terdapat banyak aspek perilaku yang hanya dipelajari melalui pengamatan seperti bagaimana berjalan, bagaimana tertawa dan bagaimana memberi isyarat.

Tentu¬nya kita dapat mengatakan bahwa sebagian besar bahasa dipelajari de¬ngan cara seperti ini, karena ujaran biasanya tidak digunakan sebagai alat untuk, menanamkan pengetahuan tentang bahasa, tetapi sebagai model untuk ditiru. Namun demikian, banyak kebudayaan yang di¬wariskan secara verbal, dan konon bahwa pengembangan bahasa oleh spesies manusia telah memungkinkan ‘evolusi biologis’ yang terjadi pada gen untuk digantikan sebagai faktor dominan dalam perkembangan kita oleh ‘evolusi budaya’ yang berlangsung dalam pikiran kita.

Selanjutnya ada satu hal menarik yang perlu diperhatikan, yaitu bahwa individu-individu menggunakan cara-cara yang berbeda dalam menggunakan ujaran dalam sosialisasi. Dalam konteks ini, perbedaan itu tidak berhubungan dengan “bagaimana sesuatu dikatakan” te¬tapi dengan “apa yang dikatakan”. Dalam kaitannya dengan subjek so¬sialisasi yang paling jelas, yaitu anak-anak, bukti menunjukkan bahwa para orang tua, terutama ibu, menggunakan ujaran yang berbeda da¬lam mensosialisasikan anak-anak mereka. Bukti ini berasal dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Basil Bernstein (1969) dan oleh Robert Hess Chicago (1972). Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah bahwa para ibu dari kelas sosial yang berbeda menggunakan ujaran yang berbeda dalam sosialisasi. Jika benar, maka hipotesis ini diharapkan memberikan penjelasan tentang perbedaan di antara anak-anak dari kelas sosial yang berbeda dalam cara mereka menggunakan ujaran.

Selain itu, perbedaan seperti itu mungkin pula ditemukan dalam peranan yang dimainkan oleh ujaran dalam sosialisasi atau pergaulan di antara budaya-budaya yang berbeda. Misalnya, suku Gonja di Afrika Barat memandang “bertanya” sebagai cara untuk memaksakan kekuasaan kepada orang lain, sehingga bertanya dianggap tidak sesuai bagi seorang siswa untuk mengajukan pertanyaan kepada seorang guru. Contoh seperti ini menunjukkan bagaimana tuntutan satu aspek so¬sialisasi dapat bertentangan dan tuntutan aspek lain.

4. Bahasa dan Sosialisasi
Ujaran adalah satu faktor penting dalam sosialisasi; ujaran tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi tetapi juga untuk memberikan konsep-konsep sebagai makna bagi unsur-unsur bahasa yang dipelajari oleh seorang individu dari ujaran individu lain. De¬ngan kata lain, bahasa yang dipelajari oleh seorang individu berhu¬bungan erat dengan konsep-konsep yang ia pelajari sebagai bagian dari sosialisasinya. Sekarang pertanyaan yang muncul adalah apakah bahasa dapat dikatakan mempengaruhi konsep-konsep ini, atau ha¬nya mencerminkan konsep-konsep tersebut.

Di sini kita dapat memastikan bahwa beberapa konsep tidak bergantung pada bahasa, konsep-konsep yang kita pelajari sebagai bayi sebelum kita menguasai bahasa hingga akhir tahun pertama kehidupan kita, dan konsep-konsep lain yang dibentuk kemudian, tetapi tanpa mengacu kepada bahasa karena pada saat itu kita tidak mempunyai kata-kata untuk berbagai konsep dalam kosakata orang dewasa. Misainya, kita mempunyai sebuah konsep untuk jenis-jenis barang yang kita beli di warung, tetapi kita tidak punya nama untuk setiap konsep itu. Apakah ada nama atau tidak untuk konsep-konsep ini tampak kurang berhubungan dengan kemampuan kita untuk mempelajari konsep-konsep tersebut.

Kita juga dapat melihat persamaan antara paku, skrup, paku keling, mur, dan bauf. Semua benda itu memiliki fungsi serupa dan mungkin disimpan di tempat yang sama, tetapi tidak ada nama untuk konsep ini. Contoh seperti ini dapat diperluas dan mencegah kita untuk berasumsi bahwa konsep-konsep itu hanya ada bila ada bukti bahasa tertentu untuk konser-konsep tersebut.

Di lain pihak, kita juga dapat memastikan dan merasa yakin bahwa terdapat konsep-konsep lain yang tidak perlu kita miliki dalam kaitannya dengan bahasa. Sebagian besar kasus adalah kasus yang berhu¬bungan dengan bahasa sebagai fenomena. Konsep ’bahasa’, ‘makna’, ’kata’ dan lain-lain. Namun ada konsep-konsep lain yang kita pelajari setelah kita mempelajari nama konsep itu, dan kita menjadikan nama itu sebagai bukti utama. Misalnya, seorang ibu berkata kepada anaknya yang berusia 5 tahun, “Kita harus selalu menutup pintu, agar lalat tindak masuk. Lalat membawa bibit penyakit ke dalam rumah.” Ketika anak itu ditanya apa yang dimaksud dengan bibit penyakit, ia hanya menjawab “Sesuatu yang bermain dengan lalat.” Contoh ini menggambarkan cara suatu kata baru berlaku sebagai bukti bahwa konsep yang tidak dikenal itu memang ada.

Selain itu, kita mempelajari banyak konsep melalui pembicaraan tentang konsep-konsep itu, terutama selama pendidikan formal kita, sehingga kita mempelajarinya melalui bahasa, sehingga bahasa menjadi alat bantu pengajaran yang paling penting bagi guru. Pada akhirnya, kita dapat mengatakan bahwa bahasa memainkan peranan yang lebih penting dalam mempelajari beberapa konsep daripada konsep-konsep lain, dan prinsip umum yang dapat dirumuskan adalah bah¬wa menjadi semakin penting bila konsep-konsep itu menjadi semakin abstrak.

D. Tugas
Setelah mempelajari rangkuman materi di atas, Anda kerjakan tugas-tugas berikut ini!
1. Carilah dua buah buku di perpustakaan di sekitar tempat tinggalmu yang menjelaskan bahasa dan aspek-aspek budaya lain, ujaran dan inferensi, ujaran dan sosialisasi, serta bahasa dan sosialisasi!
2. Catat hasil pekerjaanmu dan diskusikan dengan teman sejawat yang terdekat!
3. Berdasarkan diskusi, simpulkanlah hasilnya dan kirimkan ke Dosen pengampu matakuliah sosiolingustik!

E. Tes Formatif
1. Jelaskan hubungan bahasa dengan aspek-aspek budaya lain disertai contoh-contohnya!
2. Jelaskan hubungan ujaran dengan inferensi disertai contoh-contohnya!
3. Jelaskan hubungan ujaran dengan sosialisasi disertai contoh-contohnya!
4. Jelaskan hubungan bahasa dengan sosialisasi disertai contoh-contohnya!

F. Kunci Jawaban
1. Unsur-unsur bahasa dipelajari dari orang lain, maka unsur-unsur itu merupakan satu bagian dari kebudayaan secara keseluruhan dan mungkin berhubungan erat dengan aspek-aspek budaya lain yang dipelajari dari orang yang sama.
2. Pada dasarnya ujar¬an mempengaruhi inferensi dengan membuatnya lebih mudah atau lebih sulit, maka ujaran berlaku sebagai sebuah alat.
3. Penggunaan ujaran oleh generasi tua untuk diwariskan budayanya kepada generasi yang lebih muda. Jadi, ujaran adalah sebuah alat sosialisasi, yaitu proses yang mengubah anak-anak menjadi anggota masyarakat yang memliki kompetensi.
4. Bahasa yang dipelajari oleh seorang individu berhu¬bungan erat dengan konsep-konsep yang ia pelajari sebagai bagian dari sosialisasinya.

G. Lembar Kerja

1. Perhatikanlah gambar di bawah ini!

2. Jelaskan situasi berbahasa yang digunakan dalam acara perkawainan seperti contoh gambar di atas!
3. Diskusikan dengan teman sejawat kegiatan berbahasa dalam situasi perkawainan di daerah Anda!

KEGIATAN BELAJAR 5
UJARAN SEBAGAI INTERAKSI SOSIAL

A. Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, mahasiswa memahami konsep sifat sosial ujaran, fungsi ujaran, ujaran sebagai keterampilan, norma-norma yang mengatur ujaran, dan struktur ujaran dengan benar.

B. Indikator Hasil Belajar
1. Mahasiswa mampu mendeskripsikan sifat sosial ujaran dengan tepat.
2. Mahasiswa mampu mendeskripsikan fungsi ujaran dengan tepat.
3. Mahasiswa mampu mendeskripsikan ujaran sebagai keterampilan dengan tepat.
4. Mahasiswa mampu mendeskripsikan norma-norma yang mengatur ujaran dengan tepat.
5. Mahasiswa mampu mendeskripsikan struktur ujaran dengan tepat.

C. Rangkuman Materi
1. Sifat Sosial Ujaran
Ujaran yaitu rangkaian unsur bahasa yang pendek atau panjang yang digunakan dalam berbagai kesempatan yang berbeda untuk tujuan-tujuan yang berbeda. Istilah ujaran ini mencakup wacana lisan dan wacana tertulis, tetapi hanya akan membahas apa yang disebut ‘interaksi langsung’ (face-to-face interaction), atau apa yang terjadi ketika seseorang berbicara kepada orang lain yang dapat ia lihat dan yang cukup dekat untuk mendengarnya. Meskipun kita tidak akan membahas semua jenis komunikasi impersonal seperti media massa (meskipun media massa menjadi sangat penting dalam kehidupan mo¬dern), namun pembahasan tentang ujaran ini masih mencakup berbagai jenis aktivitas lain: percakapan, pertengkaran, canda, pertemuan panitia, wawancara, bujuk rayu, perkenalan, ejekan, dan lain-lain.

Salah satu pertanyaan yang harus kita ajukan berkaitan dengan keseimbangan antara askpek sosial dan aspek individual. Bagi bahasa, keseimbangan itu contoh ke arah aspek sosial karena individu-individu mempelajari bahasa mereka dengan saling menyimak di antara me¬reka. Bahasa setiap individu juga mempunyai ciri khas tersendiri atau bersifat unik karena tidak ada dua orang yang memiliki pengalaman bahasa yang sama. Bagiamana dengan keseimbangan dalam ujaran?

Ferdinand de Sauissure menyatakan bahwa ujaran bersifat individual. Jenis pemarkah ketiga adalah tingkat kosakata. Contoh pemarkah ini dapat ditemukan dalam bahasa Jawa (Geertz I960), yang memberikan berbagai bentuk alternatif. Tetapi alternatif-alternatif ini tidak terbatas pada kata kerja, tetapi mempengaruhi setiap bagian ujaran. Misalnya, Geertz memberikan bentuk-bentuk alternatif untuk kalimat ba¬hasa Jawa yang berarti, “Apakah kamu mau makan nasi atau singkong sekarang?” (Are you going to eat rice and cassava now?), dan membuktikan bahwa terdapat dua atau tiga kata yang berbeda dalam bahasa Jawa untuk setiap kata bahasa Inggris. Geertz menyatakan bahwa terdapat pembatasan-pembatasan yang jelas pada kata-kata yang sepadan dalam kalimat yang sama, dan ia menemukan enam ‘tingkatan gaya’. Fungsi tingkatan gaya ini adalah untuk menandakan hubungan kekuasaan solidaritas antara pembicara dan lawan bicara.

Ada satu hal penting lain yang berkaitan dengan tanda-tanda bahasa dalam hubungan kekuasaan-solidaritas, yaitu bahwa tanda-tanda itu seringkali tidak terbatas sebagai pemarkah hubungan antara pembicara dan lawan bicara, tetapi juga pemarkah hubungan antara pembicara dan objek lain. Misalnya, jika pembicara memandang lawan bicara memiliki kekuasaan yang lebih tinggi atau lebih rendah, maka ia akan menggunakan istilah-istilah tertentu sesuai dengan ke¬kuasaan mereka. Akan tetapi, jika pembicara memandang lawan bicaranya termasuk ke dalam kategori pertengahan, maka tidak ada kepastian untuk menyebut lawan bicara itu. Selain itu, juga tidak ada kepastian mengenai penggunaan bentuk acuan jika orang yang dibicarakan oleh si pembicara tidak berada di handapannya. Hal ini perlu dikemukakan karena hubungan kekuasaan-solidari¬tas antara pembicara dan lawan bicara dapat dipandang sebagai kasus khusus dari fenomena yang lebih umum.

Kita memahami bahwa ujaran sangat penting dalam sejumlah aktivitas sosial, termasuk sosialiasi, sehingga kita hampir tidak perlu menekankan pentingnya ujaran dalam kehidupan sosial. Ujaran memungkinkan kita untuk saling berkomunikasi, dan karena komunikasi merupakan sebuah aktivitas sosial, maka ujaran pun dapat dikatakan sebagai aktivitas sosial. Meskipun pernyataan ini benar, ini tidak berhubungan langsung dengan pernyataan Saussure tentang ujaran, karena ia mengacu kepada pengetahuan yang terkait dengan ujaran.

Pernyataan yang kita kemukakan menyangkut peng¬gunaan ujaran dalam kaitannya dengan aktivitas sosial, dan menegaskan bahwa ujaran tidak melibatkan pembatasan sosial. Pembatasan sosial hanya berlaku pada bahasa. Oleh karena itu, apa yang perlu kita buktikan adalah bahwa terdapat sejumlah pembatasan sosial pada ujaran.

Tampak jelas bahwa terdapat banyak pembatasan sosial yang mungkin berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Misalnya, di Inggris kita harus menjawab ketika seseorang memberikan salam kepada kita. Bila kita menyebut seseorang, maka kita dituntut untuk memperhatikan apa yang sudah diketahui oleh lawan bicara tentang orang itu. Ketika kita menyapa seseorang, kita harus memilih kata-kata dengan hati-hati untuk menunjukkan hubungan sosial kita de¬ngan orang itu. Ketika orang lain sedang berbicara, kita harus diam (tetapi tidak membisu). Namun, pembatasan yang sama tidak berlaku dalam semua masyarakat. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan jenis-jenis pembatasan yang diberlakukan oleh masyarakat di mana kita tinggal, dan menghubungkannya dengan apa yang kita lakukan sebagai individu.

Hal lain yang menjadi tampak jelas adalah bahwa perbedaan antara ‘bahasa’ dan ‘pembatasan sosial pada ujaran’ dapat dilihat de¬ngan jelas, karena banyak pembatasan mengacu kepada unsur-unsur bahasa. Oleh karena itu, pembatasan-pembatasan ini dapat diperlakukan sebagai bagian dari bahasa, bersama dengan apa yang kita ketahui tentang makna. Hal ini tidak mengherankan karena banyak unsur bahasa mengandung makna yang mengacu secara khusus kepada aspek-aspek peristiwa ujaran di mana unsur-unsur itu digunakan, terutama unsur-unsur yang memiliki makna deiktis yang mengacu kepada pembicara, lawan bicara, waktu bicara dan tempat bicara. Selain itu, kita mengetahui bahwa banyak unsur bahasa seringkali dibatasi dalam penggunaannya pada keadaan sosial tertentu. Misalnya, kata /kamu/ hanya digunakan dalam situasi akrab atau intim. Selanjutnya kita dapat berasumsi bahwa pembatasan-pembatasan sosial pada ujaran tidak hanya berlaku pada ujaran, tetapi juga pada berbedaan yang jelas antara ‘bahasa’ dan aspek-aspek pikiran lain, terutama dalam soal makna. Istilah umum untuk aspek-aspek perilaku yang diperlihatkan oleh individu-individu untuk saling memberikan pengaruh dan reaksi adalah “interaksi sosial”, dan ujaran hanya merupakan satu aspek dari perilaku tersebut aspek-aspek perilaku ini dapat dianalisis dan dikelompokkan ke dalam sejumlah kategori atau dimensi.

Setiap aspek memainkan peranana tersendiri dalam interaksi sosial, meskipun aspek-aspek itu saling terkait. Penelitian tentang ujaran sebagai bagian dari iteraksi sosial melibatkan banyak disiplin ilmu, termasuk psikologi sosial, sosiologi, antropologi, etologi, filsafat, intelegensi buatan (ilmu tentang intelegensi manusia melalui simulasi komputer), sosiolinguistik dan linguistik. Salah satu kontribusi paling penting telah diberikan oleh para antropolog yang terlibat dalam apa yang disebut Etnografi Komunikasi, satu bidang ilmu yang didominasi oleh karya-karya Dell Hymes.

2. Fungsi Ujaran
Peranan apa yang di mainkan oleh ujaran dalam interaksi sosial? Tidak ada jawaban yang sederhana untuk pertanyaan ini, karena ujar¬an memainkan banyak peranan yang berbeda dalam kesempatan atau situasi yang berbeda. Antropolog Broinslav Malinowski (1923) menyatakan bahwa ‘dalam penggunaannya yang sederhana, bahasa berfungsi sebagai penghubung dalam aktivitas umum manusia, sebagai sebuah bentuk perilaku manusia. Bahasa adalah sebuah bentuk tindakan dan bukan merupakan alat berpikir’. Sementara itu, ujaran berfungsi sebagai kontrol atas aktivitas fisik manusia, yang berbeda dengan fungsinya dalam suatu ceramah di mana ujaran ditujukan untuk mempengaruhi pikiran pendengar.

Fungsi lain dari ujaran adalah untuk menjalin atau mempererat hubungan sosial. Selain itu, kita dapat menambah fungsi ujaran untuk memperoleh informasi, untuk mengungkapkan emosi atau perasaan dan lain-lain. Meskipun kita tidak perlu mengembangkan klasifikasi fungsi ujaran, ini perlu disebutkan. Pendekatan ini didasarkan pada tindak ujaran, yang dikembangkan terutama oleh para filosof dan linguis setelah filosof Inggris J.L. Austin. Austin (dalam Lyons 1997) menegaskan bahwa kajian makna tidak perlu berfokus pada pernyataan-pernyataan yang sudah jelas, seperti “Salju itu putih”, karena bahasa digunakan dalam ujaran untuk berbagai fungsi lain. Ketika kita berbicara, kita menyampaikan saran, janji, undangan, permintaan, larangan, dan lain-lain. Dalam beberapa hal, kita menggunakan ujaran untuk melakukan suatu tindakan (sebagaimana dikemukakan oleh Malinow¬ski), dalam arti bahwa ujaran itu sendiri adalah tindakan yang dilaporkannya misalnya, “Saya namakan kapal ini Bahtera Jaya” harus diucapkan jika penamaan itu ingin dilakukan. Kepingan-kepingan ujaran itu disebut ucapan Performatif (Performative Utterance). Di sini tampak bahwa sebuah konsep tentang semua fungsi ujaran harus dirumuskan menurut sebuah teori umum aktivitas sosial.

Tindak ujaran adalah sepotong ujaran yang dihasilkan sebagai bagian dari sebuah interaksi sosial. Kebudayaan kita memiliki banyak konsep untuk mengelompokkan kepingan-kepingan interaksi sosial, yang mencerminkan pentingnya interaksi sosial dalam masyarakat. Misalnya, kita membedakan antara “bekerja” dan “bermain”, antara “bermain” dan “berkelahi” dan lain-lain. Terdapat banyak konsep budaya, dengan label bahasa, untuk berbagai jenis tindak ujaran, dan kajian entang tindak ujaran ini tampak diarahkan pada makna tindak ujaran itu sendiri atau makna istilah yang digunakan. Misalnya apa yag dimaksud dengan istilah ‘janji’.

3. Ujaran Sebagai Keterampilan
Kita telah melihat bahwa ujaran cukup penting bagi masyarakat sehingga ujaran diperlakukan secara khusus dalam setiap kebudayaan sebagai sebuah objek yang harus diklasifikasikan dan dibicarakan. Pengamatan ini tidak menunjukkan bahwa ujaran memiliki karakteristik sosial menurut pengertian Saussure, karena ada kemungkinan bahwa kategori-kategori yang diakui dalam kehidupan sosial hanya menjelaskan dan bukan menentukan cara penggunaan ujaran dalam masya¬rakat. Dengan kata lain, jika seseorang ingin mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan satu kategori, maka kategori itu tidak akan menghalangi dia untuk mengatakannya.

Sekarang kita beralih ke konsep ujaran yang lebih terbatas, yaitu konsep ujaran sebagai sebuah “keterampilan”. Ujaran disebut keterampilan karena ujaran memerlukan usaha dan tingkat keberhasilannya bergantung pada usaha yang dilakukan. Selain itu, ujaran menurut pengetahuan tertentu yang diterapkan menurut banyaknya praktik yang dilakukan oleh seseorang. Jika kita meggabungkan kedua karak¬teristik ini, maka kita dapat memperkirakan bahwa ujaran mungkin lebih berhasil dalam waktu tertentu daripada dalam waktu lain, dan sejumlah orang mungkin lebih pada dalam ujaran daripada orang lain.
Jika ujaran merupakan sebuah keterampilan, maka hal yang sama juga berlaku bagi aspek-aspek interaksi sosial lain dalam komunikasi langsung (atau interaksi terfokus). Di sini kita dapat memandang peri¬laku individu dalam interaksi terfokus sejajar dengan keterampilan seperti mengemudi mobil (Argyle & Kendon 1967). Jika sejumlah orang mengemudi lebih baik dari orang lain, maka sejumlah orang juga akan lebih baik dalam interaksi sosial daripada orang lain, na¬mun ada dua keberatan. Pertama, keberhasilan dalam ujaran berbeda-beda menurut fungsinya dan aspek-aspek situasi lain. Dengan demikian, sejumlah orang terampil dalam perdebatan intelektual dan tidak terampil dalam obrolan santai. Kedua, tidak ada kejelasan tentang bagaimana keberhasilan diukur, kecuali menurut tujuan atau maksud pembicara. Misalnya, jika seorang tukang ngobrol (O) berlangsung dengan seseorang (A) yang biasa diam ketika orang lain berbicara, maka (O) mungkin berpikir bahwa (A) sangat tidak berhasil dalam berbicara, karena ia tidak memanfaatkan giliran bicaranya untuk mengisi kesenjangan. Akan tetapi, (A) mungkin merasa bahwa ujarannya sangat ber¬hasil (karena ia tidak memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan), dan merasa bahwa ujaran (O) adalah obrolan kosong yang tidak mengesankan. Tentunya, kedua keberatan di atas juga berlaku bagi aspek-aspek interaksi sosial lain.

Di sini kita perlu merinci jenis-jenis keterampilan tertentu yang diperlukan untuk keberhasilan ujaran, karena keterampilan-keterampilan itu mencakup semua keterampilan umum yang diperlukan untuk interaksi sosial dan semua keterampilan berbahasa khusus yang dikaitkan dengan penggunaan unsur-unsur bahasa. Keterampilan-keterampilan itu mungkin sangat khusus atau lebih umum. Barangkali kita dapat menyusun keterampilan-keterampilan ini ke dalam hirarki. Kita dapat menduga bahwa salah satu alasan mengapa sejumlah orang berujar dengan baik dalam sejumlah situasi adalah bah¬wa mereka telah mempelajari keterampilan yang sangat khusus untuk digunakan dalam situasi-situasi tersebut, tetapi dugaan ini tidak didukung oleh bukti. Dugaan ini juga menimbulkan pertanyaan sejauh mana keterampilan-keterampilan itu berkaitan dengan situasi tertentu. Misalnya Karen Watson-Gegeo dan Stephen Boggs (1977) telah membuktikan bahwa anak-anak di Hawaii dapat mengubah keterampilan yang biasanya digunakan untuk saling mengejek menjadi keterampiian mendongeng, yang tentunya merupakan satu situasi yang berbeda.

Sekarang kita dapat melihat dalam hal apa ujaran bersifat sosial. Aturan-aturan atau keterampilan-keterampilan untuk menggunakan ujaran itu pada umumnya dipelajari dari orang lain, seperti halnya kita mempelajari unsur-unsur bahasa. Misalnya, seseorang belajar bagaimana memperoleh tiket dari kondektur bis dengan cara memperhatikan dan mendengarkan orang lain yang melakukannya, seperti halnya seseorang belajar bagaimana merangkai berbagai kata benda dan kata kerja ke dalam kalimat dengan mendengarkan orang lain melakukannya.

Namun demikian, ada aspek sosial lain dalam ujaran yang berhubungan dengan ‘pekerjaan atau usaha’ dan bukan dengan keteram¬pilan, yaitu bahwa usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam ber¬ujar atau berbicara bergantung pada motivasi yang muncul dari hubungannya dengan orang lain. Psikologi sosial memberikan sejumlah teori untuk menjelaskan mengapa individu-individu mau melakukan upaya dalam interaksi sosial (dan juga mau terikat oleh berbagai jenis ikatan sosial). Tema pokok dalam teori-teori ini adalah bahwa seorang individu mau menerima tuntutan dari individu-individu lain karena ia menginginkan pengakuan dari orang lain.

Salah satu teori yang dikembangkan oleh sosiolog Erving Goffman, difokuskan pada ujaran dan dikaitkan dengan apa yang Goffman sebut sebagai Tace Work, yaitu cara seseorang mempertahankan ‘mukanya’ (dalam arti yang sama dengan “kehilangan muka”). Usaha ini dilakukan dengan memberikan citra yang baik atau konsisten kepada orang lain, tetapi seseorang bisa menjaga atau kehilangan muka dengan memperbaiki atau merusak citra ini. Semakin baik citra seseorang, semakin banyak orang lain yang mau menerimanya, tetapi resiko kehilangan muka sangat tinggi jika seseorang berharap banyak dari orang lain, terutama jika ia melakukan banyak kesalahan.

Ujaran adalah salah satu cara paling penting untuk mendorong orang lain menilai citra din seseorang, baik melalui perbuatan maupun perkataannya (Brown & Levinson 1978). Selain itu, sebagian besar orang ingin memperlihatkan citra yang baik kepada dunia, karena citra ini memungkinkan mereka menjadi terkenal dan hal ini me¬ngubah ujaran menjadi suatu aktivitas kerjasama, di mana seseorang berusaha keras membantu orang lain dalam menjaga citra dirinya. Bisanya kita berusaha untuk tidak membeberkan kelemahan orang lain kecuali kita merasa yakin bahwa pembeberan itu tidak akan mempengaruhi sikap orang lain terhadap kita atau kecuali kita tidak menghiraukan pendapatnya. Sebagai pendengar, kita berusaha keras untuk memahami apa yang dikatakan oleh orang lain. Tetapi sebagai pembicara, kita berusaha mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi oleh lawan bicara kita dalam memahami apa yang kita katakan. Tentunya, orang-orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengantisipasi bagaimana lawan bicara memahami pembicaraan, atau dalam menghindari kesalahpahaman yang mung¬kin terjadi, tetapi teori “face-worK” aan untuk memahami apa yang dikatakan oleh lawan bicara. Akibatnya dari kegagalan kerjasama dalam pembicaraan telah dipaparkan secara dramatis oleh Goffman (1957).

”Seseorang yang selalu membuat dirinya dan orang lain tidak nyaman dalam percakapan dan membunuh percakapan itu sendiri adalah partisipasi interaksi yang cacat; ia mungkin berpengaruh buruk terhadap kehidupan sosial di sekelilingnya, sehingga ia mungkin dapat disebut sebagai orang ‘cacat’.” Jika kita memandang ujaran dan interaksi sosial pada umumnya sebagai keterampilan, maka kita dapat mengatakan bahwa kegagalan yang seperti dipaparkan oleh Goffman itu disebabkan oleh tidak adanya motivasi atau keterampilan (atau keduanya). Sebagaimana kita ketahui, keterampilan dan motivasi bersumber dari masyarakat dimana seseorang hidup, dan kita dapat menyimpulkan bahwa de Saussure salah dalam memandang ujaran hanya sebagai aktivitas individu, yang tidak bergantung pada masyarakat.

4. Norma-norma yang Mengatur Ujaran
Keterampilan dalam berbicara bergantung pada berbagai faktor, termasuk pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang mengatur ujaran. Kaidah-kaidah itu bermacam-macam, yang menyangkut berbagai aspek ujaran, tetapi di sini kita hanya akan membahas beberapa contoh. Tentunya kaidah-kaidah ini berbeda-beda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, dan kita menyebut kaidah-kaidah ini sebagai “norma” karena menetapkan perilaku normal untuk masyarakat yang bersangkutan, tanpa dihubungkan dengan sangsi-sangsi tertentu bagi mereka yang tidak mematuhinya.

Pertama, ada norma-norma yang mengatur kuantitas ujaran yang dihasilkan oleh individu-individu, dari kuantitas yang sangat kecil hingga kuantitas yang sangat besar. Dell Hymes (I971b) mendeskripsikan sebuah masyrakat di mana ujaran yang sangat sedikit adalah norma. Peter Gardener (1966) melakukan sebuah penelitian lapangan … di sebelah selatan India, di antara para anggota suku Puliya, dan tidak ada pertanian dan industri, dan masyarakat tidak saling bekerjasama dan bersaing, sehingga anak-anak tidak dibimbing untuk saling bekerjasama atau saling bersaing, tatapi hanya menyibukkan mereka dengan urusan-urusan mereka sendiri. Gardener mengamati bahwa ketika seseorang berusia empat puluh tahun, ia hampir tidak ber¬bicara lagi. la tidak mempunyai alasan untuk bicara. Ternyata, masyarakat di sana tidak banyak bicara dan jarang tampak menemukan sesuatu untuk dibicarakan, dan Gardener memandang situasi ini sebagai akibat dari pola sosialisasi tertentu.

Kita dapat membandingkan masyarakat Puliya ini dengan masyarakat di Pulau Roti, sebuah pulau kecil di bagian timur Indonesia, yang dipaparkan oleh James Fox (1974). “Bagi seorang penduduk pulau Roti, kesenangan hidup adalah bercakap-cakap bukan hanya obrolan biasa yang menghabiskan waktu, tetapi juga pembicaraan yang lebih formal dalam perdebatan panjang, argumen atau berbalas pantun dalam upacara-upacara tertentu. Tidak adanya pembicaraan berarti adanya kesusahan. Mereka seringkali mengatakan bahwa jika hati mereka gundah atau bingung, mereka diam. Sementara itu, pergaulan dengan seseorang menuntut percakapan verbal yang aktif.”

Jenis norma lain mengatur jumlah orang yang berbicara bersamaan dalam satu percakapan. Sebagian besar kita mungkin dapat menerima prinsip bahwa dalam satu pecakapan, hanya satu orang yang seharusnya berbicara, tetapi tampaknya norma ini tidak universal. Hal ini dapat dilihat dalam percakapan di antara anggota masyarakat di sebuah desa di Antigua. Menurut Karl Reisman (2974), di desa ini dua orang atau lebih boleh berbicara sekaligus dalam suatu percakapan. Kemunculan suara seseorang untuk berbicara bukan merupakan tanda bahwa orang lain harus berhenti berbicara. Jika seseorang tidak didengar, maka ia akan terus mencoba. Akhirnya ia akan didengar atau menyerah. Selain itu, ada satu prinsip lain yang memungkinkan banyak interupsi dalam suatu percakapan. Jadi, jika seseorang sedang berbicara dengan orang lain tentang sebuah topik, maka ia dapat atau boleh melakukan tindak ujaran lain di dalam percakapan itu. Norma-norma lain mengacu kepada isi pembicaran. Misalnya, ‘prinsip kerjasama’ yang dikemukakan di atas mencakup beberapa norma yang menuntut agar seseorang memiliki informasi ketika berbicara. Akibatnya, seseorang harus menentukan acuan yang informatif secarmat mungkin. Dengan demikian, jika kita mengenal seseorang dan mengetahui namanya, maka kita tidak boleh mengatakan bahwa misalnya “ada seseorang di luar sana”. Tetapi norma ini tidak universal karena menurut Elinor Keenan (1977) norma ini dibuang dalam berbagai situasi percakapan di salah satu tempat di Madagaskar. Misalnya, seseorang menyebut adik perempuannya “gadis”. Jadi pembicara itu tidak bersifat informatif. Selanjutnya, misalkan A bertanya kepada B, “Di mana ibumu?” dan B menjawab “la ada di rumah atau di Pasar”, maka ucapan B ini biasanya tidak diartikan bahwa B tidak dapat memberikan informasi yang diperlukan oleh pendengar. Di sini, harapan pendengar untuk memenuhi kebutuhan informasinya bukan merupakan norma dasar.

Ada sejumlah alasan mengapa para pembicara tidak memberikan informasi yang memuaskan dalam masyarakat seperti ini. Pertama, mereka khawatir bahwa menyebutkan seseorang akan menjadi pusat perhatian orang jahat, atau membawa kesulitan bagi mereka. Kedua, informasi atau berita sangat terbatas di desa-desa terpencil, dan orang-orang lebih suka menyimpannya sendiri sebagai barang berharga. Akibatnya, tidak ada keinginan untuk memberikan informasi bila informasi itu tersedia bagi siapa saja. Misalnya, jika ada kukusan nasi di alas tungku, orang-orang lebih suka menyebutnya “nasi” ka¬rena siapa saja dapat mengetahui bahwa ada nasi di dalamnya. Jadi, norma-norma ujaran yang berbeda dalam masyarakat yang berbeda seringkali dapat dijelaskan dengan mengacu kepada aspek-aspek budaya lain, sehingga tidak dapat diteliti secara terpisah.

Tentunya masih ada norma-norma lain yang sangat khusus dan berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, seperti cara seseorang meminta karcis kepada kondektur bis, atau cara seorang pramusaji hotel atau restoran mempersilakan para tamunya untuk duduk, memesan, dan menikmati hidangan.

5. Struktur Ujaran
a. ‘masuk’ dan ‘ke luar’ dari interaksi

Kapan saja pola yang sering muncul ditemukan dalam perilaku tertentu, maka kita dapat mengatakan bahwa perilaku itu dibentuk oleh pola-pola itu. Tidak ada kesulitan dalam membuktikan bahwa ujaran terbentuk oleh pola-pola itu, karena tatabahasa dan kamus penuh dengan pola-pola atau kaiimat yang muncul berulang-ulang. Pola-pola yang relatif pendek ini, terkandung dalam kalimat, hanya merupakan satu bagian dari seluruh struktur ujaran, karena semua pola yang lebih panjang dapat diidentifikasi, seperti pola yang terdiri dari pertanyaan yang diikuti dengan jawaban, dan bahkan poa-pola yang lebih panjang seperti interaksi antara dua orang, dengan salam pada awal interaksi dan perpisahan pada akhir interaksi.

Kita dapat berasumsi bahwa setiap bahasa mencakup berbagai bentuk untuk digunakan sebagai “salam pertemuan” dan sebagai “sa¬lam perpisahan”, mengingat pentingnya ‘masuk’ dan ‘ke luar’ dan inter¬aksi. Erving Goffman (1955) menegaskan bahwa ucapan salam pertemuan diperlukan untuk membuktikan bahwa hubungan yang telah terjalin pada akhir pertemuan terakhir masih belum berubah meskipun perpisahan telah berlangsung, dan ucapan salam perpisahan diperlukan untuk ‘menyimpulkan’ pengaruh pertemuan terhadap hu¬bungan itu dan memperlihatkan apa yang diharapkan oleh masing-masing partisipan dalam pertemuan mereka selanjutnya.

Sejauh ini kita memahami bahwa hubungan di antara para partisipan dalam interaksi tertentu sangat menarik bagi mereka sendiri, dan mereka akan mengetahui dengan mudah mengapa penting bagi mereka untuk memulai dan mengakhiri satu bentuk interaksi dengan memper¬lihatkan hubungan mereka. Setelah hubungan mereka terjalin, mereka dapat melanjutkan keurusan mereka (mungkin obrolan kecil yang berlangsung kurang dari 5 menit). Perpisahan terjadi pada setelah urusan selesai untuk memestikan kembali bahwa hubungan di antara para partisipan tidak berubah.

b. Jenis-jenis Struktur Lain dalam Ujaran
Akhir-akhir ini sejumlah penelitian telah difokuskan pada aspek-aspek lain dari apa yang disebut “struktur wacana”, yaitu struktur ujaran di atas tingkat kalimat. Fakta yang paling jelas tentang struktur wacana ini adalah bahwa banyak jenis struktur masuk ke dalam wacana dan setiap usaha untuk mengubah struktur itu menjadi satu jenis struktur tetap menemui kegagalan.

Salah satu jenis struktur didasarkan pada fakta bahwa individu-individu mengambil giliran bicara dalam hampir semua bentuk interaksi, sehingga ujaran terbagi ke dalam untaian-untaian ujaran, yang digunakan oleh para pemakai bahasa yang berbeda. Dalam mengkaji aspek wacana ini, kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan se¬perti apakah ‘giliran bicara’ dilakukan secara berurutan atau saling tumpang tindih, bagaimana pembicara menunjukkan bahwa ia harus menyelesaikan pembicaraan, bagaimana pendengar menunjukkan bah¬wa ia siap memulai pembicaraan siapa yang lebih banyak bicara dan lain-lain. Penelitian tentang aspek wacana ini telah dilakukan oleh para psikolog sosial yang tertarik pada dinamika kelompok, dan penelitian membuktikan bahwa pengambilan giliran bicara merupakan aktivitas yang memerlukan keterampilan tinggi. Selain itu, pengam¬bilan giliran bicara ini melibatkan berbagai jenis perilaku dan ujaran.

Satu jenis struktur pengambilan giliran bicara (turn-talking) tertentu ditandai oleh “adjacency pair” (pasangan berdekatan), yaitu jenis ucapan dari seorang pembicara yang memerlukan jenis ucapan tertentu dari pembicara lain. Pasangan yang paling jelas adalah rangkaian pertanyaan yang diikuti oleh jawaban, tetapi terdapat banyak jenis pasangan lain, seperti ucapan salam+ ucapan salam, keluhan + permintaan maaf, panggilan + jawaban, undang + penerimaan, dan lain-lain. Namun tidak ada kejelasan apakah ada perbedaan antara pasangan berdekatan ini dan jenis-jenis perubahan pembicara lain. Beberapa ucapan menuntut reaksi dari lawan bicara, dan kegagalan untuk memberikan reaksi dipandang sebagai bentuk reaksi yang bermakna. Misalnya, jika A mengatakan /Halo/ kepada B tidak menjawab ucapan salam itu, maka A akan berpendapat bahwa B mempunyai alasan tertentu untuk tidak menjawab.

Jenis struktur kedua dalam wacana didasarkan pada topik, karena para pembicara seringkali mengubah topik di tengah-tengah pembicaraan mereka. Struktur berdasarkan topik ini adalah strukrur hirarkis, dalam arti bahwa sebuah wacana tertentu harus dapat diuraikan ke dalam unit-unit yang lebih kecil atas dasar topik. Struktur hirarkis ini biasanya dapat dilihat dalam berbagai tulisan. Misalnya, buku memiliki struktur hirarkis yang didasarkan pada topik, di mana bab merupakan unit yang paling besar.

Sementara itu, jenis struktur wa¬cana ketiga didasarkan pada apa yang kita tentang struktur dunia atau struktur ensiklopedik yang memberikan bentuk kepada apa yang kita kenal sebagai “current topic”. Jika current topic itu adalah hari libur, maka kita mengetahui bahwa terdapat berbagai “sub topik” yang dianggap relevan, seperti akomodasi, cuaca, aktivitas dan perjalanan, dan lain-lain. Sub-topik ini dapat diuraikan lagi, misalnya akti¬vitas dapat dibagi ke dalam kegiatan-kegiatan seperti renang, olahraga, belanja, dan sebagainya. Dari pembahasan ini tampak jelas bah¬wa tidak ada kemungkinan untuk menggabungkan semua struktur menjadi sebuah struktur, dan semua struktur wacana itu merupakan perpaduan norma kompleks yang khusus bagi ujaran dan pengetahuan umum tentang dunia. Oleh karena itu, penelitian atau kajian tentang struktur wacana harus bersifat interdisipliner.

D. Tugas
Setelah mempelajari rangkuman materi di atas, Anda kerjakan tugas-tugas berikut ini!
1. Carilah dua buah buku di perpustakaan di sekitar tempat tinggalmu yang menjelaskan sifat sosial ujaran, fungsi ujaran, ujaran sebagai keterampilan, norma-norma yang mengatur ujaran, dan struktur ujaran!
2. Catat hasil pekerjaanmu dan diskusikan dengan teman sejawat yang terdekat!
3. Berdasarkan diskusi, simpulkanlah hasilnya dan kirimkan ke Dosen pengampu matakuliah sosiolingustik!

A. Tes Formatif
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sifat sosial ujaran!
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan fungsi ujaran dalam berkomunikasi!
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan ujaran sebagai keterampilan!
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan norma-norma yang mengatur ujaran!
5. Berikan contoh jenis-jenis struktur ujaran lisan!

B. Kunci Jawaban
1. Ujaran pada dasarnya bersifat individual, karena untuk menandakan hubungan kekuasaan solidaritas antara pembicara dan lawan bicara.
2. Ujaran berfungsi sebagai kontrol atas aktivitas fisik manusia, menjalin atau mempererat hubungan sosial, untuk memperoleh informasi, untuk mengungkapkan emosi atau perasaan.
3. Ujaran memerlukan usaha dan tingkat keberhasilannya bergantung pada usaha yang dilakukan.
4. Fungsi pengatur kuantitas ujaran yang dihasilkan oleh individu-individu dan pengatur jumlah orang yang berbicara bersamaan dalam satu percakapan.
5. Dalam sebuah wacana terjadi giliran bicara, didasarkan pada topik, dan struktur dunia atau struktur ensiklopedik yang memberikan bentuk.

C. Lembar Kerja
1. Perhatikan ilustrasi gambar kegiatan berdiskusi di bawah ini!

2. Amatilah sebuah kegiatan berdiskusi!
3. Catat hal-hal yang berhubungan dengan struktur ujaran!
4. Diskusikanlah dengan temanb sejawat terdekat!

PENUTUP

Setelah membahas hakikat sosiolinguistik fungsi bahasa dan unsur-unsur bahasa, percampuran ragam bahasa, masyarakat ujaran, dialek dan rigister, register, diglossia, dan jenis-jenis unsur bahasa, ujaran, dan pikiran ujaran sebagai interaksi sosial, fungsi ujaran, ujaran sebagai keterampilan, norma-norma yang mengatur ujaran, dan struktur ujaran, maka Anda telah mempelajari secara lengkap disiplin ilmu Sosiolinguistik dalam bahan ajar perkuliahan ini. Akan tetapi, bahan ajar perkuliahan ini sangat terbatas, terutama menguraikan contoh-contohnya. Jadi, Anda disarankan untuk mencari buku rujukan yang tertera pada Daftar Pustaka.

Disiplin ilmu Sosiolinguistik ini erat kaitannya dengan penggunaan bahasa dalam masyarakat. Jadi, Anda akan lebih peka apabila terus mengamati suatu gejala-gejala bahasa yang terjadi dalam masyarakat bahasa di sekitar tempat tinggal. Dengan demikian, Anda akan lebih memahami apa sesungguhnya bidang garapan disiplin ilmu ini.

Semoga dengan langkah-langkah di atas, Anda menjadi lebih tertatik untuk terus menggali dan menggali hakikat bahasa pada umumnya dan ilmu sosiolingitik pada khususnya.

EVALUASI
1. Jelaskan hubungan sosiolinguistik dengan linguistik dan sosioligi bahasa!
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan ragam bahasa dan faktor timbulnya ragam bahasa tersebut!
3. Jelaskan jenis-jenis ragam bahasa dan berikan contoh-contohnya!
4. Jelaskan hubungan bahasa dengan aspek-aspek budaya lain!
5. Jelaskan hubungan ujaran dengan inferensi dan sosialisasi disertai contoh-contohnya!
6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan fungsi ujaran dalam berkomunikasi!
7. Jelaskan apa yang dimaksud dengan ujaran sebagai keterampilan!
8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan norma-norma yang mengatur ujaran!
9. Jelaskan jenis-jenis ragam bahasa dan berikan contoh-contohnya!
10. Jelaskan apa yang dimaskud dengan masyarakat ujaran!

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.
Chaer, Abdul. 1995. Sosiolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta.

Cohan, Bruce.J. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Gramedia. Pustaka Utama.

Fishman,J. A. 1972. Sociolinguistics Brief Introduction. Massachusetts: Newbury Hause Publisher.

Hudson, RA. 1995. Sosiolinguistik (Terj. Rochayah dan Misbach Djamil). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Koening, Samuel. 1965. Sociology, An Introduction to the Science of Society. New York: Barnes & Noble. Inc.

Labov, W. Sociolinguistic Patterns. Philadelphia The University of Pensylvania Press Inc.

Nababan, P.W.J. 1989. Sosiolinguistik dan Pengajaran Bahasa, di dalam Pelba 2. Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya.

Nababan, P.W.J. 1993. Sosiolinguistik. Jakarta: Gramedia. Pustaka Utama.

Napitupulu, Delvi, dkk. 2003. Sosiolinguistik. FBS Unimed.

Oetomo, Dede. 1987. Linguistik dan Sosiolinguistik: Dua Ancangan terhadap Pengkajian Bahasa Manusia. di dalam: Linguistik Teori & Terapan: Lembaga Bahasa. Unika Atma Jaya.

Pateda, Mansoer. 1990. Sosiolinguistik. Bandung. Angkasa.
Rusyana, Yus. 1988. Perihal Kedwibaha-saan. Jakarta: FPS IKIP Bandung.

Sadtono, E. 1987. Kompetensi Komunikatif: Mau ke mana. di dalam: Linguistik Teori & Terapan. Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya.
Suwito. 1983. Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Kenari: off set. Medan, 14 Maret 2005

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: