Asupriatna’s Weblog

25 1000000Selasa28 2008

PKPBI bagi Anak Tunarungu (bagian 1)

Filed under: Uncategorized — asupriatna @ 00.00

1. Batasan Tunarungu
Tunarungu adalah istilah yang menunjuk pada kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau telinga seorang anak. Kondisi ini menyebabkan mereka mengalami hambatan atau keterbatasan dalam merespon bunyi-bunyi yang ada di sekitarnya. beberapa tingkatan kemampuan mendengar, yaitu ada yang khusus dan umum.
Pada anak yang menderita tunarungu dimana menunjukan suatu kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau telinga seorang anak. Kondisi ini menyebabkan mereka memiliki karakteristik yang khas, berbeda dengan anak normal pada umumnya.
Sementara, menurut Donal F. Moores (dalam Somad dan Tati Hernawati, 1995: 7) tunarungu adalah kehilangan kemampuan mendengar pada tingkat 70 dB atau lebih sehingga ia tidak dapat mengerti pembicaraan orang lain melalui pendengarannya send

Orang kurang dengar adalah seorang yang kehilangan kemampuan mendengar pada tingkat 35 dB sampai 69 dB sehingga ia mengalami kesulitan untuk mengerti pembicaraan orang lain melalui pendengarannya sendiri tanpa atau dengan alat bantu.
Boothyroyd (dalam Abdurahman dan Sudjadi, 1994: 60) membedakan tunarungu dalam dua kelompok, yaitu:
a. kehilangan pendengaran, dan
b. terganggunya proses yang berkaitan dengan pendengaran.
Kehilangan pendengaran adalah terganggunya penangkapan suara yang dapat diukur dengan ukuran desiBell (dB) yang dinyatakan dengan bentuk angka.
Beberapa pengertian di atas menunjukkan bahwa hakikatnya anak tunarungu adalah anak yang mengalami kondisi kekurangan atau kehilangan fungsi pendengaran yang disebabkan oleh kerusakan atau ketidakberfungsian organ-organ pendengaran.
1. Faktor Penyebab Tunarungu
Ada lima faktor yang diidentifikasi sebagai penyebab utama ketunarunguan. Kelima faktor tersebut adalah fator keturunan, faktor ibu yang terkena rubella (maternal rubella), ketidaksesuaian antara darah ibu dan anak (mother – child blood incompatibility), meningitis dan prematuritas. Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai faktor-faktor penyebab ketunarunguan, sebagai berikut:
a. Faktor Keturunan (Heredity)
Istilah ketunarunguan/ketulian yang diturunkan (heredity deafness) adalah nama umum untuk bermacam-macam kondisi, seperti Koningsmark (1969) yang mengidentifikasi 16 macam lebih kehilangan pendengaran yang disebabkan faktor keturunan, yang dibedakan oleh tipe perubahan (transmission) seperti dominant, resesif, dan sex linked; usia terjadinya kelainan yaitu bawaan sejak lahir (congenital), masa remaja dan masa dewasa; berdasarkan tipe kehilangan pendengaran (konduktif dan sensorineural); dan berdasarkan frekuensi nada yang dibuat (ketulian nada rendah, nada sedang, dan nada tinggi).
b. Faktor Ibu yang terkena Rubella (Maternal Rubella)
Maternal rubella diidentifikasi sebagai penyebab terbesar kehilangan pendengaran pada pertengahan tahun 1960 dan diikuti sebagai penyebab utama non genetis untuk anak tunarungu usia sekolah sampai pada tahun 1975.
Rubella adalah penyakit yang disebabkan karena virus yang berbahaya dan sulit didiagnosa secara klinis. Kira-kira 20 % dari perempuan pada masa melahirkan dapat terjangkit Rubella, oleh karena itu harus diperkuat daya tahan tubuhnya melalui imunisasi (Masland, 1978). Jika mereka terserang rubella selama tri semester pertama (3 bulan) kehamilan atau lebih, dapat membunuh atau melumpuhkan janin mereka oleh penyilangan rintangan plasenta yang dapat menyerang janin. Kuman virus dapat membunuh pertumbuhan sel-sel dan menyerang jaringan pada mata, telinga, dan atau organ lainnya.
c. Ketidaksesuaian antara Darah Ibu dan Anak
Walaupun tipe-tipe lain dari ketidakcocokkan darah berhubungan dengan ketunarunguan, misalnya ABO, komplikasi faktor Rh – menunjukkan sebagai penyebab utama pada tipe ini. Kesulitan timbul saat seorang perempuan mempunyai Rh – (ia tidak mempunyai faktor), mempunyai janin dengan Rh +. Sistem pembuangan antibodi pada ibu akan sampai pada sirkulasi janin dan merusak sel-sel Rh + pada janin. Hasilnya diketahui sebagai erythroblastosis fetalis yang dapat mengalahkan sel-sel darah pada janin.
d. Meningitis (Radang Selaput Otak)
Meningitis menyangkut bakteri yang menyerang labyrinth melalui sistem sel-sel udara pada telinga tengah. Best (1963) menerangkan bahwa hampir 28 % meningitis menjadi penyebab tetap untuk ketulian post natal pada populasi usia sekolah. Peristiwa yang sering terjadi menurut Hudgins, Ries, Vernon, (1973) adalah kira-kira 5 – 7 % merupakan refleksi keturunan sebagai hasil dari pengembangan antibiotik dan kemoterapi.
e. Prematuritas
Untuk membuktikan pengaruh premature terhadap ketulian sangat sulit, walaupun demikian premature (berat badan antara 5 pound – 8 ons atau kurang/usia kehamilan kurang) banyak terdapat pada anak tunarungu dibanding anak mendengar, tetapi derajat perbedaannya masih bisa dibantah. Komplikasi dapat terjadi dengan lainnya dan diidentifikasi sebagai penyebab utama. Sebagai contoh pada dataVernon (1973), 45 % dari kasus dan 14 % dari kasus factor Rh –adalah juga premature.
2. Perkembangan Bahasa Anak Dengar dan Anak Tunarungu
Perkembangan bahasa anak tunarungu pada awalnya tidak berbeda dengan perkembangan bahasa anak normal karena bahasa sangat dipengaruhi oleh pendengarannya sehingga perkembangannya terhambat.
Sebelumnya mari kita deskripsikan perkembangan kemampuan mendengar anak dengar dan anak tunarungu di bawah ini.
a. Perkembangan keterampilan mendengar pada anak normal
(0 – 2 bulan); bayi berkomunikasi secara lisan terbatas melalui tangisan karena ada sesuatu yang tidak mengenakan. Misalnya: lapar, haus, buang air besar, dan kecil.
(3 – 6 bulan); tahap meraban keluar suara vokal, konsonan atau gabungan. Mis: aaa …aaa. ma ma ma, da da da. Pada tahap ini bayi akan meraban apabila orang tua mengajak bermain. Orang tua biasanya merespon suara bayinya. Anak merasa senang lalu mengulang-ulang suara yg dibuatnya lagi.
(9 – 14 bulan); anak mulai menghasilkan kata-kata pertama yang dapat dipahami walaupun mungkin hanya orang tuanya dulu, baru lingkungan keluarga. Mis: mamam, cucu. Lama-lama menjadi mama, papa, susu atau kata-kata pendek lainnya
(18- 20 bulan); anak mulai merangkai dua atau tiga kata menjadi kalimat. Pada tahap ini anak sudah bisadi beri pertanyaan.
(3 – 4 tahun); bahasa anak mulai menggunakan struktur bahasa secara sederhana.
(5 tahun); mampu membuat kalimat dengan menggunakan enam kata
(6 – 8 tahun); pengucapan bunyi bahasanya sudah jelas dan normal.
Demikian secara garis besar proses perkembangan bahasa anak normal. Penting untuk diperhatikan dalam perkembangan bahasa adalah usia 6 bulan (meraban) karena awal seseorang untuk belajar bicara dan usia 19-20 bulan karena menentukan untuk dapat berkembang ke tahap selanjutnya.
b. Perkembangan keterampilan mendengar pada anak tunarungu
Pada awalnya perkembangan bahasa ATR tidak berbeda dengan anak normal, pada usia awal bayi akan menangis jika lapar, haus, buang air besar, buang air kecil, atau sakit.
Pada masa meraban ATR membuat bunyi konsonan maupun vokal. Bayi ingin membuat kontak dengan orang lain melalui suara, tetapi karena suara yang dibuatnya tidak dapat didengarnya, begitu pula bayi tidak dapat merespon suara yang dkeluarkan orang tua maupun saudaranya. Akibatnya, ATR kurang termotivasi dan kurang senang untuk bermain dengan bunyi tersebut. Akhirnya perkembangan bahasanya terhenti pada masa meraban ini. Dengan demikian, akibat tadak ada masukkan bunyi suara atau pesan yang diterima oleh ATR maka organ bicaranya tidak terlatih untuk mengungkapkan kata-kata.
Katryn P. Meadow (dalam Salim, 1984: 18) mengungkapkan bahwa perkembangan bahasa anak tunarungu tampak sebagai berikut:
a. Keterbatasan bahasa atau kecakapan bahasa anak dibedakan atas perolehan bahasa dari lingkungan keluarganya, yaitu apakah orang tuanya tunarungu atau mendengar sehingga mempengaruhi penggunaan bahasa untuk berkomunikasi, apakah menggunakan bahasa isyarat atau berbicara.
b. Kecakapan berbahasa lebih banyak menggunakan bahasa isyarat yang dipelajari melalui kontak dengan teman sebayanya dan akhirnya berkembang menjadi bahasa isyarat formal dirinya secara nyata. Bahasa tulisnya menggunakan kalimat yang pendek-pendek.
c. Anak tunarungu mengalami kesulitan dalam menyusun bentuk dan struktur kalimat. Anak tunarungu mengalami keterbatasan dalam mengerti tanda-tanda baca, seperti : kalimat berita, perintah, dan tanya.
d. Kemampuan bahasa tulis, apabila diadakan evaluasi maka kebanyakan dari anak tunarungu tidak memiliki perbendaharaan kata yang cukup untuk kepentingan akademis yang lebih tinggi (dalam Sadjaah, 1995: 48)
Salim (1984: 13) mengungkapkan bahwa pola perkembangan bahasa bicara anak tunarungu adalah sebagai berikut:
a. Pada awal meraban anak tunarungu tidak mengalami hambatan karena merupakan kegiatan alami dari pernafasan dan pita suara. Pada saat akhir meraban mulailah terjadi perbedaan perkembangan. Pada anak normal meraban merupakan kenikmatan karena anak dapat mendengar suara yang dikeluarkannya. Pada anak tunarungu hal tersebut tidak terjadi. Dengan demikian, meraban sebagai awal perkembangan bicara berhenti.
b. Pada masa meniru anak tunarungu terbatas pada peniruan visual, yaitu gerak dan isyarat, karena itu ada yang berpendapat bahwa bahasa isyarat merupakan bahasa ibu anak tunarungu sedangkan bahsa bicara merupakan hal yang asing baginya.
c. Perkembangan bahasa-bicara selanjutnya pada anak tunarungu memerlukan pembinaaan secara khusus dan intensif, sesuai dengan taraf ketunarunguannya dan kemampuan-kemampuan yang lain.
H.R. Myklebus (dalam Somad 1995: 138-141) mengungkapkan pemerolehan bahasa anak tunarungu tidak berbeda dengan anak normal.
Pemerolehan bahasa anak normal berawal dari adanya pengalaman atau situasi bersama antara bayi dengan ibunya dan orang yang ada di sekitarnya. Anak tidak diajarkan kata-kata kemudian diberitahukan artinya, melainkan melalui pengalamannya ia belajar menghubungkannya antara pengalaman dan lambang bahasa yang diperoleh melalui pendengarannya.
Proses ini merupakan dasar dari berkembangnya bahasa batin (inner language). Setelah itu, anak mulai memahami hubungan antara lambang bahasa dengan benda atau kejadian yang dialaminya dan terbentuklah bahasa reseptif anak. Setelah bahasa reseptif mulai terbentuk, anak mulai mengungkapkan diri melalui kata-kata sebagai awal kemampuan bahasa ekspresif.
Semua kemampuan ini berkembang melalui pendengaran. Setelah anak memasuki usia sekolah, penglihatan berperan dalam perkembangan bahasanya, yaitu kemampuan membaca (bahasa reseptif melalui penglihatan) dan menulis bahasa ekspresif (melalui penglihatan). Perolehan bahasa pada anak tunarungu dimulai dari pengalaman melalui penglihatan dengan membaca ujaran.
Memahami ujaran ini sebagai unsur atau dasar dari bahasa batinnya. Jadi, bahasa batin anak tunarungu terdiri dari kata-kata sebagaimana tampil pada gerak dan corak bibir sebagai pengganti bunyi bahasa berupa vokal, konsonan, dan intonasi pada anak mendengar. Seperti anak mendengar, pada anak tunarungu kemampuan bahasa reseptif (bicara) baru dapat dituntut setelah terjadi perkembangan bahasa reseptif yang berkembang lebih dahulu.
Oleh karena itu, pengalaman atau situasi bersama dengan orang tua khususnya ibu merupakan persyaratan pertama untuk pengembangan bahasa anak. Dapat dikatakan bahwa masukan bahasa dalam jumlah besar merupakan suatu prasyarat sebelum anak tunarungu dituntut mengekspresikan diri melalui bicara (Bunawan dan Cicilia Susila Yuwati, 2000: 4).
Besar atau kecilnya hambatan perkembangan bahasa dan ujaran anak tunarungu tergantung pada karakteristik kehilangan pendengarannya. Hambatan tersebut dapat mengakibatkan kesulitan dalam belajar di sekolah dan dalam berkomunikasi dengan orang yang dapat mendengar/berbicara sehingga berdampak pada perkembangan sosial dan keragaman pengalamannya.
Ini karena sebagian besar perkembangan sosial masyarakat didasarkan atas komunikasi lisan, begitu pula perkembangan komunikasi itu sendiri, sehingga gangguan dalam proses ini (seperti terjadinya gangguan pendengaran), akan menimbulkan masalah.
Telah dikemukakan di atas bahwa dalam banyak hal dampak yang paling serius dari ketunarunguan yang terjadi pada masa prabahasa terhadap perkembangan individu adalah dalam perkembangan bahasa lisan, dan akibatnya dalam kemampuannya untuk belajar secara normal di sekolah yang sebagian besar didasarkan atas pembicaraan guru, membaca dan menulis.
Seberapa besar masalah yang dihadapi dalam mengakses bahasa itu bervariasi dari individu ke individu. Ini tergantung pada parameter ketunarunguannya, lingkungan auditer, dan karakteristik pribadi masing-masing anak, tetapi ketunarunguan ringan pada umumnya menimbulkan lebih sedikit masalah daripada ketunarunguan berat.
Banyak penelitian yang telah dilakukan tentang keterpahaman ujaran anak tunarungu pada berbagai tingkatan ketunarunguannya. Keterpahaman ujaran individu tunarungu bervariasi dari hampir normal hingga tak dapat dipahami sama sekali, kecuali oleh mereka yang mengenalnya dengan baik.
Hasil penelitian yang terkenal adalah yang dilakukan oleh Hudgins dan Numbers (1942), yang menganalisis ujaran 192 anak tunarungu berat dan berat sekali. Mereka menemukan bahwa kekurangan dalam ujaran anak-anak ini adalah dalam hal ritme dan pemenggalan frasa, suaranya agak monoton dan tidak ekspresif, dan tidak dapat menghasilkan warna suara yang alami.
Mereka juga menemukan bermacam-macam kesalahan artikulasi pada bunyi-bunyi ujaran tertentu (kesalahan artikulasi vokal biasanya lebih sering daripada konsonan). Hudgins dan Numbers menemukan bahwa kurang dapat dipahaminya ujaran individu tunarungu itu lebih banyak diakibatkan oleh tidak normalnya ritme dan pemenggalan frasa daripada karena kesalahan artikulasi.

iri, tanpa menggunakan alat bantu mendengar.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: